Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gubernur Khofifah Mantu, Prosesi Siraman Juga Pakai Air ZamZam

Friday, June 28, 2019 | 00:15 WIB Last Updated 2019-06-27T17:15:39Z

HAJIMAKBUL.COM - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menggelar rangkaian acara pernikahan putri sulungnya, Patimasang Mannagalli. Prosesi pernikahan itu berupa Siraman,  ritual pernikahan ala adat istiadat Jawa, yang diadakan di kediaman keluarga Khofifah Indar Parawansa Jalan Jemursari VIII Surabaya Kamis (27/6/2019).

Prosesi ini berlangsung sejak siang sekitar pukul 13.00 WIB, diawali dengan permohonan restu oleh Patimasang kepada Bunda Khofifah, diikuti proses menyiram calon mempelai wanita dengan air yang sudah tersedia di gentong. Akad nikah Patimasang dengan Fadil Wirawan akan dilaksanakan Jumat (29/6/2019) pagi di  kediaman Khofifah.

Yang menarik dalam acara Siraman, air dalam gentong untuk siraman ini, sebagaimana dijelaskan oleh Pambirawa (pembawa acara) Siraman, tergolong air yang istimewa. Karena aiir itu diambil dari tujuh sumber air yang berbeda.

“Airnya dari sumber air di Makam Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Ampel. Juga dari sumber air zam-zam, dari sumur rumah kediaman Jemursari, dan dari Masjid Muayyad,” kata Pambirawa.

Pambirawa menjelaskan, tujuh (pitu) artinya pitulungan (pertolongan). Sehingga, air dari banyak tempat itu menyimbolkan permohonan restu dari orang banyak. Karena itulah tidak hanya Khofifah yang menyiramkan air itu ke tubuh Ima, panggilan akrab Patimasang.

Sejumlah istri pejabat Forkompinda seperti Istri Kapolda, Pangdam, dan Kajati juga ikut menyiramkan air ke calon mempelai wanita. Selain itu ada para Nyai Jawa Timur yang turut menyiramkan air. Seperti Nyai Hj. Masykur Hasyim, Nyai Hj. Faridah Salahuddin Wahid, Nyai Hj. Masruroh Wahid, Nyai Hj. Mutammimah Hasyim Muzadi, dan Nyai Hj. Mahfudah Ubaid.

Prosesi selanjutnya, Khofifah menyiramkan air dari kendi sebagai simbol penyucian jiwa dan restu dari orang tua. Kendi yang dipakai untuk menyiram kemudian dipecahkan dengan cara dijatuhkan.

Prosesi siraman ini tergolong lengkap. Khofifah sempat melakukan proses “berjualan dawet” yang menyimbolkan harapan agar pengantin mendapatkan rezeki yang melimpah di kemudian hari.
Khofifah Indar Parawansa setelah menjalani semua proses itu mengatakan, penggunaan adat istiadat Jawa dalam pernikahan putrinya itu menjadi bagian dari melestarikan budaya.

“Ya, ini menjadi bagian dari mengenalkan kembali budaya Jawa kepada generasi kita saat ini. Supaya budaya ini terus lestari,” pungkas Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur. 
Menangis Haru
Namun nuansa Islam juga masih kental dalam prosesi pernikahan ini. Sehari sebelumnya misalnya digelar acara pengajian. Pembacaan ayat suci Al Quran yang dihadiri banyak kalangan itu membuat suasana menjadi sangat religius.

Di sela acara, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, dirinya menangis pada tiga hari terakhir saat menyadari putrinya sudah akan menikah.
"Semua ibu mungkin merasakan apa yang saya rasakan, anaknya wisuda TK saja menangis," kata Khofifah Indar Parawansa.
"Anaknya mau umroh nangis, anaknya mau kuliah ke luar negeri menangis, dan besok saya harus melepas dia di pernikahan," sambung dia.
Khofifah Indar Parawansa menceritakan, seolah-olah memori masa kecil Patimasang seringkali terputar kembali hingga membuatnya terharu.
(gatot susanto)
×
Berita Terbaru Update