Berdoa di Multazam Minta Restu Poligami, Bolehkah?

foto: nu online

HAJIMAKBUL.COM - Al Quran berisi kisah-kisah kebaikan dan keburukan umat manusia terdahulu yang bisa menjadi pelajaran bagi umat di masa mendatang. Ajaran baik dan buruk itu semua untuk asupan gizi ruhaniyah manusia.

Sebagian orang menganggap ibadah haji dan umrah adalah cermin bagi diri jamaah yang bersangkutan. Bila selama hidupnya suka berbuat tidak baik, dia akan bercermin di Tanah Suci untuk melihat apa saja yang pernah dia perbuat selama hidupnya di masa lampau. Semacam napak tilas. Seperti adegan flash back dalam cerita film. Tentu tidak sama persis adegannya. Tapi seperti link dalam program komputer online, file masa lalu yang gelap maupun yang terang akan tersambung lagi. File-file di memori kita akan seperti ditampilkan lagi.

Bila sekarang ada istilah big data, sesungguhnya big data itu sudah ditunjukkan Allah SWT dalam diri manusia yang mampu menyimpan bertriliun giga byte data. Tentu tergantung kapasitas manusia. Yang tidak mampu, itulah mereka yang hang, hingga gila dan naudzubilla mindzaliq, ada yang sampai bunuh diri. Karena itu, big data dalam diri kita harus dikelola dengan baik. Harus berisi file yang tahan virus.

Untuk itulah jamaah haji sepulang dari Tanah Suci suka cerita indah. Yang seolah baik-baik. Menunjukkan tingkatan takwa, iman, dan kebaikan mereka. Padahal, mungkin banyak pula yang mengalami kejadian buruk tapi tidak mau menceritakannya.

Misalnya ada koruptor berhaji, lalu pulang kembali ke tanah air, pasti dia cerita yang baik-baik. Bisa ibadah dengan khusyuk, bisa berdoa di tempat mustajabah seperti di Raudah, Hijir Ismail dan talang emas, Multazam, dan lain-lain. Lalu apa yang mendengar percaya? Semoga saja tak ada suudzon. Tapi seringkali ditanggapi sinis.

Namun, ada juga jamaah haji yang jujur. Misalnya teman saya. Dia merasa selama ini telah selingkuh. Namun dia bersumpah hanya mencintai wanita itu. Perempuan lain. Bukan istrinya. Cinta mati. Hidupnya pasti hancur tanpa dia. Namun dia juga cinta istrinya. Dilema kan? Poligami? Ah, gak berani sebab gaji pas-pasan dan istrinya super galak.

Nah, saat ibadah haji berdua dengan istrinya, dia sangat senang bila berhasil, misalnya membawa dia untuk mencium Hajar Aswad.

"Aku hadang orangorang hitam bertubuh besar itu, agar permaisuriku bisa mencium Hajar Aswad. Alhamdulillah, bisa," katanya. Namun yang unik adalah dirinya sendiri. Ketika berdoa di tempat mustajabah, mengapa yang muncul di pikiran justru perempuan selingkuhannya itu?

"Mengapa? Apa Tuhan menggoda aku? Apa itu setan? Saya membenci diriku sendiri ketika menganggap selingkuhanku yang muncul dalam doa itu sebagai setan. Apa yang terjadi pada diruku teman? Apa itu dosa-dosaku?" katanya sedih.

Si teman ini blak-blakan mengaku selingkuh. Harus digarisbawahi, kata dia, selingkuh tidak identik sama sebangun dengan zina. "Aku orang hina kalau zina. Aku mencintai dia karena memang aku cinta. Dan cinta itu dari Allah bukan? Apa ini yang namanya cinta terlarang? Tapi aku tidak pernah zina--meski aku bisa saja melakukannya. Aku menghormati dia karena cinta. Lebih dari itu karena Allah. Mungkin Allah menghukum aku dengan cinta. Orang boleh mengatakan selingkuh, tapi aku cinta kepada dia."

Waduh, cinta mati, ini yang saya sebut cinta platonis. Cinta yang tumbuh karena cinta itu sendiri. Bukan karena misalnya kecantikan, sex appeal, dan lain-lain yang profan. Tapi itu mungkin. Saya tidak tahu banyak soal cinta. Yang jelas, cinta itu dia bawa ke Tanah Suci, sebab cinta sejatinya juga suci. Bila cinta yang dia bawa keburukan yang terjadi perselingkuhan. Banyak istighfar agar cinta yang suci itu tidak terkena limbah selingkuh. Banyak berdzikir agar ada solusi atas masalah cinta terlarang ini. Agar Tuhan memberi jalan keluar. Bukan jalan buntu. Berdoa di multazam dengan sungguh-sungguh. Menangislah bila perlu. Akui segala dosa-dosa sebab telah membungkus selingkuh dengan cinta atau sebaliknya mengotori cinta dengan limbah selingkuh.

"Terus apa yang harus aku lakukan?"

"Menikahlah!"
"Waduh, gak berani bilang istri aku masbro? Bisa dipotong burung kutilangku ini..."

"Hahaha....poligami tidak dilarang agama. Ajak istrimu umroh, lalu berdoalah di tempat mustajabah agar diberi solusi oleh Allah."

"Insya Allah tahun depan aku umroh. Doakan ya..."

"Doa yang mana...?"

"Lha yang tadi itu...."

"Oke, tapi aku juga doakan lo ya?"

"Doa yang mana lagi?"

"Yaaa....yang tadi...."

(gatot susanto)




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Berdoa di Multazam Minta Restu Poligami, Bolehkah?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel