Belajar dari Disway, Dahlan Iskan Way



HAJIMAKBUL.COM - Pagi ini saya membaca tulisan Dahlan Iskan di disway.id tentang cerita Beliau bezuk Ibu Ani Yudhoyono yang sedang menjalani perawatan di RS Singapura akibat penyakit kanker darah. Semoga Ibu Ani segera diberi kesembuhan total oleh Allah SWT. Amiin

Saya suka membaca tulisan Dahlan Iskan karena Beliau wartawan senior yang tulisannya ringan, renyah dikunyah, dan kaya data maupun opini yang bernas, kritis tapi bijak.





Dalam dunia jurnalistik opini tidak boleh masuk ke tulisan straight news tapi sah-sah saja pada features yang menjadi ciri khas tulisan Dahlan Iskan pada disway.id-- platform yang menjadi tempat ekspresi intelektual dan mungkin juga spiritual bagi Dahlan Iskan setelah tidak lagi mengendalikan Jawa Pos Group.

Sebelumnya tulisan Dahlan Iskan selalu muncul di halaman utama Jawa Pos Group yang sekaligus sebagai upaya menunjukkan sikap Beliau terhadap isu-isu politik, ekonomi, dan lain-lain yang menjadi trending topic media massa.

Dahlan Iskan bukan hanya contoh wartawan yang dengan kerja keras dan cerdasnya telah berhasil menginspirasi banyak orang termasuk milenials untuk menerjuni dunia jurnalistik, tapi juga mampu membangun kerajaan bisnis media dan bisnis lain serta menapak dunia politik meski akhirnya Beliau harus terpental. 

Ini bukti sekeras apa pun manusia berusaha tapi bila Allah SWT tidak menghendaki akhirnya gagal juga. Namun kegagalan ala Dahlan Iskan mungkin bukan sia-sia. Sebab sebagian di antara kerja kerasnya ada ijtihad. Yang mungkin salah tapi insya Allah dapat pahala meski hanya satu. Kesalahan Beliau dalam ijtihad baik dalam dunia politik pemerintahan maupun bisnis sudah dihadapi secara hukum. Kesalahan sosial dan spiritualnya mungkin harus dilunasi satu per satu dengan perbuatan baik kepada sesama.

Misalnya soal dugaan Beliau sebagai orang yang ikut meruntuhkan Harian Sore Surabaya Post--media cetak yang menjadi nomor satu di Jawa Timur sebelum akhirnya Jawa Pos mulai membesar. Namun, ini sebatas dugaan. Isu yang saya sendiri belum tahu kebenarannya. Tapi secara umum koran sore itu memang ada kesalahan manajemen hingga tidak bisa melawan gelombang zaman.

Hanya saja, bila ternyata isu itu benar, semoga saja Dahlan Iskan diampuni kesalahannya. Amiin. Dan alhamdulillah juga, saat ini sejumlah teman saya di Surabaya Post dulu juga dekat dengan Beliau. 

Dalam QS. Al-Ghaasyiah (88): 3:  dikabarkan  begini:

'aamilatun naasibatun..  Berusahalah maksimal. Sampai kelelahan. Sampai mentok. Allah mencintai orang yang bekerja keras. Nabi Muhammad SAW bahkan mencium tangan seorang sahabat pekerja keras.

Ketika Rasulullah SAW pulang dari perang Tabuk, Beliau bertemu  Sa’ad bin Mu’adz. Rasulullah SAW  melihat  tangan pria itu kasar dan kotor. Ketika ditanya,  Sa’ad menjawab, tangannnya kasar karena bekerja mengolah tanah dan mengangkut air sepanjang hari. 

Mendengar itu Rasulullah langsung mencium tangan Sa’ad bin Mu’adz RA dan bersabda: “Tangan ini dicintai Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan disentuh api neraka!”

Begitu pula terhadap Siti Fathimah az-Zahra--putri Beliau-- yang tangannya juga kasar dan keras.  Rasulullah dengan penuh kasih sayang mencium tangan putrinya tersebut. Karena tangan itu digunakan untuk bekerja keras menggiling gandum di rumahnya, menyiapkan makanan bagi kedua putranya dan sang suami. 

Kisah Dahlan Iskan pekerja keras sudah umun. Dahlan Iskan menjadi teladan bagi sebuah sukses besar dari hasil kerja kerasnya tapi juga kegagalan yang hikmahnya bisa memberi spirit bagi yang lain. Konon Beliau juga terpental di dunia yang dibangunnya sendiri. Dunia Jawa Pos. 

Dalam salah satu tulisannya di disway.id, maaf, seingat saya,  Dahlan Iskan awalnya "malu" menyebut Beliau dulu sering menulis di Jawa Pos. Beliau sebut Jawa Pos dengan "koran itu". Namun saat ultah pertama disway.id, Beliau menulis bila memang sudah tidak lagi di Jawa Pos. 

"Dulu saya biasa menulis di koran itu (Jawa Pos). Catatan Dahlan Iskan. Setidaknya seminggu sekali. Kadang seminggu beberapa kali. Kalau lagi ada peristiwa besar. Yang perlu diberi catatan. Inisiatif catatan itu kadang dari saya sendiri. Sering juga atas permintaan redaksi. Begitu seringnya saya menulis di Jawa Pos sampai menimbulkan kesan negatif. Ada yang bilang itu karena 'koran-korannya sendiri'. Bukan karena mutu." Begitu salah satu tulisan Beliau.

Azrul Ananda juga menulis seminggu sekali. Tiap hari Rabu. Di rubriknya yang terkenal: Happy Wednesday. Yang pembacanya golongan anak muda. Yang kumpulan artikelnya juga sudah terbit dalam bentuk buku.

"Pembaca tulisan saya lebih dewasa (baca: lebih tua). Mereka itulah. Yang menurut teman-teman tadi menginginkan saya terus menulis. Tentu mereka tahu: saya tidak mungkin lagi menulis untuk Jawa Pos."

Tulisan di DisWay yang pada tanggal 9 Februari 2019 genap satu tahun itu sudah diterbitkan Penerbit Noura Book. Isinya beberapa tulisan di DisWay. Mengambil tema: pribadi-pribadi yang menginspirasi.

Dahlan Iskan memang menginspirasi. Buku soal Beliau baik ditulis sendiri maupun yang ditulis sejumlah penulis ternama sudah banyak diterbitkan. Maklum, riak dan gelombang kehidupan Dahlan Iskan sangat berwarna. Mengagumkan dalam dua kutub yang berlawanan. Melangit sekaligus membumi. Sejumlah temannya menjuluki Beliau, bukan hanya pekerja keras dan cerdas tapi juga licik. Baik hati tapi juga "kejam"--tentu ini penilaian subjektif sejumlah orang. 

Seorang teman sangat gusar kepadanya karena terusik dengan proses pembangunan gedung yang katanya megah di hadapan Jawa Pos, The Frontage, yang sekarang mandek. Yang Mangkrak. Sementara. Apartemen The Frontage ini dikembangkan PT Panca Wira Usaha (PWU) Jatim, yang Beliau dulu pernah jadi bosnya.

Si teman sampai mengumpat, itu akibat dosa-dosanya kepada warga yang terusik oleh pembangunan gedung apartemen dan mall tersebut. 

Begitu pula saat Dahlan Iskan terkena kasus hukum. Dia menyumpahi pasti akibat dosa-dosanya kepada wong cilik seperti dirinya. Mengapa si teman sampai marah? Musababnya ternyata rumah "kontrakan abadinya" rusak parah gara-gara ada raksasa mau belajar berdiri di samping rumahnya. Dia pun sekarang harus pindah dari rumah itu. 

Cerita Dahlan Baik dan Dahlan Buruk lumrah bagi orang besar, yang sekali waktu memang "kesasar jalan"--hingga tidak tahu telah menginjak orang lain. Bila benar, kita maafkan Beliau. Bila salah, si teman mestinya juga minta maaf ke Beliau sebab sudah suudzon.

Suudzon kepada Dahlan bukan hanya dilakukan wong cilik seperti temanku tadi. Mungkin juga elite politik. Hingga Beliau dijegal di DPR. Terbaik di konvensi capres Partai Demokrat tapi terpental. Mungkin....mungkin ini ya....bila tidak terpental saat itu, sekarang mungkin kita dipimpin Presiden Disway hehehe. 

Soal ini, Beliau rasanya dapat cerita dari SBY langsung. Begini katanya dalam tulisan berjudul Menjenguk Bu Ani itu:

"Tak terasa sudah hampir 50 menit kami di ruang itu. Kami pun pamit. Pak SBY masih sempat menyenangkan tamunya lagi. Diceritakanlah  siapa saya. Kerja saya. Dan adanya pihak yang, ehm...saya."  

Ehem...

(Gatot Susanto)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Belajar dari Disway, Dahlan Iskan Way"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel