M. Nuh, Santri dari Pesantren Langgar Kampung



HAJIMAKBUL.COM - Mohammad Nuh. Siapa tidak Kenal Mohammad Nuh? Arek Desa Surabaya dari Kampung Gunung Anyar ini dilahirkan pada `17 Juni  1956, dari pasangan Abah Muchammad Nabhani dan Emak Munziyati. Nuh kecil sudah terbiasa dengan kerja keras. Ia tumbuh dalam lingkungan agama yang kental.

Nuh anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Mereka adalah Hj. Dzuroibah, H. Mohammad Thohir (alm.), Mohammad Nuh, Mohammad Adib, Siti Faudah, Siti Asiyah, Hanik Musyafaah, Abdul Mujib, Khoirul Hasanah, dan Isnainiyah.

Nuh memang tidak pernah mondok di pesantren, tapi lingkungannya telah membentuk dirinya sebagai seorang santri. Kegiatan belajar mengaji di kampung sudah jadi rutinitas harian. Suasananya sudah seperti di pesantren. 

Menjelang azan Maghrib anak-anak, termasuk Nuh, sudah duduk siaga di dalam langgar. Tak ada kurikulum tertulis. Tapi, rata-rata mereka sudah pandai membaca Alquran dan belajar kitab kuning standar seperti Safînah al-Najâh, Sullam al Tawfîq, Aqîdatul Awam, Nahwu Wâdhih, Ta‘lîm al-Muta‘allim, maupun Khulâshah Nûrul Yaqîn.

Begitulah suasana di Gunung Anyar saat itu. Pagi ke sekolah, siang ke tempat bermain (atau istirahat), sore hingga bakda isya ke langgar (mushala). Mengaji adalah harga mati bagi keluarga Muhammad Nabhani, ayah Nuh. Berlaku bagi Nuh dan seluruh saudaranya tanpa kecuali. Ngaji nomor satu, kalau gak ngaji dipukul.

Meski orang tua Nuh tidak dapat baca-tulis huruf latin, namun lancar membaca huruf hijaiyah dan arab pego. Kendati tinggal di pelosok desa Surabaya dan tidak dapat baca-tulis, orang tua Nuh memiliki wawasan jauh ke depan tentang pendidikan.

Sami’na wa atho’na. Saya dengar dan saya lakukan. Begitulah sikap Nuh terhadap kedua orangtua. Tiada kata yang keluar dari mulut kedua orangtuanya ditawar. Apalagi dibantah. Terutama kepada Emak. Apa yang dibilang Emak diturut langsung!

Pendidikan formal Nuh dimulai dari SD Al Islah, sekolah yang didirikan oleh orangtuanya. Saat SD, Nuh hampir selalu juara kelas. Oleh karena itu, sewaktu kelas lima SD dirinya diminta ikut ujian akhir kelas enam, lalu berturut-turut SMP Wahid Hasyim, SMA Negeri 9, kuliah di ITS, lalu melanjutkan magister dan doktoral di Universite Scince et Technique du Languedoc, Montpellier, Prancis.

Memasuki usia ke-60 tahun, Nuh meluncurkan dua buku. Pertama, buku biografi dengan judul “Menguatkan Mata Rantai Terlemah” berisi perjalanan hidupnya semenjak kanak-kanak hingga saat ini, serta kesibukannya setelah tidak lagi menjabat sebagai menteri.

Buku kedua berjudul “Menjangkau yang Tidak Terjangkau”, yangberisi tentang percikan pemikiran dan kebijakan untuk kemaslahatan yang dijalankan Nuh semasa diberi amanah sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika pada Kabinet Indonesia Bersatu Pertama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  pada Kabinet Indonesia Bersatu Pertama.Meski bukan merupakan serial, kedua buku ini saling terkait antara satu dengan yang lain. 

Yang jelas, interaksi dengan keluarga inti serta dengan lingkungan kampung Gunung Anyar telah membentuk pribadi Nuh menjadi pekerja keras, religius, dan peduli dengan sesama, terutama dengan kaum dhuafa. 

Mohammad Nuh termasuk orang yang meyakini bahwa cara yang paling efektif untuk memutus mata rantai kemiskinan adalah melalui pendidikan. Keyakinan ini mengkristal lantaran pengalaman konkret yang dialami serta berdasar hasil kajian penelitian ilmiah yang dipelajari. Saat menjadi 

Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya, Nuh pernah memberi kesempatan kuliah kepada beberapa anak dari keluarga miskin, seperti anak janda perawat mayat atau anak tukang becak. Belakangan terbukti bahwa mereka mampu mengangkat derajat kesejahteraan keluarga mereka. 

Oleh karena itu ketika mendapat amanah menjadi Menteri, maka kebijakan dan program yang dijalankan sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan karakter yang terbentuk semenjak masih muda. Sejumlah kebijakan yang dicanangkan mencermikan keberpihakanya kepada masyarakat lemah dan terpencil. Berupaya menjangkau mereka yang belum terjangkau. 

Program bantuan Bidikmisi adalah salah satu contohnya. Anak-anak keluarga miskin yang memiliki kemampuan akademik diberi kesempatan untuk kuliah S1, bahkan didorong untuk melanjutkan studi ke level yang lebih atas lagi. Nuh juga turut menginisiasi lahirnya Undang-Undang Pendidikan Tinggi, yang antara lain berisi amanat bahwa “semua perguruan tinggi negeri wajib memberikan jatah 20 persen kursinya untuk mahasiswa baru dari kalangan warga miskin. “

Akhirnya, selamat membaca semoga bermanfaat bagi kita semua. Kedua buku ini bukan untuk dikomersialkan. Hasil dari buku ini sepenuhnya akan diwafakkan melalui Badan Wafaf Indonesia. (Sukemi)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "M. Nuh, Santri dari Pesantren Langgar Kampung"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel