Novel Religi: Ghost Writer (Bab II, Mencari Guru Sejati)



"Di sini jangan percaya dengan apa yang hanya dilihat oleh mata." 





RAHARDIAN sangat kaget. Matanya terbelak melihat sosok di depannya. sosok itu bukan menyeramkan. Bukan siluman, jin, atau genderuwo yang umumnya menjadi penghuni hutan. Wajah sosok itu pun tidak menyeringai bengis hendak memangsanya. 

Sosok itu justru tersenyum sangat manis. Tubuhnya gagah. Tingginya sama dengan tinggi Rahardian. Kulitnya halus. Baju koko yang dikenakan itu!? Warna putihnya yang juga lusuh kusam itu? Sumua seperti yang dia kenakan. 

Yang membuatnya semakin limbung, wajah sosok itu sangat mirip dengannya. Hampir saja Rahardian jatuh karena sangat syok dengan apa yang dia lihat di depan matanya. Sempat terlintas di pikiran apa pria ini kembarannya? Mengapa dia dipertemukan dengan saudara kembarnya di hutan ini? 





Namun pria itu buru-buru menyapa. Mengucap salam dengan suara yang juga sangat lembut.

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

Agak lama Rahardian terdiam, tidak menjawab, tenggelam dalam keheranan. Suasana hening. Angin semilir tidak kunjung mengembalikan kesadarannya dari rasa syok tersebut. Begitu pula suara binatang yang mulai mengalunkan simfoni bersaut-sautan dari pohon satu ke pohon lain ketika malam datang menjelang. Seakan mereka melantunkan musik penyambutan. Lagu selamat datang di kedamaian hutan. 

Rahardian baru tersadar ketika pria itu mengulang kembali salamnya. 

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..."

"Ah, iya, maaf...!" Pemuda itu gugup. "Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh..." 

Rahardian menyambut tangan pria itu.

"Mas ini mau ke mana? Hari hampir memasuki malam kok masuk hutan sendirian?"

"Maaf, saya tadi mengejar seseorang tapi tiba-tiba dia hilang!" Rahardian menjawab dengan masih berwajah gugup.

Pria itu tersenyum.

"Saya tadi ingin bertanya, apa kami satu arah jalan sehingga bisa bersama-sama dalam perjalanan. Tapi dia mungkin memilih jalan pintas, masuk hutan hingga saya kehilangan jejak."

"Iya, tidak usah dicari. Mungkin orang itu sudah jauh," kata pria itu, lagi-lagi dengan tersenyum. "Di sini, jangan percaya dengan apa yang dilihat hanya dengan mata." Dia menambahkan. Rahardian mengangguk.

"Tujuan Mas ke mana?"

"Saya ingin ke pondok Ustad Khodir!"

"Ooo, kalau gitu kita satu tujuan. Apa Mas mau jalan bareng sama saya ke sana...?"

Rahardian mengangguk. Belum sempat mengucapkan kata "ya" orang yang mirip dirinya itu sudah lima langkah di depannya dengan jalan yang cukup cepat. Rahardian terpaksa harus lari mengejarnya. Tubuh orang itu sangat ringan bagai kapas. Kadang tenggelam dalam lautan hitam yang digelorakan gelap malam. Sinar rembulan pun tidak mampu menyibaknya untuk memberi jalan bagi Rahardian mengejar pria itu. Begitu pekat. 





Kabut yang juga berwarna hitam kadang tiba-tiba muncul mengepungnya. Tapi pemuda ini tidak takut. Dia hanya ingin mengejar sosok aneh yang wajah dan postur tubuhnya nyaris sama dengan dirinya. Seakan ada dua Rahardian sedang memasuki hutan menempuh perjalanan menuju titik yang sama.

Tiba-tiba Rahardian teringat kata-kata orang itu. Di sini jangan percaya dengan apa yang hanya dilihat mata. 

"Lalu aku harus percaya kepada siapa?" katanya dalam hati. Dia kaget saat mendengar suara orang itu menjawab,"Buka mata batinmu! Dan lihat kesejatian yang ada di depanmu!" Suara orang itu terdengar berbisik di telinganya. Namun, sosoknya sama sekali tidak terlihat.

Rahardian kemudian berjalan dengan memejamkan mata. Tertatih. Maklum belum terlatih. Namun hatinya semakin mantap. 





"Jangan seperti si buta. Berjalanlah seperti biasa dan apa adanya!" Suara orang itu seperti membimbingnya. Dia pun ikhlas mengikuti petunjuknya.

Rahardian pun berjalan seperti biasa. Tubuhnya pun terasa ringan. Semakin lama semakin terasa melayang. Dengan mata terpejam, dia kemudian melihat orang itu. Semula seperti yang baru saja dilihat pertama kalinya tadi. Wajah yang mirip dirinya. Kemudian dia lihat lagi dengan seksama, sesekali wajahnya mirip Abahnya? Rahardian penasaran. Dia mempercepat langkah hingga semakin mendekati orang itu.

Namun tiba-tiba tabir hitam yang menyelimutinya raib. Lenyap. Seperti terkelupas. Tabirnya terbuka lebar. Dia bersama sosok itu seperti memasuki dunia lain. Bukan lagi belantara yang menghitam. 

Tiba-tiba keduanya berada di bagian depan sebuah gedung yang gemerlapan dengan suara ingar bingar. Rahardian pun bertanya-tanya dalam hati. Gedung apa ini? Dia terus saja membuntuti pria itu memasuki ruangan besar dengan suara musik cadas yang mendentam-dentam. Pria itu kemudian menghampiri meja besar melingkar yang dikelilingi orang-orang yang memegang gelas berisi minuman. Asap rokok memenuhi ruangan. Pekat. Sepekat suasana di belantara tadi.





Yang membuat Rahardian semakin heran, hampir semua orang hormat kepada pria itu. Dia lihat pula di atas panggung seorang perempuan menari dengan begitu antusias hingga sejumlah bagian tubuhnya terbuka. Pakaiannya compang-camping. 

Merasa dirinya salah jalan, Rahardian pun bergegas menghampiri pria mirip dirinya dan abahnya itu?

"Apa kita tidak salah tujuan, Pak?"

"Apa mas tahu jalan ke pondoknya Ustad Khodir?"

Rahardian menggeleng. Pria itu menyunggingkan senyum sambil menepuk pundak Rahardian.

"Ikuti saya saja! Jangan bertanya, kecuali saya tanya, ya!" Rahardian mengangguk. Dia merasa aneh. Mengapa dia selalu menuruti apa yang dikatakan orang itu. Tidak membantah. Tapi apa daya. Dia memang tidak tahu jalan menuju ke pondok ustad Khodir.




"Kamu lihat perempuan yang duduk di sana?" 
Telunjuk orang itu mengarah pada sosok wanita muda cantik yang duduk termenung di pinggir panggung yang remang-remang. Bajunya nyaris terbuka, hingga Rahardian harus memalingkan wajah, sebab tidak mampu menahan tamparan silaunya.

"Dia seorang artis. Perempuan itu yang dituduh terlibat prostitusi online. Dia ditangkap di kamar hotel. Aibnya diumbar oleh polisi di media massa. Kasihan! Masa depannya habis." 

Orang itu bercerita, tapi Rahardian tidak tahu apa yang diceritakannya. Apa pula itu prostitusi online?
"Kalau saya meminta kamu menikahinya, apa kamu bersedia!?"

Rahardian tersentak. Namun dia tidak menunjukkan ekspresi kaget kepada pria yang menyeretnya memasuki "dunia lain" tersebut. 

"Kalau memang njenengan meminta. Dan kalau memang Allah SWT menjodohkan kami, tentu, saya tidak bisa menolak."





Jawaban yang membuat orang itu sedikit kaget, lalu tersenyum mengangguk-angguk, sambil menatap wajah Rahardian. Pria ini kagum pada keikhlasan Rahardian menghadapi apa yang terjadi kepada dirinya. Dalam dunia pondok pesantren sudah lumrah seorang kiai menjodohkan orang dengan santri putri di pondoknya. Dan biasanya si santri menurut saja apa kata kiai. 

Dalam perkembangannya, tradisi ini ada yang cenderung negatif sebab ada orang yang kebetulan bisa mendirikan gedung, lalu diberi papan nama pondok pesantren, memiliki izin yang mungkin diurus dengan cara-cara tidak halal, dan memiliki santri putri, lalu suka menjodohkan santri putri tersebut dengan tamu pejabat yang datang ke pondoknya. 

Setiap ada pejabat berkunjung ke pondok, dia menawari si pejabat untuk menikahi santri putri, meski sering dilakukan dengan gaya guyonan parikeno. Bercanda tapi benar adanya. Akibatnya terjadi praktik kawin siri yang motifnya bisa jadi masalah keuntungan finansial belaka. 

Pria itu masih menatap Rahardian. Dia tahu pemuda yang bersamanya ini seseorang yang biasa hidup di pondok pesantren. Yang kadang lekat dengan tradisi menikah siri atas kemauan kiai. Bukan jodoh dari illahi.

"Tapi ingat-ingat omongan saya ketika kita pertama bertemu tadi, ya?" kata orang itu.

Rahardian kembali mengingat kata-kata itu. Jangan percaya hanya yang dilihat oleh mata.
(Bersambung)















 
 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel Religi: Ghost Writer (Bab II, Mencari Guru Sejati)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel