NU di Antara Kepentingan Politik Nahdliyyin



HAJIMAKBUL.COM - Sebagai warga Nahdlatul Ulama, saya lagi-lagi dibuat bingung oleh polemik elite NU soal politik praktis-pragmatis yang sedang terjadi sekarang. Setelah Pilgub Jatim, sekarang Pilpres 17 April 2019 yang tinggal 10 hari lagi.

Bingung? Ya, sebab kesannya, soal "boleh gak boleh memakai NU dan atributnya", kok sepertinya hanya dilihat dari kepentingan mereka sendiri. Maaf, tulisan ini murni soal kebingungan saya sendiri dan bukan mewakili kebingungan teman sesama NU---meski saya tahu banyak di antara mereka dibuat bingung oleh pemimpinnya. Pertanyaannya, pemimpin kok malah bikin bingung umatnya ya, bro?

Dulu saya bingung ketika elite PBNU memberi dukungan kepada Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar bisa terpilih kembali sebagai presiden  dalam acara pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu 27 Februari 2019. Dalam persepsi saya, kembali ke Khittah 1926, terutama setelah muktamar ke-27 NU di Situbondo 1984,  itu ya gak boleh bicara dukungan kepada capres--meski Jokowi hadir sebagai presiden. 

Jokowi malah didoakan agar menjabat presiden dua periode. Apa ini tidak politisasi NU? Saya sih menilai begitu, mboten semerap sampeyan, monggo dinilai sendiri. Mungkin saya salah. Tapi panjenengan juga belum tentu benar!




Kali ini heboh lagi menyusul protes PCNU Lumajang soal ulah cawapres nomor 02 Sandiaga Salahuddin Uno mengibarkan bendera NU saat kampanye di Lumajang. Sebagai orang NU, saya sebenarnya bangga sih, bendera NU dikibarkan di antara warga NU. Mboten semerap menawi panjenengan warga Nahdliyin yang lain. Mungkin saya salah, tapi panjenengan juga belum tentu benar? 


Setidaknya saya masih sepaham dengan putra KH Yusuf Hasyim, Irfan Yusuf Hasyim atau Gus Irfan. Beliau membela Sandiaga terkait protes keras yang disampaikan PCNU Lumajang kepadanya. Saya tidak dalam rangka membela Sandiaga tapi hanya bingung saja. Saya hanya ingin seimbang saja. Bila di acara NU orang boleh secara jamaah mendoakan capres petahana, di acara yang dihadiri banyak warga NU, menampilkan cawapres yang mengaku memiliki Kartu NU, ya mestinya gak perlu diprotes bila mengibarkan bendera NU. Sebab itu lumrah. Namun, teman saya, Riadi Ngasiran, membenarkan bila merujuk pada Khittah, mestinya hal itu tidak dilakukan oleh Sandiaga.



"Bendera NU tak akan pernah berkibar dalam kampanye bila memahami hakikat posisi NU dalam kehidupan berbangsa. Politik kebangsaan, yang dikembangkan NU dalam menyikapi Khittah NU, terutama setelah muktamar ke-27 NU di Situbondo 1984. Komitmen bahwa NU berpolitik kebangsaan, bukan politik praktis, menunjukkan posisi NU tidak terikat partai politik mana pun. Ini yang harus dipahami bersama bagi warga NU," kata Pak Riadi.

Namun, saya juga bingung saat
Gus Irfan  menyindir balik NU yang selama ini seolah menjadi mesin kampanye bagi kandidat tertentu. Yang dimaksud Gus Irfan, dalam pandangan saya, mengarah ke Jokowi. Ini seperti sudah saya ceritakan di atas tadi.

"Itu kan menunjukkan bahwa sekadar bendera dibawa kampanye saja protes. Sementara NU sekarang dijadikan mesin kampanye, kenapa nggak diprotes?" kata Gus Irfan saat dihubungi, Sabtu (6/4/2019) seperti dikutip dari detik.com. 



Gus Irfan merupakan salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari. Beliau merupakan salah satu pengasuh pondok pesantren di Jombang. Gus Irfan adalah anak KH Yusuf Hasyim, yang merupakan putra KH Hasyim Asy'ari. 

Gus Irfan menduduki posisi strategis di Lembaga Perekonomian NU (LPNU). Dia menjabat wakil ketua.

Posisi Gus Irfan di LPNU itu pula salah satu alasan dia diperhitungkan oleh timses Prabowo-Sandiaga. Irfan sendiri tertarik pada visi ekonomi keumatan dari Sandiaga Uno.


"Saya melihat Pak Sandi ini concern sekali terhadap ekonomi keumatan. Kita tahu umat kita, terutama para nahdliyin, ini adalah tertinggal di bidang perekonomian. Saya di NU kebetulan menjadi Wakil Ketua Lembaga Perekonomian di NU pusat, jadi ya saya tahu persis kondisi kita. Saya kira dengan banyaknya ide-ide dari Bang Sandi bisa kita sinergikan supaya bisa bermanfaat kepada umat," ucap Irfan.


Sandiaga Uno sendiri mengaku diminta memegang Bendera NU tersebut. Selain itu, dia juga mengaku sebagai anggota NU. Karena itu wajar Sandi menuruti permintaan warga NU yang mendukungnya tersebut.

"Kami banyak sekali bertemu dengan elemen masyarakat di rapat umum. Diminta-minta untuk memegang bendera NU. Dan saya sendiri adalah anggota NU, saya memegang kartanu (kartu tanda anggota NU)," kata Sandi kepada wartawan usai menghadiri kampanye di Gedung Tri Bhakti Kota Magelang, Sabtu (6/4/2019).

"Dan saya kan Uno, Uno kan 'Untuk Nahdlatul Ulama'. Jadi, ya saya bawa bendera tersebut dan sekarang katanya mendapat teguran, ya kita terima sebagai...," kata Sandi tanpa melanjutkan pernyataannya.

Namun demikian Sandi menegaskan keberadaan NU adalah milik semua kalangan dan berada di atas semua golongan.

"Menurut saya NU milik semua, NU ada di atas semua golongan. Masak seorang anggota NU tidak boleh membawa bendera NU. Jadi, mudah-mudahan ini menjadi salah satu perekat bangsa kita karena NU ini adalah organisasi massa Islam yang terbesar. Saya berpikir NU menaungi semua pihak," katanya.

Suasana ini mengingatkan saya pada saat pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama di Kota Banjar, Jawa Barat.

Dalam acara istighatsah, misalnya, seorang ulama yang memimpin pembacaan doa mendoakan agar Jokowi yang bernomor urut 01 di pemilihan presiden, agar menang. "Menang nomor satu,,, menang nomor satu,,," katanya di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu, 27 Februari 2019. Ribuan warga NU yang hadir sontak menjawab 'Aamiin'.

Selain itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, turut pula mendoakan kemenangan Jokowi dalam sambutannya.

 "Yang hadir lebih dari 20 ribu mendoakan mudah-mudahan bapak Jokowi dapat kepercayaan dari Allah dan dari rakyat," katanya.


Kang Said menampik jika yang dilakukannya itu disebut mengkampanyekan Jokowi. 

"Mendoakan ini, bukan kampanye," tuturnya seperti dikutip dari tempo.co. Kata-kata Kang Said ini juga bikin saya bingung. Mungkin maksud Beliau mengkampanyekan Jokowi kepada Tuhan. Ya, mungkin. Waallahu'alam.

Namun semua itu hulunya ada pada niat beliau-beliau. Selain itu juga respon nahdliyyin sendiri. Apa benar beliau tidak kampanye untuk Jokowi? Apa benar PCNU Lumajang protes karena Khittah 1926 dan bukan karena mendukung capres tertentu? Ah, biar nahdliyyin sendiri yang menilai.

(Gatot Susanto)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "NU di Antara Kepentingan Politik Nahdliyyin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel