Masjid Al Ikhlas Jatipadang Ber-ISO: Wakafkan Software Akuntansi Online ke Semua Masjid



HAJIMAKBUL.COM - Tidak banyak masjid di Indonesia yang mendapat pengakuan internasional. Salah satu masjid yang mendapat pengakuan dunia itu adalah Masjid Al Ikhlash Jatipadang Jakarta. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al Ikhlash Jatipadang sudah menerima Sertifikat internasional Organization for Standardization (ISO) 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu Masjid dari International Standards Certification (ISC) Australia di aula Masjid al-Ikhlash Jatipadang, Jakarta Selatan (Jaksel).

Saat itu prosesi penyerahan sertifikat ISO diberikan langsung oleh Lead Auditor ISC Australia, Rickman J. Mather. Hadir menyaksikan langsung acara ini Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Drs. H. Imam Addaruquthni, M.A., serta Ketua dan Sekretaris PD DMI Kota Administrasi Jaksel,  KH. Sanusi Haji Dahlan (HD) dan Drs. H. Eddy KS.




Sekjen PP DMI, Imam Addaruquthni, dan Lead Auditor ISC Australia, Rickman J. Mather, serta Kiai Sanusi, dalam acara itu masing-masing memberikan sambutan. Salah satunya menjelaskan proses panjang DKM Masjid Al Ikhlash Jatipadang untuk meraih ISO 9001:2015 dan versi sebelumnya, ISO 9001:2008, oleh Kepala Bidang (Kabid) Bina Program dan ISO Masjid al-Ikhlash Jatipadang, Ustaz Ir. H. Rahadi Mulyanto, yang juga Wakil Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) DMI Kota Jaksel.

Ketua Umum DKM Masjid Al Ikhlash Jatipadang, Ir. H. Budi Sahirman, M.Sc., dan Ketua Yayasan Mujahidin Pegawai Pertanian, Dr. H. Sinis Munandar, M.S., juga meluncurkan secara resmi Sistem Akuntansi Masjid Online, dengan prosesi menekan tombol mouse komputer secara bersama-sama.  Sistem Online ini dibuat oleh salah satu jamaah Masjid Al-Ikhlash Jatipadang bernama Absar Jannatin, S.E., Ak., yang juga pemilik Absar Jannaatin & Co Accounting, Management, Information Technology – Solution. Sebelum diimplementasikan khusus untuk akuntansi masjid, software keuangan untuk sistem ini juga telah beroperasi pada perusahaan-perusahaan besar kliennya.

Menurut Rahadi Mulyanto, setelah software itu diimplementasikan di Masjid Al Ikhlash Jatipadang, maka selanjutnya akan diwaqafkan untuk semua masjid yang mau menerapkan sistem software itu.

“Setelah diimplementasikan di MAsjid Al Ikhlash Jaripadang, software keuangan itu akan diwaqafkan untuk semua masjid yang mau menerapkan dan menggunakan Sistem Akuntansi Masjid Online,” katanya.

Upaya DMI

Ini memang tantangan bagi para takmir masjid di seluruh Tanah Air. Selama ini takmir masjid mengelola tempat ibadah hanya sesuai penafsirannya masing-masing terhadap ajaran agama. Tanpa ada standar yang menjadi rujukan bagaimana sebuah masjid dikelola secara profesional agar para jamaahnya semakin betah, nyaman, dan memiliki kepercayaan tinggi terhadap tempat ibadahnya tersebut. Nah, sudah Saatnya Manajemen Masjid Ber-ISO 9001:2015.




Untuk itu Dewan Masjid Indonesia (DMI) saat ini tengah berupaya mendapatkan predikat International for Standardization (ISO) 9001:2015. Nanti ketika DMI bisa meraih ISO itu dipastikan bisa menunjang upaya pemakmuran masjid di seluruh Indonesia sebab adanya standar mutu dalam pengelolaan masjid akan memudahkan pengelola masjid lain menetapkan tolok ukur dalam bekerja memakmurkan masjid. Sudah Saatnya Manajemen Masjid Ber-ISO 9001:2015.

Sekretaris Pemuda DMI, Ahmad Syarifuddin, menuturkan, pengurus masjid selama ini kesulitan mengukur kemakmuran sebuah masjid. Pasalnya belum ada instrumen yang dapat digunakan untuk menilai secara komprehensif sebuah masjid dikatakan makmur atau belum. Karena itu perlu adanya ISO.  "Karena itu kami mengupayakan ISO ini," kata Ahmad Syarifuddin.

Dengan ISO, kata Syarifuddin, pengurus masjid lebih mudah bekerja untuk memakmurkan masjid. Selanjutnya DMI bisa membuat semacam formulir yang perlu diisi pengurus masjid. Formulir ini dapat menjadi data awal bagi pengurus masjid untuk mengambil suatu kebijakan yang tepat sasaran bagi jamaah dan masyarakat sekitar.

Syarifuddin memberi contoh, ada masjid yang menentukan target jamaah shalat Subuh dalam sebulan itu berjumlah 100 orang. Dalam proses pemenuhan target ini, pengurus masjid diharuskan melakukan rekapitulasi setiap hari jumlah jamaah salat Subuh-nya. Namun, bila ternyata yang tercapai hanya 70 atau 80 orang saja, maka pengurus bisa mengambil strategi baru agar target itu bisa tercapai.

"Langkah ini akan menjadi bahan penilaian tiap bulan atau tiap pekan tergantung komitmen pengurusnya. Nanti kita standarkan manajemennya apakah tiap bulan atau bagaimana. Agar peningkatan pemakmuran masjid ini ada buktinya," katanya.




Syarifuddin mengatakan, pemberlakuan instrumen ISO dalam pengelolaan masjid ini supaya ada catatan yang jelas dari berbagai kegiatan di masjid. Selanjutnya agar ada Standard of Procedure (SOP) pada beberapa hal, seperti tata kelola keuangan dan lain sebagainya. "Kami mengaktifkan SOP. Misalnya soal keuangan,  SOP keuangan masjid itu seperti apa?" ujarnya.

Lalu apakah sudah ada masjid yang mengantongi ISO tersebut? Ternyata banyak masjid yang belum ada ISO-nya. Bahkan, menurut Syarifuddin, sejauh ini masjid yang mempunya predikat ISO 9001 baru Masjid Al-Ikhlas di Jatipadang, Jakarta Selatan. 

"Setahu saya, masjid Al-Ikhlas ini sudah dari 2007 (punya ISO), dan mereka settle untuk ISO ini. Karena kan ISO ini disertifikasi secara internasional," katanya. Sudah Saatnya Manajemen Masjid Ber-ISO 9001:2015 seperti Masjid Al Ikhlas Jatipadang. (rpk/hud/dmi)






Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Masjid Al Ikhlas Jatipadang Ber-ISO: Wakafkan Software Akuntansi Online ke Semua Masjid"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel