Inspirasi Pak Moh. Nuh saat Umrah (2)



Saat hendak membuat keputusan besar, apalagi yang berdampak secara nasional, seseorang selalu minta petunjuk kepada Allah SWT. Dengan berdoa. Dengan salat dan zikir. Dan tempat paling mustajabah adalah di Kota Suci Makkah dan Madinah, saat berhaji atau umrah. Saat menjabat Rektor ITS dan Mendikbud, Prof. Moh. Nuh memilih jalan ini. Termasuk kala melahirkan Kurikulun 2013. Berikut tulisan Adriono--salah satu penulis buku biografi Mohammad NUH, Menguatkan Mata Rantai Terlemah, yang baru saja terbit.


HAJIMAKBUL.COM -  Al Baqarah 129 berisi doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berharap agar Allah mengutus seorang Rasul yang  tilawah, ta’alim, dan tazkiyah. Ternyata doa tidak langsung mendapat jawaban, tetapi diselingi sekitar 23 ayat-ayat berikutnya. Baru pada ayat ke 151 terjawab: Kamaaa arsalnaa fiikum rosuulan mingkum yatluu.... 

"Itulah jawaban dari Allah SWT. Maka  ‘yatluu’ itu hendaknya jangan dijawab sendiri tetapi memakai jawaban Allah. Begitu selesai membaca ayat itu, keyakinan saya muncul. Ya, inilah konsep pendidikan dalam islam itu,” kata Mohammad Nuh dengan mantap. 

Dijabarkan, pertanyaan Nabi Ibrahim itu dikabulkan oleh Allah setelah melewati masa 2.500 tahun dengan menurunkan Nabi Muhammad SAW. Menariknya, urutan jawaban dari Allah SWT berbeda. Bila urutan permintaan dari Nabi Ibrahim adalah tilawah - ta’alim - tazkiyah, maka urutan jawaban Allah di Al Baqarah 151 adalah tazkiyah - tilawah -  ta’alim.

“Di situlah saya meyakini bahwa  konsep pendidikan itu yang pertama adalah tazkiyah. Menata hati. Atau dalam bahasa modern attitude. Sebab sumber perilaku adalah attitude. Kemudian disusul tilawah yang artinya kemampuan membaca ayat-ayat Allah, membaca fenomena alam. Itulah skill, keterampilan membaca fenomena alam. Terus ada yang namanya ta’alim yang berarti knowledge.” 

Ceramah di Depan SBY

Kisah pun berlanjut. Pada tahun 2006 dirinya mendapat tugas dari Menteri Agama Maftuh Basuni, sebagai pengisi ceramah dalam acara Nuzulul Quran tingkat Nasional di Pamekasan, Madura. Dulu acara-acara nasional memang dikelilingkan di daerah-daerah. Hadir dalam acara tersebut, Presiden SBY. Dalam ceramahnya Nuh mengangkat konsep tazkiyah - tilawah -  ta’alim. Itulah pengalamannya berceramah di depan Presiden dan pulangnya mendapat sangat sangu gede. 

Waktu berlalu. Perkembangan selanjutnya hubungan ITS dengan pusat terjalin dengan baik. Indikasinya Rektor Nuh sering diajak kunjungan ke luar negeri oleh Presiden SBY, tentu saja bersama beberapa rektor perguruan tinggi lain. Boleh jadi diam-diam Presiden merasa cocok dan jatuh hati kepada sosok Nuh, hingga akhirnya pada tahun 2007 diajak bergabung ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika.

Ketika hendak menjabat untuk periode ke-2, dalam sebuah acara di Pacitan, Presiden SBY sempat membisiki: “Pak Nuh nanti gabung lagi dengan saya, ya.”  Nuh mengangguk mengiyakan. Tetapi dia tidak tahu akan dipasang pada kementerian bidang apa. 

Ketika menyaksikan proses penggodogan nama-nama menteri, Nuh menjadi paham betapa rumitnya menyusun sebuah kabinet. Berbagai pertimbangan mewarnai, mulai dari pertimbangan partai pengusung, kompetensi, pertimbangan suku, daerah dan banyak lagi. Maka dari itu wajar jika terjadi reshuffle beberapa kali di sebuah kabinet.

Dari kabar yang beredar menyebut, “kartu” Nuh relatif fleksibel dan mudah ditempatkan. Dia bisa dipasang di beberapa pos, misalnya menjadi Menkominfo karena sudah pernah menjabat di pos itu, menjadi Menristek juga memenuhi syarat, menjadi Mendikbud juga layak karena pernah menjadi rektor.  Dan Menteri Agama juga boleh. Yang sulit adalah jika seseorang calon harus berada di satu bidang, padahal kandidat calonnya tidak sedikit. 

Setelah proses pembahasan dan penyusunan kabinet dinyatakan rampung, Hatta Rajasa, memberitahu: “Pak Nuh di Pendidikan ya.” Nuh menyatakan siap dan pada saat itu juga langsung berucap dalam hati: “Inilah saatnya menerapkan tazkiyah - tilawah -  ta’alim.”

Kemudian kita mengetahui Mendikbud Nuh meluncurkan Kurikulum 2013. Sebuah kurikulum berbasis kompetensi yang memberi perhatian memadai kepada aspek attitude, di samping aspek knowlegde dan skill. 

Sebelumnya, pada tahun 2010 Kemendikbud melemparkan konsep Pendidikan Karakter.  Masyarakat merespons dengan antusias karena saat itu kerusakan perilaku dan moral menjadi keprihatinan bersama. Diselenggarakan berbagai seminar dan semiloka dengan mengundang tokoh dan kalangan yang peduli dengan dunia pendidikan.

Tetapi pada akhirnya orang dihadapkan kepada kesadaran bahwa karakter itu hanyalah satu sumbu. Masih ada aspek yang juga perlu mendapat perhatian yaitu attitude, skill, dan knowledge. Maka sejak 2011 disiapkan kurikulum baru, lalu diuji publik, hingga akhirnya K-13 siap dilaksanakan secara bertahap di seluruh Nusantara. (Adriono)

CATATAN UNTUK TERJEMAHAN DUA AYAT DI ATAS:

(10) Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqarah ayat 129).

(11) Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al Quran) dan Hikmah (sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui (Al Baqarah 151).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Inspirasi Pak Moh. Nuh saat Umrah (2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel