Isra' Mi'raj dan Sinyal Langit Kecanggihan Teknologi Ilahiyah (1)



HAJIMAKBUL.COM - Umat Islam secara rutin memperingati Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW yang tahun ini tepatnya jatuh pada Rabu 3 April 2019 Masehi. Warga RT saya di Bluru Permai Sidoarjo menggelar acara memperingati perjalanan spiritual Kanjeng Rasul SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha---langit level 7 yang menjadi lokasi Nabi Muhammad SAW berdialog dengan Allah SWT hingga adanya perintah khusus untuk melakukan salat lima waktu dalam sehari bagi umat Muhammad--pada Selasa malam nanti.

Isra' Mi'raj terjadi pada 27 Rajab tahun ke-10 kenabian Beliau atau sebelum hijrah ke Madinah. Sekarang kalender Hijriyah adalah tahun 1440 H.

Al Qur'an Surat (QS) Al-Isra’ ayat 1 dan QS An-Najm ayat 13-18 mengabarkan peristiwa ini:

“Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. (QS. 17. Al-Isra’ :1)

“Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm:13-18)


Perjalanan spiritual Nabi SAW ini sepintas tidak masuk akal, sehingga dikategorikan sebagai ghaib. Bayangkan saja, perjalanan  Kanjeng Nabi dengan menempuh jarak yang sangat amat jauh hanya ditempuh dalam waktu satu malam saja. Naik pesawat ulang alik saja tidak akan nutut bila mengejar pesawat Nabi itu. Saking cepatnya. Bila memakai ukuran normal, menggunakan kecepatan cahaya atau  299.792.458 meter per detik.

DR. Mansour Hassab El Naby, pakar astrofisika dari Mesir  saat membuktikan pernyataan Al-Qur’an dan hadist Rasulullah SAW bahwa Zat Malaikat adalah Cahaya, mendasarkan, pada Al-Qur’an surah As-Sajadah ayat 5 yang menyatakan sebagai berikut:

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu."

Itu satu hari. Isra' Mi'raj ditempuh hanya satu malam. Maka, tidak ada yang bisa menyamai misi Nabi dengan menunggang kendaraan bernama Bouroq itu. Kendaraan ini dicitrakan sebagai makhluk, tapi sebenarnya sama dengan pesawat super canggih, hanya saja ini made in Allah SWT. Sedang pesawat ulang alik ruang angkasa bikinan manusia banyak memiliki kekurangan karena made in manusia. Padahal sudah disebut sangat canggih.

Karena itu, misi Nabi ini jelas memiliki hikmah bersifat spiritual, termasuk perintah salat lima waktu, dan kecanggihan dan kemutakhiran dari perjalanan Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Soal hikmah spiritual sudah dibahas dalam berbagai forum pengajian termasuk ceramah ustad di RT saya, tapi perlu pula diteliti lebih jauh tanda-tanda yang sudah ditunjukkan Allah melalui RasulNya tersebut Mulai dari paket tour lintas jagat itu sendiri hingga pengalaman Nabi selama perjalanan.

Bila umat Islam canggih dalam berpikir ilmiah, rajin melakukan riset, melakukan eksplorasi, pasti akan ditemukan ilmunya bagaimana bisa Rasulullah SAW menembus berbagai galaksi di antariksa menuju langit ke-7. Kanjeng Rasul pasti tidak akan bicara soal perintah ibadah mahdloh saja seperti salat wajib lima kali sehari itu, tapi pasti pula bercerita pengalaman lain, termasuk kecanggihan pesawat dan apa saja pengalaman dalam perjalanan paling fenomenal di muka jagat raya ini. 

Ya, samalah seperti kita sehabis pulang haji atau umrah, lalu cerita ini itu soal pengalaman selama di pesawat hingga di tanah Al Haram.

Bila umat Islam mewarisi kecanggihan teknologi kerasulan Beliau, sekarang yang menguasai antariksa, yang memiliki biro wisata jelajah antariksa, bukan bosnya Tesla, Elon Musk,  tapi salah seorang di antara kita semua umat Islam. Artinya, bila kita mewarisi iptek ala Rasul, tidak hanya wisata religi ke makam walisongo, walilimo, atau walipitu saja, tapi juga wisata Isra' Mi'raj, atau setidaknya mendekatinya. 


Sekarang yang ada baru umrah plus Masjidil Aqsa, apa tidak mungkin kelak ada umrah plus ke langit level 1 atau kalau bisa langit level 7. Wallahu'alam.


Ilmu Allah maha luas, maha besar, maha tinggi,  dan semua untuk manusia dalam beragam tingkat pencapaiannya. Namun sayang umat Islam tidak bisa mewujudkan tantangan Kanjeng Nabi itu sebab sibuk bertengkar sendiri, konflik rebutan kekuasaan, bertengkar rebutan kursi, duit, dan hal remeh lain. Sibuk menuruti rayuan maut para musuh Islam.


Tergelincir rayuan setan.

Hehehe, mungkin,  termasuk pula eker-ekeran, gegeran tak substansial, soal acara peringatan Isra' Mi'raj itu sendiri. Lunyu...eh..., lucu bukan!? Teman saya tadi malam cerita soal debat kusir soal tema acara ini.


Yang tragis, kekuasaan, kursi, duit sengaja disajikan oleh musuh Islam agar umat Islam konflik terus hingga lupa akan tantangan ilmu pengetahuan yang sudah ditunjukkan Nabi. Isra' Mi'raj jelas menunjukkan kepada kita, betapa canggihnya iptek yang dialami Rasulullah.

Kecanggihan itu yang dipelajari oleh orang Barat untuk ditiru. Kabar dari dunia Islam dicuri untuk keuntungan mereka. Bila berhasil, mereka membuat koloni-koloni baru di antariksa. Sedang umat Islam akan terus berebut lahan yang semakin menyempit di bumi. Orang Barat berebut tanah kavling di Mars, umat Islam masih membeli kavling siap bangun di pinggiran kota---sebab yang di tengah kota dikuasai umat lain.

Dalam kaitan kepemimpinan, kita bisa saja sinis bicara, iptek semacam itu tidak merakyat sebab yang menikmati kalangan superkaya. Memang, apa bisa bakul jamu, tukang becak, yu ton, yu jah, ning pariyem, cak mat, cak adri, gus nur, mas nda,  melakukan wisata planet yang harganya sangat mahal? Apa mungkin ketemu Elon Musk, yang dengan SpaceX akan mengadakan tour wisata ke Mars tahun 2025? Saya kira kok ya gak mungkin, bro! Kecuali dengan izin Allah SWT tentunya. Sebab harga karcisnya wow supermahal.

Berapa?

Kabarnya  kurang dari 500 ribu dolar AS atau Rp 7 miliar bila tidak penuh penumpang. Bila full bisa ditekan di angka Rp 1,4 miliar saja. Apa mungkin Pak Nda nge-Grab 10 tahun bisa mengumpulkan duit Rp 1,4 miliar untuk tur ke Mars?



Namun, harus dipahami, penguasaan teknologi itu fardu kifayah. Satu orang yang ahli terkena hukum wajib, kemudian bisa memberikan efek ekonomi ketika hasil dari biro wisata antariksa ini juga diberikan untuk rakyat. Dunia modern Barat bukan meraih kejayaan karena semua warganya, tapi karena sedikit orang kaya, cerdik pandai, intelektual yang baik hati, yang memikirkan rakyat, dan bukan hanya mengurus perut sendiri atau kelompoknya.

 Eropa, Amerika, Australia, Jepang, China  bahkan India---mana negara muslimnya Bro!---menjadi maju bukan karena semua warganya, tapi sedikit orang baik yang ingin menjadikan semua orang baik. Negara-negara itu sudah mengirim misi ke Mars tapi sebagian besar gagal.


Rasulullah SAW satu-satunya manusia yang sangat amat baik, yang  bukan hanya ingin menjadikan semua umat di jagat raya ini menjadi baik tapi terpilih dan layak menempati koloni made in Allah: surga. Beliau sudah sukses jauh melampaui Mars. Bahkan jauh di atas galaksi kita.

Obsesi orang seperti Elon Musk membuat koloni di planet lain juga karena ingin meniru sifat Allah SWT yang inovatif--meski kata ini sangat amat kecil bila dipakai untuk menandai proses penciptaan sesuatu yang dilakukan Allah. Namun, sifat-sifat seperti inovatif justru banyak dilakukan oleh nonmuslim. Umat Islam seakan sudah cukup menjadi kasta konsumsi saja. Tukang makan bukan koki.  Pemakai saja alias konsumen  bukan produsen.  (Gatot Susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Isra' Mi'raj dan Sinyal Langit Kecanggihan Teknologi Ilahiyah (1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel