Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Arab Saudi Buka Umrah Lagi Sejak Tahun Baru, Jamaah RI Tunggu Lobi Menteri Agama

Thursday, August 12, 2021 | August 12, 2021 WIB Last Updated 2021-08-12T14:41:32Z

 


HAJIMAKBUL.COM - Pemerintah Arab Saudi sudah membuka kembali jamaah luar negeri untuk berumrah ke Tanah Suci sejak awal tahun baru 1 Muharram 1443 Hijriyah atau 9 Agustus 2021. Hari-hari ini kota suci Makkah dan Madinah pun sudah mulai kedatangan jamaah umrah dari berbagai negara. Jamaah pertama datang dari Libya, Aljazair, dan Irak, serta disusul dari negara lain.


Namun, belum ada jamaah umrah dari Indonesia sebab negeri kerajaan itu masih memblokir penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya, atau kota lain  ke Arab Saudi mengingat masih tingginya kasus Covid-19 di Indonesia. Bila orang Indonesia ingin berumrah, harus lebih dulu transit di negara ketiga untuk karantina selama 14 hari.  Untuk itu Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) tengah melobi agar aturan yang dinilai tidak masuk akal karena sangat membebani jamaah itu dihapus. 


Kerajaan Arab Saudi sendiri menargetkan sekitar 60 ribu jamaah per hari atau 2 juta per bulan masuk ke negerinya. Target yang ambisius ini kemungkinan akan sulit dipenuhi sebab negara-negara utama pengirim jamaah umrah justru masih dilarang masuk ke negara itu. 


Karenanya Arab Saudi dinilai sangat rugi bila melarang jamaah dari Indonesia untuk melakukan ibadah umrah. Pasalnya, Indonesia merupakan pengirim jamaah umrah terbesar kedua (sekitar 1,2 juta orang pertahun) setelah Pakistan (1,5 - 1,6 juta orang per tahun). Dari sisi ekonomi, jamaah Indonesia juga dikenal lebih royal berbelanja dibandingkan dengan jamaah dari negara-negara lain.


"Kami sangat berharap agar jamaah Indonesia diperbolehkan berumrah lagi. Saat ini jamaah umrah kami sendiri sudah banyak yang menunggu untuk diberangkatkan ke Tanah Suci. Kami menunggu lobi-lobi dari Kementerian Agama (Menag Yaqut Cholil Qoumas, Red.) ke Pemerintah Arab Saudi agar syarat karantina 14 hari di negara ketiga dihilangkan sebab memang sangat memberatkan jamaah," kata Branch Manager PT Annur Maknah Wisata atau PT Anamta Tour Surabaya, Maria De Vega, kepada Hajimakbul.com, Rabu 11 Agustus 2021.   


Minta Tanpa Booster


Selain itu, kata Maria, pihaknya berharap agar vaksin Sinovac yang banyak dipakai jamaah Indonesia bisa diakui oleh Arab Saudi tanpa harus ditambah booster vaksin lain, seperti Moderna, Pfizer, AstraZeneca, atau Johnson&Johnson. "Intinya, kami berharap syarat yang memberatkan jamaah umrah Indonesia bisa dipertimbangkan lagi," katanya.     


Dua jenis vaksin buata China yang banyak digunakan oleh negara-negara muslim seperti Indonesia, yakni Sinovac dan Sinopharm, masih belum diakui oleh Saudi. Karena itu terhadap para calon jamaah ini disyaratkan melakukan vaksinasi dengan vaksin seperti yang digunakan Saudi sebagai booster.


PT Anamta Tour Surabaya  sendiri tidak menyarankan kepada jamaahnya untuk umrah via negara lain. “Kami tidak menyarankan kalau umrah harus melalui transit selama 14 hari di negara lain. Ada sejumlah alasannya,” kata Maria.


Alasan yang dimaksud Maria adalah sebagai berikut;

1. Aturan ini untuk penumpang umum. Untuk umrah belum ada statement resmi dari Saudi. Saat ini dari pihak pemerintah Indonesia masih berusaha melobi agar jamaah umrah Indonesia dikecualikan dari persyaratan (transit) tersebut.

2. Ada kemungkinan risiko terpapar Covid-19 jika kita menetap selama 14 hari di negara transit.

3. Biaya paket yang membengkak hanya untuk akomodasi di negara transit padahal tujuan jamaah yang utama adalah untuk umrah. “Ini kami rasa akan membebani jamaah. Terutama yang sudah tertunda keberangkatannya dari tahun lalu,” katanya.


Namun pihak Anamta Tour juga tidak menutup alternatif ini apabila nanti Indonesia sudah dicabut dari daftar sebagai negara terlarang & warga Indonesia sudah bisa umrah kembali. “Jamaah kami informasikan konsekuensinya, selebihnya biar jamaah yang menentukan sendiri mau menunggu atau mau langsung berangkat,” ujarnya lagi.


Menurut Maria, opsi transit ini ditawarkan karena saat ini Indonesia masih di-banned oleh Saudi. “Jadi sebelum ini ada beberapa WNI yang ingin kembali ke Arab Saudi untuk bekerja (sudah memiliki izin tinggal / iqamah), dikarenakan tidak bisa pake pesawat direct akhirnya memilih transit ke negara ketiga sebelum ke Saudi,” katanya. 


Ketua Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Jatim, Mochamad Sufyan Arif, sebelumnya, mengatakan hingga kini belum ada kepastian bagi yang akan berangkat umrah.  "Ya Saudi membuka pintu umrah untuk negara lain, kecuali beberapa negara, salah satunya Indonesia. Meskipun di sistem visa sudah open tapi saat entry paspor Indonesia masih closed," ujar Sufyan seperti dikutip dari detik.com, Rabu (11/8/2021).


Target 22 Juta

Sama dengan Maria, Sufyan juga berharap Pemerintah Indonesia segera melakukan komunikasi dengan Pemerintah Arab Saudi. Sufyan menyebut hal ini bisa dibicarakan secara bilateral agar jamaah Indonesia bisa diizinkan lagi beribadah ke tanah suci.  "Harapan kami selaku penyelenggara peran serta aktif dari pemerintah supaya mengadakan pembicaraan bilateral antar negara supaya jamaah Indonesia juga diperbolehkan beribadah ke tanah suci," tambahnya.


Firman M. Nur, Ketua Umum Amphuri Pusat sebelumnya mengatakan Saudi mempunyai target jamaah umrah 22 juta dalam 11 bulan. Hal ini melebihi jumlah umrah di masa normal pada 2019 yang berkisar 15 juta jamaah. "Hotel-hotel bintang lima dan empat di sekitar Masjidil Haram itu biasa didominasi oleh jamaah asal Indonesia," kata Firman.


Konsul Jenderal RI di Jeddah Eko Hartono memberikan kesaksian senada. Dia mencontohkan saat ini ada sebuah hotel bintang lima yang memiliki 1.700 kamar dan dilengkapi 26 lift sengaja ditutup demi menunggu jamaah Indonesia. Para pengusaha perhotelan maupun jasa lainnya terkait prosesi ibadah ini, kata Eko, dipastikan tak tinggal diam. 


Mereka melakukan lobi-lobi juga ke pemerintah dan para pengambil kebijakan agar jamaah umrah Indonesia bisa beribadah ke Tanah Suci. "Bagi Saudi, RI adalah ceruk pasar yang sangat besar. Jadi sangat berkepentingan untuk mengundang jamaah dari RI," tegas Eko Hartono.


Namun di sisi lain, pemerintah Kerajaan Arab Saudi tak hanya memikirkan kepentingan ekonomi dan bisnis. Kesehatan dan keselamatan warga Arab Saudi secara keseluruhan saat ini menjadi prioritas utama. Perlindungan dengan menggunakan empat jenis vaksin; Pfizer, AstraZaneca, Moderna, dan Johnson & Johnson dianggap terbaik. Namun dua jenis vaksin buata China yang banyak digunakan oleh negara-negara muslim seperti Indonesia, yakni Sinovac dan Sinopharm masih belum diakui Saudi. Karena itu terhadap para calon jamaah ini disyaratkan melakukan vaksinasi dengan vaksin seperti yang digunakan Saudi sebagai booster.


"Tapi karena masih ada jutaan warga lain di tanah air yang belum mendapatkan vaksinasi, tentu akan lebih baik para calon jamaah bersabar lagi untuk tidak memaksakan diri beribadah umrah dalam waktu dekat ini," kata Eko Hartono. (gas/det)


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update