Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Novel Religi: Ghost Writer (Bab II)

Thursday, May 9, 2019 | 02:00 WIB Last Updated 2019-05-08T23:53:40Z
Ilustrasi: Pixabay

Bab II

Oposan Sejati bagi Abah





RAHARDIAN  masih memikirkan kata "harus" yang baru saja diucapkan Tadjudin dengan diksi yang kuat tadi. Seolah dia sangat berharap Rahardian menerima tawaran artis yang katanya sangat terkenal itu. Rahardian mencoba menyelami apa yang ada dalam pikiran Tadjudin.

Mungkin ustad yang setia menemani dirinya mengawal tantangan yang diberikan ayahandanya, Ustad Gatot Sontolowo, agar Rahardian  membangun pesantren sendiri mulai dari nol, supaya tahu bagaimana memiliki sesuatu dengan jerih paya sendiri, berihtiar, bekerja keras, membanting tulang sendiri, menerima dengan sabar dicibir orang, diremehkan, bahkan menghadapai ancaman teror dari warga yang tidak suka ada pesantren di daerah yang dikenal sebagai markas kaum abangan itu.

Dulu Ustad Gatot, ayahanda Rahardian, juga membangun pondok pesantren di Diwek dengan memerah keringat sendiri. Mulai dari nol. Sekarang pesantren yang dikelola sang ayah sudah terkenal. Santrinya sudah banyak dari berbagai daerah di tanah air. Bahkan ada yang dari luar negeri. Ayahnya membangun pesantren dengan susah payah. Banyak orang meragukan. Apalagi namanya bukan nama Islami. Ustad Gatot. Namanya ini sering dibuat lelucon oleh warga. Gatot,  jajan pasar, kok mau jadi kiai, begitu orang-orang kampung mengolok-olok ayahnya. Gatot memang nama jajan, alias  penganan yang terbuat dari ketela pohon.





Namun ayahnya tegar. Dia membuktikan bahwa dirinya bisa membangun pesantren yang representatif. Dan usaha itu akhirnya berhasil. Sekarang pesantren itu sudah sering dikunjungi pejabat. Bantuan mengalir dari para pejabat dan politisi. Apalagi di musim politik semacam pilkada, pileg, maupun pilpres. Ayahnya termasuk kiai yang kaya. Rahardian sendiri bisa sekolah di Yaman dengan biaya dari ayahnya sendiri. Bukan dari beasiswa seperti teman-temannya yang lain. Setelah lulus, Rahardian diminta merintis pesantren.

Ayahnya ingin Rahardian melakukan seperti apa yang telah dirintisnya dulu. Rahardian hanya dibekali lahan yang tidak terlalu luas di Bukit Tlekung, Kota Batu, yang diberikan kepadanya untuk dibangun sebuah pesantren. Setelah sekitar 7 tahun, kini sudah berdiri pesantren di lahan yang bertambah luas setelah warga setempat mulai bersimpati kepadanya, lalu membolehkan tanahnya dibeli dengan harga murah. Hanya saja bangunan yang ada, baru masjid dan lima bangunan kelas. Belum ada bangunan untuk para santri bertempat tinggal. Sebagian tidur di masjid atau di kelas. Sebagian lagi mereka tinggal di bangunan yang terbuat dari kayu dan bambu dengan lantai masih disemen. Belum ada yang dikeramik. 

Rahardian dan Tadjudin sering berdiskusi bagaimana caranya agar bisa membangun gedung untuk tempat tinggal para santri.  Tadjudin sering menyarankan agar minta sumbangan ke pejabat, pengusaha, atau teman-temannya tapi Rahardian selalu menolak. Ustad ini belum tahu mengapa dia tidak suka meminta-minta sumbangan. Hanya tidak suka saja. Bahkan saat jumlah santri semakin berkurang, Rahardia bergeming. Para santri tidak betah tinggal di rumah gubuk.
Padahal, jumlah santri sempat membludak. Tapi karena kondisi pesantren terlalu sederhana, mereka akhirnya tidak betah dan memilih tidak melanjutkan mondok di pesantren An Nahdliyah.
"Para santri terus bertambah tapi tempat kita tak bisa menampung Gus," kata Tadjudin.




Rahardian diam. Awalnya dia tidak tahu mengapa banyak santri ingin mondok di pesantrennya, sebab jumlahnya sangat banyak. Bahkan ada yang dari luar provinsi. Sebagai pesantren baru sepertinya tidak masuk akal banyak santri berdatangan ingin belajar agama di pesantren ini.  Tapi kemudian Tadjudin mendapat informasi secara tidak sengaja, bahwa ayahanda Rahardian sengaja mengarahkan santri-santri baru ke pesantren yang dikelola anaknya itu. Tujuannya bukan untuk menyenangkan anaknya tapi justru memberi tantangan. Sebab jumlah pendaftar jelas tidak seimbang dengan daya tampung di pesantren. 

Ustad Gatot ingin menguji anaknya dengan bekerja keras dan cerdas agar bisa membangun gedung yang pantas disebut pesantren. Namun Rahardian tidak menjawab tantangan sang ayah dengan emosional. Dia tetap pada visinya, bahwa pesantren bukan untuk bermegah-megahan. Pesantren adalah tempat santri memperdalam ilmu agama. Bahkan bukan hanya bisa  menyerap ilmu agama saja, tapi yang lebih penting baginya, semua ilmu Allah yang dikuasai para santri harus diterapkan sesuai keinginan Allah, yang Maha Memiliki Ilmu. 

Rahardian sudah tahu banyak orang berilmu tapi tidak menerapkan ilmunya. Banyak orang berilmu tapi mengkhianati ilmunya, menelikungnya, memanfaatkan hanya untuk nafsunya. Abuse of knowledge. Bila ini berkembang, orang yang punya ilmu itu akan melakukan abuse of power. Orang berilmu politik dia akan jadi ahli politik atau politikus, bila orang ini meraih posisi pejabat,  dia akan melakukan tindakan tak terpuji kepada umat. Dhalim. Korup. Manipulatif. Bila dia berilmu agama, suka ceramah ke sana ke mari, dia akan diberi label oleh masyarakat sebagai ustad, kiai, atau ulama. Tapi ustad apa? Kiai macam apa? Ulama model apa?




Rahardian gundah. Dia merasa pikirannya ngelantur bersuudzon kepada banyak orang. Kepada sejumlah ulama. Para politisi. Oknum pejabat. Bahkan kepada ayahandanya yang sekarang sudah berhasil membangun pesantren cukup megah di Diwek. Dia membuat model manusia sempurna ala dirinya sendiri yang jauh berbeda dengan lingkungannya. Karena beda dengan sang ayah pula Rahardian menolak ketika ayahnya meminta agar dirinya melanjutkan kuliah di Kairo atau Australia.

"Saya tidak mau, Abah..." Rahardian biasanya memanggil Gatot dengan panggilan ayah. Gatot memang meminta agar anaknya memanggil Abah saat dirinya bersama santri, walisantri, atau di tempat umum. Apalagi di acara yang dihadiri pejabat. Kecuali di dalam rumah. Tapi lama kelamaan Rahardian terbiasa memanggil ayahnya dengan panggilan Abah. Termasuk saat di dalam rumah. Bahkan saat berdua saja.

"Saya malas, Abah!"

"Kenapa...? Apa karena uang ayah diberi orang lain," ayahnya berkata dengan suara agak keras,"mereka memberi bukan untuk berderma. Sebab belum tentu mereka dermawan. Mobil itu, gedung yang di sana itu, bukan diberi cumacuma. Ini tidak gratis, Dian...Mereka meminta ayah mengkampanyekan dirinya agar terpilih jadi bupati, gubernur, atau presiden. Wajar bila Ayah menerima imbalan..."

"Saya tidak menyalahkan, Abah. Saya hanya ingin belajar dari ulama di sekitar sini saja!"

"Siapa? Apa sudah punya pandangan...?"

"Belum, Abah..."

Ayah Rahardian tampak kesal. "Baik, nanti Ayah carikan guru yang baik untuk kamu. Jangan memilih sembarangan..."

Rahardian tahu guru macam apa yang akan dipilihkan ayahnya. Dan pasti dia akan menolak. Selama ini ayahnya tidak pernah mampu menaklukkan Rahardian yang memang dilahirkan sebagai orang yang keras kepala. Itu bahasa ayahnya. Yang sebenarnya Rahardian hanya ingin memegang prinsip saja. Dia ingin menjalani hidup sesuai pilihannya. Sesuai hati nuraninya.

Sebelum sang ayah menemukan guru untuknya, Rahardian sudah bergerak sendiri mencari guru. Bahkan dia ingin berpacu dengan ayahnya. Dia harus lebih cepat mendapat guru itu.

Maka, Rahardian sudah mencari informasi ke sejumlah temannya, saudaranya, atau orang lain, siapa saja, yang tahu  kiai yang mumpuni untuk menjadi guru baginya. Bukan hanya bertanya, dia juga mendatangi rumah kiai-kiai yang direkomendasi oleh mereka yang berbaik hati memberi informasi dan nasihat dalam memilih guru. 

Dalam pencariannya Rahardian akhirnya terseret oleh rasa hausnya untuk mencari guru terbaik. Dia pun mendatangi sebuah gunung setelah mendapat sebuah nama seorang ustad. Bukan kiai. Namanya Ustad Khodir. (Bersambung)




×
Berita Terbaru Update