Bisnis Ala Nabi (3): Transaksi dengan Allah Raih Keuntungan Melimpah

Ilustrasi: Pixabay
HAJIMAKBUL.COM -  Hakikatnya hubungan kita dengan Allah SWT (hablumminallah) dalam kacamata manusia adalah transaksional. Sama dengan ketika kita berhubungan dengan sesama manusia alias hablumminnas. Sangat sedikit hubungan itu yang tanpa motif transaksional. Yang ikhlas. Tanpa motif apa pun. Tanpa tendensi apa pun. Tapi itu bukan sesuatu yang salah. Hanya saja ada gradasi dalam setiap transaksi itu hingga mencapai titik nol tanpa transaksional alias semua dilakukan dengan keikhlasan. 
Allah SWT kekuasaannya sangat mutlak. Dia Yang Maha Besar ini bisa saja selalu otoriter. Diktator. Seperti juragan sebab semua adalah ciptaan-Nya dan budak-Nya.  Namun tidak. Allah memiliki sifat asy-Syakur (Maha Balas Jasa) dan al-Haliim (Maha Penyantun). Dia yang Maha Memberi tidak memerintahkan sesuatu kecuali Dia akan memberikan balas jasa kepada hamba yang Dia perintahkan. Perintah-Nya tidak gratis, tapi ada bayaran-Nya. Ada pahalaNya. Ada keuntungannya.

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ۖ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS Al-Baqarah [2]: 281)

Saiful Hamiwanto dalam tulisannya di hidayatullah.com malah menyebut bayaran yang diberikan Allah SWT sangat besar. Sama sekali bukan dalam konteks kesepakatan kerja majikan-buruh, yqng biasanya buruh digaji lebih kecil untuk kerja kerasnya. Allah menawarkan margin sangat besar. Ibarat transaksi pinjam meminjam yang Allah tawarkan, bunganya sangat besar.

إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
“Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun.“ (QS: At-Taghabun [64]:17).

Adapun transaksi kedua yang Allah tawarkan adalah transaksi jual-beli atau perdagangan:
إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah [9]: 111)
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS Faathir [35]: 29)

Nah sudah jelas di sini bahwa bisnis adalah sunnatullah. Sesuatu yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bukan hanya dalam konteks hablumminallah tapi juga hablumminannas. Dan bukankah Rasulullah Muhammad SAW adalah pebisnis ulang yang amanah dan jujur. Mari melakukan bisnis sesuai karakter Nabi SAW.  Dengan kejujuran, dengan kebaikan, kerja keras yang terukur, tidak ngoyo, tidak juga lehaleha cangkrukan ngopi terus ngobrol ngalor ngidul  mbalik ngulon hehehe. Sungguh merugi ketika kita sudah melakukan transaksi dengan Allah SWT lalu kita malah suka ngobar alias ngopi bareng bicara ngalor ngidul tanpa melakukan hal riil yang meski kecil tapi diberi keuntungan besar oleh Allah SWT. Amiin.

Tidak juga tidak semata memburu keuntungan guna menumpuk harta sebab sejatinya harta adalah ketika dikonversikan jadi pahala yang muaranya adalah surga seperti dijanjikan oleh Allah dalam transaksi ilahiyah tersebut. (gatot)




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Bisnis Ala Nabi (3): Transaksi dengan Allah Raih Keuntungan Melimpah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel