Bisyaroh, Tradisi Baik Pesantren yang Tercemar Politik




HAJIMAKBUL.COM - Maraknya kasus korupsi berupa suap tidak lepas dari tradisi salah kaprah yang dilakukan oleh oknum tokoh masyarakat hingga pejabat. Tradisi bisyaroh memberi amplop berisi uang misalnya sebenarnya konteksnya bagus untuk memberi reward bagi takmir, ustad, atau guru mengaji di masji-masjid. Bisa pula untuk tujuan baik lain sebagai hadiah atau bonus.

Namun kemudian tradisi ini dibuat salah kaprah ketika seorang ustad hingga kiai yang memberikan ceramah agama lalu diberi amplop berisi uang. Bahkan, ada oknum penceramah agama merasa kurang dengan uang yang ada di amplop tersebut. Lalu ngambek. Marah. 

Tradisi bisyaroh semakin salah kaprah bila sang ustad atau kiai semakin terkenal meminta bayaran mahal untuk mengisi acara ceramah agama. Bahkan menolak bila tidak dibayar sesuai tarif yang ditentukan oleh manajemen si kiai atau ulama itu. Dalam perkembangannya, kiai yang sudah ngetop itu membuat manajemen sendiri untuk pementasan ceramahnya.

Perkembangan bisyaroh semakin salah kaprah ketika pilkada, pemilu legislatif, dan pemilihan presiden. Pesta demokrasi seakan dijadikan kesempatan bagi oknum ustad atau kiai ini untuk menambah pundi-pundi uangnya. Kekayaan ustad atau kiai meningkat ketika musim panen pesta demokrasi. Kendaraannya tidak lagi kijang kapsul apalagi kijang tepak tapi berganti dengan mobil Toyota Alphard, Fortuner, atau paling jelek Xpander.

Maklum saja tim sukses pilkada hingga pilpres sowan silih berganti. Lalu meminta agar kiai atau ustad untuk mencoblos jagonya. Saat pulang menyelipkan amplop atau bisyaroh berisi uang ke tangan kiai atau ustad tersebut. 

Apakah ini tradisi bisyaroh yang baik seperti tujuan awalnya? Apakah ini bukan suap atau money politics? Apakah ini bukan biang dari politik biaya tinggi, yang akhirnya membuat pejabat yang memenangkan pemilu, ujung-ujungnya mencari kembalian dengan cara korupsi? Itulah yang sudah terjadi ketika banyak pejabat ditangkap KPK.

Bisyaroh memang tradisi pesantren. Saya pun ingat cerita dari santri Pesantren API Tegalrejo tentang KH Abdurrahmad Chudlori atau Mbah Dur. Saat masih sehat, tiap hari rata-rata Mbah Dur mengisi ceramah agama di dua tempat. Namun sampai meninggalnya beliau tak pernah tahu dari siapa dan berapa bisyaroh yang beliau dapatkan.

Setiap mendapatkan amplop bisaroh, menurut santri yang dekat dengan beliau, Mbah Dur menaruh amplop-amplop itu di dashboard, saku jok bahkan di bawah karpet mobil. Dan dalam waktu yang lama amplop-amplop itu berada di mobil Mbah Dur. Ini bukan karena tidak menghormati pemberian namun menurut beliau untuk mejaga keikhlasan dalam berdakwah. 

Bahkan ketika amplop bisaroh itu hanya berisi Rp. 600,- pun beliau tak pernah tahu. Amplop-amplop itu kemudian dikumpulkan oleh santri dekat Mbah Dur ketika akan mencuci mobil, dan memasukkan amplop-amplop itu untuk kepentingan Pesantren. Tak serupiah pun Mbah Dur dan keluarganya menikmati amplop bisaroh itu, karena Mbah Chudlori sang ayahanda mengharamkan kecuali untuk kepentingan umat/pesantren.

Heboh Bisaroh Luhut

Isu bisyaroh ini semakin santer dibicarakan ketika beredar video yang diunggah oleh akun @andiArif, berisi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, sowan ke KH Zubair Muntasor, di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, dengan caption "Ini cara Jokowi membeli suara". Video itu viral di media sosial. 

Saya tentu tidak akan pernah menuduh Kiai Zubair Muntasor yang sangat disegani dan dihormati umat itu menerima money politic. Sebab, Beliau memang tidak melakukannya. Tapi seharusnya Luhut harus lebih berhati-hati. Bila dia ingin membantu Sang Kiai tidak perlu dilakukan secara terbuka di hadapan sejumlah orang, serta tidak disertai embel-embel agar mendukung Jokowi. 

Luhut harus menghormati Beliau sebab Beliau tidak mungkin juga menolak pemberian dari orang lain yang tujuannya baik. Beliau sangat menghormati tamunya. Bisyaroh esensinya juga saling menghormati, tapi tidak boleh menimbulkan fitnah. 

Mengapa? Ya, masalahnya sekarang musim kampanye Pilpres, sehingga secara tidak langsung membuat orang melakukan penafsiran yang bisa sangat keliru. Yang kemudian cenderung fitnah. 

Ketua GP Ansor Kabupaten Malang pun menanggapi unggahan video di twitter @andi arif itu. Dia menilai, bahwa apa yang dilakukan Luhut bagian dari tradisi pesantren, di mana santri saat sowan ke kiainya memberikan sesuatu.

"Tradisi sungkem ketika sowan ke Kiai itu sudah ada sejak dulu. Bukan hanya ketika jelang Pilpres,” jelas Ketua GP Ansor Kabupaten Malang, Husnul Hakim Syadad, kepada TIMES Indonesia, Selasa (2/4/2019).

Husnul, begitu dia karib disapa, merasa ikut terusik dengan apa yang dituduhkan oleh akun @anfi arif tersebut. Dia menyampaikan bahwa ketika sowan ke Kiai, santri sudah biasa "salam tempel" atau memberi uang kepada kiainya.

"Hal itu diniatkan para santri atau masyarakat umum untuk titip kepada kiai dalam perjuangan. Kadang bukan hanya amplop yang diberikan. Tapi ada juga yang membawa hasil pertanian seperti pisang, padi, ayam dan lainnya. Sudah tradisi itu,” katanya.

Jadi, terang Husnul, jangan kemudian dipolitisir dan dikira suap atau politik uang. “Kasihan marwah kiai, jika dinilai itu bentuk suap pada kiai,” katanya.

Apalagi, kata Husnul, Kiai Zubair Muntasor itu adalah sosok kiai sepuh di Bangkalan, Madura, yang menjadi teladan umat Islam dan para santrinya. "Apa yang dilakukan Pak Luhut itu, hanya sekedar sedikit memberi kepada kiai,” jelasnya.

Atau uang yang diberikan di dalam amplop itu berniat untuk membantu biaya perawatan Kiai Zubair. “Yang jelas itu adalah tradisi santri kepada kiainya di Jawa Timur. Jangan dimaknai uang politik,” tegasnya.

Lebih lanjut Husnul mengungkapkan, bahwa selama ini Luhut Binsar Panjaitan, memang sangat dan bahkan sudah menilai bahwa Kiai Zubair adalah gurunya. “Sudah dijelaskan oleh Pak Luhut jika berkunjung ke kiai karena sudah lama tidak sowan,” katanya.

Bahkan, ketika Luhut masih belum menjabat Menteri, memang sudah dekat dengan beberapa kiai di Jawa Timur. Ia sudah terbiasa sowan ke para kiai di Jawa Timur. Dekat juga dengan petinggi Muslimat NU di Jatim dan pengurus GP Ansor di Jawa Timur.

"Dari itu, tolong jangan sakiti kiai kami, dengan memfitnah kiai menerima sogokan atau menerima amplop. Karena para kiai juga tidak pernah minta untuk dikunjungi. Jika mimfitnah kiai, awas kualat. Santri di Jawa Timur jelas tidak terima jika kiainya disakiti apalagi difitnah,” ancam Husnul, menyikapi soal video Luhut Binsar Panjaitan memberikan amplop ke KH Zubair Muntasor.

Luhut sendiri menilai, pihak yang mempersoalkan pemberian amplop dan ramai dibicarakan di media sosial merupakan pekerjaan orang sakit hati. 

"Itu (amplop) nggak ada apa-apanya, jangan kaitkan ke mana-mana, hanya (ngasih) ke orang sakit saja,” katanya saat meninjau lokasi bandara di Bilah Hulu, Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (4/4/2019).

Dari video yang beredar, Luhut terlihat datang dengan beberapa orang yang mengenakan baju berwarna putih. Dalam video tersebut, Luhut sempat meminta kepada sang kiai untuk menyampaikan kepada santri, dan seluruh pengikutnya untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 17 April 2019 mendatang. 

Ia juga meminta kepada sang kiai agar mengimbau santri dan pengikutnya untuk memutihkan TPS. "Umat, santri datang ke TPS, semua kita pakai baju putih," ucap Luhut kepada sang kiai sambil agak berbisik saat menyebut kata 'baju putih'--yang akhir-akhir ini jadi simbol Jokowi.

Video tersebut kemudian beredar, salah satunya dicuit ulang oleh Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Andi Arief. Andi menilai langkah Luhut sebagai aksi beli suara untuk kepentingan Jokowi di Pilpres 2019. (gas)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " Bisyaroh, Tradisi Baik Pesantren yang Tercemar Politik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel