Cerpen Ramadhan: Sarip Syaifulloh



Ilustrasi:Pixaybay

Oleh Gatot Susanto

SARIP. Namanya singkat saja.  Aslinya Sarip Syaifulloh. Itu nama pemberian ibu bapaknya ketika sang jabang bayi pertama menghirup udara dunia yang pengap. 

Sarip adalah urip. Hidup. Dan hidup menjadi sejati bila memenuhi keinginan Allah. Menjadi syaifulloh. Pedang Allah. Gusti ingkang murbeng dumadi. Penguasa jagat raya ini.

Nama Sarip sebenarnya pemberian Ustadz Abdul Kadir. Aslinya Syarief Syaifulloh. Syarief maksudnya mulia. Terhormat. Tapi lidah Jawa bapak ibunya yang keluar ucapan Sarip. Begitu seterusnya hingga Sarip dewasa.

Kemudian nama Sarip menjadi semakin terkenal ketika ludruk--panggung pementasan drama yang merakyat  di kawasan Jawa Timur itu--menampilkan lakon Sarip Tambak Oso. Tokoh yang melegenda. Pejuang melawan penjajah Belanda yang sakti mandraguna asal Desa Tambak Oso. Sarip dikenal sangat sayang kepada ibunya. Begitu pula sebaliknya.


 Bahkan, cinta ibunya berbau ghaib. Saat Sarip tewas dalam perkelahian melawan penguasa zalim, ibunya tidak ikhlas. Perempuan ini lalu berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama anaknya, hingga Sarip pun bangkit lagi dari kematian untuk kembali menumpas kezaliman.

Dia juga sayang pada wong cilik yang terjajah. Rakyat dizalimi penguasa lokal dan penjajah Belanda. Sarip lalu mencuri harta orang-orang kaya dan orang Belanda untuk dibagikan ke warga miskin. Mirip Robin Hood  cerita rakyat di Eropa atau Maling Cluring yang juga dikenal di pedesaan Jawa Timur.

Nama Sarip Syaifulloh pun beransur diganti oleh warga menjadi Sarip Tambak Oso. Sebab Sarip meski hidup paspasan dikenal ringan tangan. Suka membantu warga miskin.

Dan  saking terkenalnya,  bahkan nama pemberian ibu bapaknya pun dilupakan orang.

Sarip yang sangat terkenal di kalangan wong cilik akhirnya dilirik orang kaya. Dia sering ditawari untuk diajak orang kaya atau pejabat yang berkepentingan untuk mendekati warga. Merayu warga.

Orang kaya dan pejabat itu mengiming-imingi uang agar Sarip mau menjadi kaki tangannya. Namun Sarip menolak. Pria ini hanya ingin hidup mandiri sampai mati.

"Urip iku, Rip, anakku...," kata simbok suatu ketika,"Kudu duwe tinggalan amal. Nulung wong sing kesusahan. Ojok ngenteni sugih, yo sak iki kudu dilakoni. Sopo wero mbesok awakmu mati." 

Sang ibu berkali-kali memberi wejangan kepada Sarip. Maksudnya, hidup harus memiliki sesuatu yang kelak akan dikenang. Suka beramal. Menolong warga yang mengalami kesulitan hidup. Jangan menunggu jadi kaya dulu baru beramal, sekarang juga harus dilakukan. Siapa tahu besok kamu akan meninggal dunia.


Sarip hanya manggut-manggut. Diam meresapi wejangan simboknya. "Nggih Mbok...!" katanya.

Kata-kata simboknya itu bukan hanya ditelan tapi diwujudkan dalam aktivitasnya sehari-hari. Bahkan dia membuat target harian. Satu hari satu amal. Bahkan kalau bisa lebih. Satu hari satu kali menolong orang yang menghadapi kesulitan.

Sejak itu hidup Sarip diabdikan untuk masyarakat. Hari-harinya diwakafkan penuh untuk mencari orang yang butuh pertolongan dirinya. Bukan menunggu dimintai tolong. Baginya sifat pemalas bukan hanya soal bekerja. Dia tidak mau bermalas-malasan untuk mencari kebaikan. Mencari orang yang membutuhkan pertolongan darinya.

Apalagi di bulan Ramadhan. Bulan ketika doa-doa dikabulkan. Bulan yang Allah SWT akan melipatgandakan pahala bagi petani kebaikan. Yang menyemai pahala di atas pahala. Berlipat tak terkirakan banyaknya. Sarip tersenyum optimistis dengan janji Tuhannya itu.

Dia pun mengunjungi tempat-tempat kumuh di pinggir sungai. Disapa dengan ramah warga di sana. Dibantu para orang tua yang bekerja berat.

Lalu disambanginya pula panti asuhan anak yatim dan panti jompo. Dia menghibur anak-anak malang itu dengan menyanyi dan atraksi-atraksi lucu. Kadang dia membawa baju badut yang disewa dari orang yang berprofesi sebagai badut acara ulang tahun. Sering dia membawa mainan yang dibuatnya sendiri. Anak-anak ini harus bergembira. Bersenang-senang. Siapa lagi yang memberinya kesenangan kalau tidak Tuhan yang menciptakannya. Dan Sarip merasa mendapat tugas dari Tuhannya untuk menjaga anak-anak itu.

Bahkan dia menjadi tukang becak bagi tukang becak tua yang sedang membawa penumpang. Dia gantikan tukang becak tua yang mestinya sudah harus istirahat di rumah itu.

"Bapak tunggu di sini saja, saya yang narik becak dan nanti kembali ke sini," kata Sarip. 

Tukang becak itu melongo. Orang tua itu terharu. Air matanya menetes melihat punggung Sarip yang mengayuh becak menuju alamat penumpangnya tersebut.

Sarip menoleh ke belakang. Dia senang melihat pak tua tukang becak itu tersenyum. Senyum yang berubah menjadi energi dahsyat bagi dirinya.

Dia pun kembali ingat simboknya di rumah. Simbok yang tidak menuntut dirinya saat pulang harus membawa uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

"Jangan tunggu kaya dulu baru berbuat baik kepada orang. Sekarang juga lakukan!"

"Tapi bukankah simbok juga butuh bantuan anak simbok ini!"

"Simbok masih kuat bekerja. Kamu bantu belanja saja ke pasar. Simbok yang masak makanan untuk dijual di warung. Simbok yang jual. Kamu bawakan saja masakannya ke warung."

"Nggih Mbok...!!"

Sarip tersenyum sendiri sambil mengayuh becak mengenang sikap simboknya. Setelah mengantar penumpang dia kembali menemui tukang becak tua yang menunggu di pangkalan becak di bawah pohon beringin itu. 

Namun Sarip terkejut. Tukang becak itu tidak sendiri. Dia bersama pria tinggi besar dan gagah. Wajahnya ganteng seperti orang Arab. Keduanya duduk sambil berbincang.

"Assalamualaikum..." Sarip menyapa keduanya dengan salam.

"Waalaikumsalam..." jawab keduanya bersamaan.

"Ini pak anak muda yang tadi saya ceritakan. Dia gantikan saya mbecak. Mengantar penumpang saya," kata tukang becak tua itu.

"Oh, jadi kamu to...!" Pria Arab itu tersenyum. Sarip menghormat. Bersikap santun, seperti diajarkan simboknya.

"Iya..., bapak ini seharusnya sudah pensiun. Saya malu kepada Allah bila melihat bapak yang sudah harus pensiun tapi masih bekerja sangat keras seperti ini." Sarip berkata ringan apa adanya. 

Namun pria itu justru kaget melihat jawaban polos pemuda ini. 

"Bapak ini yang punya becak, Nak! Saya sewa becak kepada bapak ini. Kalau ndak mbecak, terus dari mana bapak memberi makan anak istri bapak," kata tukang becak itu.

"Ya, dengan bekerja, Pak. Tapi jangan mbecak. Bantu-bantu masjid atau bersihkan kantor desa, kan lebih ringan!"

Tukang becak tua ini bingung dengan jawaban Sarip. Lebih bingung lagi pria mirip orang Arab yang sejak tadi memperhatikan dialog dua orang tersebut. Dua orang yang hidup apa adanya tapi bisa saling menolong.

"Tidak ada yang mau memberikan bapak pekerjaan di sini. Bahkan takmir masjid pun menganggap bapak sudah terlalu tua untuk bekerja..."

"Nanti saya yang carikan. Nanti saya yang bilang ke takmir Masjid Al Ikhlas. Bapak jangan khawatir," kata Sarip.

"Kita sama-sama carikan bapak ini pekerjaan yang pas untuknya ya mas." Pria Arab itu ikut berbicara. Namun tak lama kemudian dia pun pergi menumpang mobilnya yang mewah.

"Namanya Pak Alkatiri. Itu saja yang saya tahu. Saya sudah bersyukur bisa sewa becak dengan harga sangat murah kepadanya. Malah kadang tidak bayar," kata tukang becak tua itu.


"Iya, kelihatannya dia orang baik." Sarip melihat mobil bagus itu berlalu. Dalam hati dia sangat ingin seperti Alkatiri ini. Kaya dan baik hati.

"Bapak kalau makan siang tidak usah ke warung lain. Bapak datang ke warung simbok saya di pojok perumahan yang di sana dan bilang kalau yang mbayari Sarip. Saya pergi dulu ya Pak..." 

Sarip bergegas pergi dengan motor bututnya. Dia memikirkan bagaimana bisa ngomong ke takmir Masjid Al Ikhlas agar mau mempekerjakan tukang becak tua itu. Misalnya jadi cleaning service di masjid. 

Sejak lama Sarip ingin membantu membersihkan masjid, tapi dia sungkan sebab nanti khawatir dikira ingin menggusur petugas kebersihan yang sudah ada. Sama dengan di tempat lain seperti kantor atau pertokoan, sebagian masjid juga jadi ladang untuk penghasilan. Sarip sering melihat posisi ketua maupun anggota takmir jadi rebutan. Dia semula menduga mereka berebut mengabdi di rumah Allah. Berharap mendapat gaji dari Allah SWT. Hal sama juga untuk pekerja kebersihan masjid. Tidak sekadar ingin mendapat pahala sebab telah membersihkan rumah Allah SWT.

Tapi ternyata ada yang ingin dibayar kontan. Mereka ada yang berharap mendapat pengaruh, rasa hormat, gengsi, bahkan gaji yang diambil dari infak jamaah. Karena itu Sarip mengurungkan niat saat ingin bantu membersihkan masjid.

Ada cerita lain. Suatu ketika usai Salat Jumat orang-orang masjid mengumpulkan kotak-kotak amal infak untuk dihitung jumlah perolehannya. 

Yang lucu, ada oknum orang masjid yang menyelipkan uang recehan dari kotak infak di lipatan sarungnya. Beberapa kali sarung harus dilipat untuk menyembunyikan uang sampai-sampai sarungnya tertarik ke atas hingga terlihat bagian paha orang itu. Sarip tersenyum saja melihat ulah semacam itu.


Karena itu pula sampai sekarang dia hanya menunggu bila masjid membutuhkan bantuannya. Tidak aktif menawarkan bantuan tenaga untuk masjid.

Namun sekarang dia tidak bisa hanya menunggu sebab tukang becak tua itu sangat butuh pekerjaan. Dan hanya bekerja di masjid yang cocok untuknya. Untuk itu dia pun menemui takmir.

"Assalamualaikum..." Dia membuka pintu kantor takmir yang bagus dengan ruangan yang sejuk.

"Waalaikumsalam..." Seorang takmir yang dia kenal menyambutnya.

"Ada yang bisa saya bantu mas ..mungkin mau konsultasi zakat," kata takmir.

"Begini Pak, saya mau minta bantuan bapak.. minta tolong...!"

Takmir sedikit kaget. Biasanya orang ke kantor masjid memberi bantuan tapi anak muda ini malah minta bantuan? Ada apa?

"Lo, minta tolong apa?" jawab takmir. Dia ingat, bahwa takmir masjid juga punya kewajiban menolong warga yang mengalami kesulitan.

"Saya cari pekerjaan Pak. Mungkin bersih bersih masjid, merawat tanaman, atau yang lain!" Sarip diam sejenak. "Tapi bukan untuk saya. Untuk bapak tukang becak yang di sana..." 

Takmir tidak langsung menjawab. Dia mamandang Sarip.


"Kalau hanya bantu-bantu tidak apa-apa mas Sarip. Kalau disuruh kasih gaji, tidak ada uang," kata takmir kemudian.

"Lho, masak baru bangun gerbang megah dan mengganti lantai dengan keramik mahal, masjid ndak punya uang kas, Pak!?"

Sarip menunjuk pintu gerbang masjid yang memang megah. Lalu dilihat pula lantai berkeramik besar yang cling. Jamaah yang melintas seakan bisa bercermin dari lantai yang bagus itu.

"Iya, itu kan memang sudah program. Kita minta bantuan pemda dan jamaah," kata takmir.

"Kalau begitu saya usul, bapak tukang becak tetap diterima saja kerja di sini, nanti saya yang gaji. Bapak tentukan saja berapa gajinya, nanti saya yang bayar ke masjid. Selanjutnya njenengan bayar ke pak tukang becak yang nanti kerja di sini..."

Takmir itu heran melihat pemikiran Sarip.
Pria yang memakai kopyah dan bersarung itu memandang lekat wajah Sarip, yang dia kenal hidupnya bersama ibunya paspasan. Keluarga Sarip mestinya mendapat pembagian zakat setiap hari raya Idul Fitri tapi mereka menolak sebab merasa masih mampu makan sehari-hari. Zakat itu bisa dialokasikan ke warga lain yang lebih membutuhkan.

"Baiklah, kita pikirkan bapak tukang becak itu bersama-sama," kata takmir. Sarip sangat senang mendengarnya. Kata-kata takmir menyemangatinya agar dia semakin bekerja keras agar bisa kaya dan membantu lebih banyak lagi orang.

"Terima kasih, Pak!"

Sarip langsung ke pasar. Tak lama kemudian tubuhnya trengginas memanggul karung-karung berisi tepung yang diambil dari truk untuk dibawa ke toko Cik Shiang. Orang-orang pasar heran. Mereka menduga Sarip tidak berpuasa. Semua salah. 

Energi Sarip malah melimpah justru karena dia berpuasa. Tubuhnya ringan dan kuat karena dia bekerja untuk menjemput lebih banyak lagi berkah. Berkah yang menjadikannya kembali menjadi Sarief Syaifulloh. Bukan untuk menebas musuh Allah di medan tempur, tapi cukuplah untuk mengiris urusan kecil-kecil umat yang sering dilupakan orang. Amiin.  (*)

Sidoarjo 19 Ramadhan 1440 H














Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen Ramadhan: Sarip Syaifulloh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel