Cadar, Masker, dan Islamofobia


Dr Hayati Syafri (foto: republika.co.id)

HAJIMAKBUL.COM - Dunia masih dicekam virus Islamofobia. Ketakutan berlebihan terhadap orang Islam yang dicap berhaluan keras. Radikal. Teroris. Salah satu ciri yang disematkan pada fenomena ini adalag muslimah bercadar. Bahkan, berhijab juga dicurigai, khususnya di dunia Barat.

Yang menyedihkan, di Indonesia--negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia--juga ada gelagat semacam itu. Hijab atau jilbab masih oke. Boleh. Bahkan, sekarang tren. Modis. Menjadi bagian gaya hidup muslimah perkotaan. Para artis rame-rame berjilbab. Meski meriang. Kadang berhijab, kadang dilepas. Sebagian malah kembali ke khittah buka-bukaan, sekwilda bupati, sekitar wilayah dada dan buka paha tinggi-tinggi, naudzubillah. Tapi tidak masalah, asal tidak dicap garis keras dan teroris. Ya, seperti muslimah bercadar.

Seperti beragama, berbusana yang sopan adalah hak warga negara. Namun mengapa cadar dilarang? Khususnya di instansi Pemerintah. Paling akhir dialami dosen mata kuliah Bahasa Inggris di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Hayati Syafri, yang sudah sejak tahun lalu dinonaktifkan dan kini telah resmi dipecat dari Kementerian Agama (Kemenag). Dengan begitu, Hayati tak lagi menyandang status PNS.

Berita pemecatan Hayati dari status Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Agama itu beredar di Facebook. Saat dikoonfirmasi kepada Hayati, dia membenarkan informasi tersebut.

"Benar (sudah diberhentikan dari Kemenag), kalau tidak salah per tanggal 18 Februari," kata Hayati, Sabtu (23/2/2019), seperti dikutip dari laman republika.co.id.

Sebelum surat pemecatan keluar, Hayati pernah didatangi oleh petugas Inspektorat Jenderal Kemenag. Ia merasa Kemenag lebih fokus menggali soal kedisiplinan dan tidak membahas persoalan memakai cadar.

Dalam surat pemecatan itu, Hayati disebut sering meninggalkan tanggung jawab mengajar. Hayati merasa alasan pemecatan ini tidak adil dan menilai Kemenag telah tebang pilih karena yang ia lihat ada banyak dosen yang mengajar juga sembari meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hayati pun tidak sepenuhnya meninggalkan tanggung jawab sebagai pengajar saat menempuh S3 hingga meraih gelar doktor dengan predikat cum laude. Ia mengaku masih menjalankan tugas bimbingan terhadap mahasiswa-mahasiswinya.

Hayati dirumahkan terhitung sejak semester genap tahun akademik 2017-2018 lalu. Ia dianggap melanggar aturan oleh pihak kampus karena tidak mau melepas cadar saat mengajar bahasa Inggris yang dianggap perlu memperlihatkan mimik wajah saat pengucapan kata agar dapat dimengerti dengan jelas oleh mahasiswa.

Walau sudah lama tidak mengajar di kampus, Hayati mengaku tetap mengabdi kepada masyarakat dengan cara lain. Ia bersama rekan-rekannya aktif di jalan dakwah.

Cita-cita Hayati bersama teman-temannya adalah mewujudkan Kota Bukittinggi sebagai kota Alquran dan kota ramah keluarga. Salah satu yang sudah Hayati wujudkan bersama rekan-rekannya adalah mendirikan sanggar Quran di mana ia bertindak sebagai pembina.

"Harapannya ingin menjadikan Bukittinggi sebagai kota Alquran dan kota ramah keluarga," ujar Hayati.

Selain itu, Hayati juga menyibukkan diri dengan kegiatan bengkel akhlak. Di sana, ia sering memberikan penyuluhan seputar tema keluarga islami kepada kelompok-kelompok ibu dan remaja.

Pihak kampus disebut cari-cari alasan saja, sehingga tidak perlu menyinggung masalah cadar lagi, yang memang menjadi isu sensitif di negeri ini. Namun, tidak bisa dipungkiri, kasus ini awalnya dari masalah cadar. Bukan soal tidak kelihatan mulut yang bersangkutan saat mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, melainkan tetap bagian dari isu deradikalisasi di kalangan kampus. Cadar hanya kambing hitam saja.

Di tengah isu cadar, masyarakat juga memiliki kebiasaan baru untuk memakai masker, khususnya di luar ruangan. Banyak sekali dijumpai di jalan-jalan, perkantoran, mal, dan ruang publik lain, para wanita dan pria memakai masker. Alasannya menghindari terpaan debu atau mencegah masuknya virus melalui mulut dan hidung.

Namun, pemakaian masker secara terus menerus, secara esensi sama dengan cadar, apalagi bila masker yang dipakai berwarna hitam. Perempuan berhijab yang memakai masker berwarna hitam pasti terlihat seperti mengenakan cadar. Artinya, cadar--bila mengacu pada fungsi masker--bisa dipakai mencegah debu dan virus, sama persis ketika tradisi cadar lahir di bumi Arab, yang memang kering berdebu. Artinya, mereka yang bercadar harus tetap dihormati selama memang bukan bagian dari apa yang disebut sebagai teroris. (gatot susanto)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cadar, Masker, dan Islamofobia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel