Kartini, Khadijah, Siti Aisyah, dan Khofifah



HAJIMAKBUL.COM - Peringatan Hari Kartini yang jatuh pada hari ini, Minggu (21/4/2019), menjadi momen refleksi tentang peran dan kekuatan perempuan di Indonesia. Kartini merupakan perempuan Jawa yang mencerahkan, memberdayakan perempuan lain dalam semua sektor kehidupan. Tidak hanya jadi konco wingking bagi suami.

Jauh sebelum Kartini, di zaman Rasulullah Muhammad SAW, istri Nabi sudah memberi teladan bagi semua perempuan di dunia. Juga memberi contoh bagi lelaki dalam memandang dan menempatkan perempuan dengan terhormat secara proporsional dalam bermasyarakat.

Teladan yang baik itu ditunjukkan oleh Khadijah RA,  isteri Rasulullah, yang telah memberikan andil besar dalam proses kenabian  Rasulullah dan ketika Beliau merasa begitu takut kala malaikat Jibril  mendatangi Beliau membawa wahyu yang pertama kalinya di Gua Hira’.

Nabi Muhammad pun pulang ke rumah dengan gemetar. Bahkan  hampir pingsan. Beliau lalu berkata kepada Khadijah: “Selimuti aku, selimuti aku! Sungguh aku khawatir dengan diriku.” 

Demi melihat Nabi yang sangat cemas, Khadijah pun berkata kepada Beliau:

“Tenanglah. Sungguh, demi Allah, sekali-kali Dia tidak akan menghinakan dirimu. Engkau adalah orang yang senantiasa menyambung tali silaturahim, senantiasa berkata jujur, tahan dengan penderitaan, mengerjakan apa yang belum pernah dilakukan orang lain, menolong yang lemah dan membela kebenaran.” (HR. Bukhari, Kitab Bad’ al-Wahyi no. 3, dan Muslim, Kitab al-Iman no. 160)

Bukan hanya Khadijah. Peran Siti ‘Aisyah RA  juga sangat besar dalam perjuangan dakwah Rasulullah SAW. Bahkan Siti Aisyah juga ikut bertempur di medan perang. Aisyah memberi contoh perempuan tidak hanya di rumah mengurus pekerjaan domestik tapi juga melakukan pekerjaan besar sesuai dengan tuntutan masyarakatnya. Lebih dari itu memang harus bersama suami. Setidaknya izin suami.

Siti Aisyah juga banyak dikenal oleh para sahabat, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, sebagai orang yang banyak menerima hadits dari Nabi SAW  berkenaan dengan hukum-hukum agama. Khadijah dan Aisyah tidak berbeda dengan Kartini yang menyadarkan semua orang bahwa perempuan sejajar dengan pria sesuai dengan kodrat dan tugas masing-masing.

Masih ingin melihat betapa penting peranan dan tugas perempuan? Lihat dan renungkan firman Allah SWT ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.” (QS. Luqman: 14)

Juga firman Allah dalam Al Quran ini: “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Allah SWT sangat memuliakan perempuan. Khususnya ibu. Karena itu Nabi SAW juga sangat memuliakan perempuan.

Hadits Nabi SAW ini menceritakan penghargaan Beliau kepada Ibu. 
Suatu ketika  seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu dia bertanya:

 “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi saya untuk berlaku kebajikan kepadanya?”

 Nabi menjawab, “Ibumu.” 

Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa lagi?” 

Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” 

Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” 

(HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

Khofifah dan Kartini

Begitulah agama Islam sangat menghargai perempuan. Memuliakan perempuan. Menghormati kaum hawa. Dalam dunia modern, banyak perempuan tangguh yang mampu menunjukkan perannya secara proporsional. Misalnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. 


Khofifah adalah gubernur perempuan pertama di Jatim. Bagi Beliau nilai-nilai Kartini masa kini terus digeliatkan para perempuan dari seluruh lapisan elemen dalam status sosial ekonomi level apapun. 




Bahkan, menurut Beliau, para ibu-ibu yang berjualan sayur di pasar, berjualan gorengan, para pejuang ekonomi keluarga, adalah sosok Kartini riil yang ada di sekitar kita saat ini. 


Mereka yang tak kenal lelah setiap hari berjuang untuk bisa menghidupi keluarga, menjaga agar api di dapur terus mengepul dan menyisihkan penghasilannya guna memberikan pendidikan untuk para anak-anaknya adalah sosok nyata Kartini masa kini.

"Para perempuan, ibu-ibu yang tengah malam berjualan sayur di berjualan gorengan, berjualan ikan di pasar tradisional, yang sehabis subuh mereka sudah kembali ke rumah dengan memperoleh keuntungan dari hasil berdagang, mereka memiliki kontribusi yang sangat besar ketika mereka menyisihkan keuntungan yang sedikit itu untuk biaya pendidikan anak-anaknya, mereka itu lah perempuan hebat tanpa suara yang sebenarnya penuh karya," kata Khofifah mengungkapkan tentang makna Hari Kartini, Minggu (21/4/2019).


Mereka, Khofifah melanjutkan, adalah perempuan-perempuan yang memiliki kontribusi besar dalam pemberdayaan masyarakat bangsa dan negara. 




Para ibu-ibu itu juga adalah pahlawan seperti Kartini yang juga berjuang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia yang dimulai dari keluarga kecil yang mereka miliki. 

"Terlebih saat ini sudah banyak perempuan yang masuk sektor ekonomi digital. Mereka bisa aktif berjualan cukup melalui gadget jadi tidak harus keluar rumah, sehingga fungsi ekonomi dan ketahanan keluarga bisa berjalan bersamaan," katanya. 

Menurut wanita yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini, para perempuan Kartini masa kini itu harus menjadi satu kesatuan yang sama-sama berjuang untuk membangun kualitas sumber daya manusia dan ekonomi bangsa. 


Bukan hanya para ibu-ibu dan perempuan yang ada di kawasan perkotaan, melainkan juga termasuk mereka para ibu-ibu dan perempuan di daerah pedalaman, di kepulauan terpencil, bahkan yang ada jauh di daerah perbatasan, menurut Khofifah semua harus bergandengan tangan dan terjalin koneksitas dengan sektor-sektor stratagis.





"Mereka harus berjejaring dengan yang ada di kota, dengan sektor perbankan, sektor legislatif, sektor  eksekutif, semua jejaring itulah yang akan meneguhkan ketahanan, kekuatan masyarakat bangsa dan negara Indonesia," imbuh Khofifah.


Lebih lanjut, keteladanan sosok Kartini masa kini menurut Khofifah bisa diwujudkan dalam banyak hal. Terutama dengan meneladani sikap keteguhan, ketegaran, dan juga keberanian dari sosok Raden Adjeng Kartini. 


"Selamat Hari Kartini. Kartini hari ini adalah Kartini yang punya keteguhan dan ketegaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan dimana pun mereka berada dan dalam status sosial ekonomi selevel apapun. Dan dari level manapun itu, mereka akan tetap memberikan kontribusi terhadap peneguhan masyarakat bangsa dan negara kita serta terus membangun ketahanan masyarakat bangsa dan negara Indonesia," pungkas Khofifah. 

(gatot susanto)










Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kartini, Khadijah, Siti Aisyah, dan Khofifah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel