Kenangan Kota Seribu Sungai (2)


Oleh Ustadz Arafat
(Penulis Buku Best Seller  dan Trainer Hijrah Rezeki)


HAJIMAKBUL.COM - Tak habis-habis rasa takjub kepada orang-orang hebat yang saya temui kemarin di Banjarmasin. Terutama seorang ibu yang berusia enam puluh tahun, namun masih demikian bersemangat menghadiri majelis ilmu.

Mungkin kehadiran beliau adalah teguran halus yang Allah tujukan kepada saya. Betapa di usia yang jauh lebih muda saat ini, saya tidak pandai dalam memanfaatkannya untuk hal-hal yang diridhai Allah. Sungguh saya ini belum mensyukuri nikmat usia yang Allah berikan. 

Rasa malu saya rasakan juga saat mengetahui ada beberapa saudara yang harus menempuh perjalanan darat selama sepuluh jam, untuk dapat hadir dan saling belajar. 

Jika keteguhan iman sudah di hati, maka jauhnya jarak akan terasa dekat, dan lamanya waktu akan menjadi sebentar. Alangkah rapuhnya hati saya ini dibandingkan mereka. 

Teramat banyak nikmat yang Allah titipkan pada saya, namun belum juga bisa membuat saya bersyukur dan pergunakan untuk sebesar-besarnya ketaatan kepada Allah. 

Pantas saja jika Allah terkadang mengingatkan hamba-Nya dengan sedikit ujian, semata agar sang hamba mau kembali ingat kepada-Nya. Bukan apa-apa, orang seperti kita ini ketika diberi nikmat justru lupa bersyukur kepada Yang Memberi.

Bayangkan suasana di sebuah pekerjaan konstruksi yang sedang membangun gedung sepuluh lantai. Terlihatlah dari lantai paling tinggi seorang kepala proyek memanggil-manggil pekerja yang sedang berada di dasar gedung. 

Karena hiruk pikuk yang ramai, suara panggilan itu tak terdengar. Sang kepala proyek lantas mendapat ide untuk melemparkan selembar uang agar mendarat dekat dengan pekerja yang ia panggil. 

Rupanya begitu uang itu terjatuh di sebelah kakinya, si pekerja hanya memungutnya dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Ia sama sekali tak terpanggil rasa penasaran dari mana uang itu datang. Maka untuk kedua kalinya, uang dilemparkan kembali. Kali ini pecahan yang lebih besar. 

Lagi-lagi uang itu hanya dikantongi saja oleh si pekerja, lalu ia larut kembali dengan pekerjaannya. Melihat cara ini tak berhasil, kini sebutir batu kecil yang dilempar sang kepala proyek. 

Batu kecil itu mengenai kepalanya, dan membuat si pekerja lantas menoleh ke atas di mana arah sumber batu itu berasal. Begitulah akhirnya si pekerja menyadari ia dipanggil oleh atasannya, justru setelah batu yang ia terima. 

Pekerja itu laksana kita dalam kehidupan ini. Terus menerus Allah menurunkan nikmat pada kita, namun kita belum mengingat-Nya. Belum pula kita bersyukur kepada-Nya. Alangkah anehnya kita menerima nikmat, tetapi tidak terpanggil hati ini untuk menoleh kepada Sang Pemberi nikmat tersebut. 

Barulah setelah kita menerima musibah, maka kita teringat untuk menghadap kepada-Nya. Rupanya musibah terkadang bentuk kasih sayang Allah agar kita mengingat-Nya. Inilah yang dimaksud dalam akhir ayat 41 surat Ar-Rum, 

لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."

Dan disebut pula dalam akhir ayat 156 surat Al-Baqarah, 

وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Sesungguhnya kepada-Nyalah kita akan kembali."

Semoga pertemuan dengan seluruh teman dan guru saya kemarin, membuahkan kesadaran pada diri ini agar senantiasa bersyukur atas nikmat usia, nikmat kesehatan, nikmat waktu luang dan aneka pemberian Allah yang lain. 

Salam Hijrah. 
⏰ Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kenangan Kota Seribu Sungai (2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel