Berebut Mencium Hajar Aswad



HAJAR ASWAD menjadi tempat yang sangat dirindukan oleh jamaah haji maupun umroh. Batu suci ini menjadi rebutan para jamaah usai Thawaf--ritual haji umroh mengelilingi Kakbah tujuh kali putaran.


Saat umroh pada 24 Januari 2017 lalu saya tidak begitu memperhatikan penjelasan dari muthowif soal Thawaf dalam kaitan perjuangan mencium Hajar Aswad, sehingga saya melakukan improvisasi sendiri yang akhirnya salah. Saat itu saya baru dua kali melakukan putaran.


Saat melihat di sekitar Hajar Aswad lengang, saya pun berusaha merapat ke dinding Kakbah, mengambil ancan-ancang untuk bergerak bersama ribuan orang mendekati batu mulia tersebut. Saya pegang dinding Kakbah sambil berdoa, meminta ampunan atas dosa-dosa saya dan orang-orang tercinta, meminta kepada Allah SWT agar diberi kelancaran dalam ibadah umroh dan keselamatan, sekaligus, tentu saja, agar diberi kesempatan untuk mencium Hajar Aswad.


Banyak jamaah juga memegang dinding Kakbah sambil berdoa, sebagian malah terlihat histeris. Sambil berdoa saya bergerak sedikit demi sedikit geser ke kanan, tapi arus manusia yang begitu banyak seolah seolah membetot tubuh saya mendekati Hajar Aswad, tapi kemudian terjadi tsunami yang begitu besar, hingga saya terpental, keluar dari pusaran arus menuju muara yang jadi kerinduan para jamaah itu.


Saya gagal. Saya melanjutkan thawaf. Sambil terus membaca doa-doa melanjutkan langkah thawaf, saya lihat pada titik kerinduan Hajar Aswad itu, orang-orang memanjat dinding Kakbah. Konon itu salah satu cara agar otomatis terseret arus manusia untuk menuju muara. Tapi sama dengan saya, banyak juga yang terpental sebab pusaran di muara itu sangat dahsyat.

Seorang askar yang berjaga dengan posisi berdiri di dinding Kakbah, sambil berpegangan pada tali, kadang menghalau jamaah yang dicekam histeria, dan bersikap kasar pada jamaah lain. Dalam hati saya bertanya kepada Allah SWT, begitu rindu umatmu ya Allah pada Hajar Aswad, hingga sangat histeris, berdorong-dorongan, yang saya yakin tanpa kebesaran, kekuasaan, dan keagunganMu, pasti mereka akan terjatuh, lalu terinjak-injak dan mati.


Sebentuk kerinduan yang datang dari ribuan bahkan jutaan umat, dan akhirnya tertumpah pada satu titik kecil, hingga mustahil bila tanpa kuasaMu akan berjalan aman. Itulah ibadah haji. Itulah ibadah umroh, yang keberadaannya dijaga oleh Allah SWT.

Sempat terbayang kerumunan massa yang melakukan demonstrasi, ada yang sampai rusuh, dan memakan korban. Terlintas pula pertunjukkan musik, apalagi dangdut, yang jumlah penontonnya tak seberapa banyak, tapi sering diwarnai tawuran yang lagi lagi memakan korban.


Tapi, ah...mana mungkin dua peristiwa itu bisa dibandingkan? Yang pasti jutaan umat yang berhaji dan umroh sengaja dihamparkan setiap saat kepada kita sebagai pelajaran, bahwa Allah SWT melindungi umatnya dengan sistem keilahian yang maha canggih, yang harus kita ambil hikmahya.
 *

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Berebut Mencium Hajar Aswad"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel