Kisah Haji Tamu Raja Arab Saudi (1): Ada Udang di Balik Gunting Tahallul


                                Penulis bersama Drs. H. Anton Bachrul Alam, S.H yang pernah
                                menjabat Kapolda Jatim dan jamaah lain.


Musim haji pun tiba. Kloter pertama jamaah haji Indonesia akan bertolak menuju Madinah pada Minggu 7 Juli 2019. Sekarang para jamaah sibuk memantapkan manasik dan menggelar acara  selamatan  atau doa bersama mengundang warga sekitar. Menyambut musim haji tahun ini, Redaksi  Hajimakbul.com dan Global News menurunkan catatan pengalaman koresponden media ini, Achmad Supardi, yang pernah berhaji khusus atas undangan Raja Arab Saudi. Achmad Supardi yang pernah menjadi wartawan Harian Sore Surabaya Post sekarang menempuh pendidikan S3 di School of Communication and Arts, The University of Queensland, Australia.

Oleh: Achmad Supardi

HAJIMAKBUL.COM – Menjadi  tamu Raja Arab Saudi tidak sepenuhnya tak terbayangkan oleh saya. Pasalnya, dua tahun sebelum saya akhirnya benar-benar berangkat ke Tanah Suci, seorang rekan di Surabaya Post telah lebih dulu berhaji dengan “jalur” ini. Jadi, harapan bahwa suatu saat giliran saya yang diundang Raja Saudi, terus terpatri sejak saat itu.

Ya, Allah, kalau memang saya sudah siap berhaji, panggillah! Kalau bisa (padahal Allah pasti bisa), melalui jalur “undangan raja” itu. Naluri manusiawinya tidak hilang, hahaha.

Maka, setahun sejak keberangkatan teman saya itu, Ikhsan Mahmudi, saya kembali bertanya kepada Pemimpin Umum Harian Sore Surabaya Post saat itu, Pak Amang: "Apakah undangan dari Kedubes Arab Saudi untuk berhaji gratis sudah datang? Giliran siapakah tahun itu?"

Jawaban Pak Amang membuat saya patah hati. Ternyata dia kelupaan mengajukan nama. Jadi, tahun itu, tak ada wartawan yang berhaji melalui jalur undangan tersebut. Kesempatan itu pun saya gunakan untuk berpesan: “Tahun depan jangan lupa ya Pak. Saya ingin sekali, kalau bisa!” 

Ternyata, tahun berikutnya, Pak Amang tidak lupa. Undangan dari Kedubes Arab Saudi di Jakarta kembali datang dan dia ingat untuk mengabari saya. Saya, bersama redaktur pelaksana (Redpel) saat itu, diminta untuk segera mengirimkan paspor kami ke Kedubes melalui sekretaris redaksi. Dengan antusias saya pun melakukannya. Redpel saya sebaliknya. Dia seperti kurang antusias. Dia menampakkan ketidakyakinan bahwa “aplikasi” itu akan ditanggapi. 

Dan benar. Allah menjawab sebagaimana prasangka kita. Tahun itu Surabaya Post hanya menerima satu undangan untuk berhaji gratis atas biaya Pemerintah Arab Saudi. Undangan itu untuk saya!

*** 

Banyak drama saya alami hingga keberangkatan ke Tanah Suci. Hal itu akan saya ceritakan dalam calon novel saya (tunggu ya? Hehehe). 

Oke, akhirnya saya berangkat juga. Pada suatu hari yang tanggal dan bulannya saya lupa, di tahun 2007, saya tiba di sebuah gedung dalam pengelolaan Kedubes Arab Saudi, namun bukan di Kedubes-nya itu sendiri. Pagi itu sudah berkumpul lebih dari 100 calon jamaah haji undangan Pemerintah Saudi. 

Ada pejabat kepolisian, petinggi perguruan tinggi, para penghafal Al Quran, penghafal hadist, pemenang lomba semacam MTQ, pengelola pondok pesantren, aktivis organisasi kepemudaan, wartawan, kerabat pegawai Kedubes Saudi, dan kelompok-kelompok lain. Beberapa nama terkenal yang masih saya ingat di antaranya Komjen Pol (sekarang purn.) Drs. H. Anton Bachrul Alam, S.H., yang beberapa waktu setelah haji menjadi Kapolda Jatim, Ibu Juansih (sekarang sudah jenderal, saat itu masih bertugas di Batu, Jatim), Pak Gumilar Rusliwa Soemantri (saat itu Rektor Universitas Indonesia), dan Amiruddin, mantan Ketum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 

Dengan bus, kami diantar ke Bandara Soekarno-Hatta. Di sana paspor kami yang sudah memiliki visa Arab Saudi, diberikan. Sebagian rekan sudah memakai ihram, sebagian lagi masih berpakaian biasa. 
Sepertinya berpakaian ihram sejak sebelum keberangkatan adalah ide yang baik. Berganti dari pakaian biasa ke pakaian ihram di atas pesawat yang banyak penumpangnya adalah sesama calon haji, bisa mengorbankan privasi dan mengganggu yang lain. Berganti di toilet pesawat juga bukan ide yang baik. Tahu, kan, betapa sempitnya toilet pesawat itu?

Kami tiba di Jeddah sekitar tengah malam. Kami diberi nasi kotak (well, bukan nasi kotak, tapi makanan dalam boks karton) dan banyak kudapan lain. Seingat saya tidak ada nasinya. Kami memakannya di area tunggu Bandara King Abdulaziz, Jeddah, sambil berkenalan. Saya sempat ngobrol dan berfoto bersama Pak Anton.

Biasalah, wartawan, naluri SKSD-nya tidak hilang. Dalam perjalanan dari Jeddah ke Makkah, kami melantunkan talbiyah. Untung ada yang mengawali, jadi mayoritas jamaah dalam bus kami mengikuti. Saat itu saya berpikir: saya sedang berhaji beneran nih? Rasanya seperti tak percaya.
Kami tiba menjelang Subuh di Makkah. Ternyata kami diinapkan di Makkah Grand Coral Hotel. Bintang lima, cuy! Pihak hotel sebenarnya sudah menyiapkan penyambutan standar ala hotel. Ada welcoming drink, buah, suvenir-suvenir kecil dan lainnya. 

Tapi karena tamu yang datang dalam jumlah besar –jamaah undangan asal Indonesia, Malaysia, dan Singapura sepertinya tiba di waktu yang sama—pihak hotel agak kelimpungan. Proses pembagian kunci dan masuk kamar agak lama dan tidak smooth untuk ukuran bintang lima. Untuk ukuran saya sih, oke-oke saja.

Saya lupakan semua yang sedikit kurang lancar itu. Bisa naik haji saja sudah luar biasa bagi saya.
Paginya, ternyata tidak semua rekan calon haji asal Indonesia bergegas untuk umrah. Sebagian lelah, sebagian punya rencana yang mungkin lebih baik. Saya akhirnya bergabung dengan satu grup kecil asal Singapura untuk umrah pagi itu.

Hasilnya, saya dan satu jamaah Singapura tertinggal dari kelompok kami saat selesai Tawaf dan menuju Sa’i. Entahlah, mungkin kekhusyukan kami agak rusak saat itu karena sambil mencari-cari kelompok besar kami. Syukurlah, akhirnya ketemu.

Saat tahallul, ada pria setengah baya yang meminjami saya gunting kecil. Kok baik sekali? Ah, mungkin dia mencari pahala. Bukankah Masjidil Haram adalah tempat di mana pahala dilipatgandakan? Saya pun terima tawarannya. Saya tahallul dengan gunting kecil itu.

Eh, ternyata, ada "udang di balik rempeyek"-nya . Selesai bertahallul, orang itu menagih saya dalam Bahasa Arab. Intinya dia minta uang. Oalah..., dia menyewakan, bukan meminjami. Sepertinya saya terlalu terbiasa berbaik sangka, hahaha. (Bersambung)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Haji Tamu Raja Arab Saudi (1): Ada Udang di Balik Gunting Tahallul"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel