Mengenang Tragedi Haji Kolombo: Pengalaman Spiritual Seorang Islam KTP (2)


HAJIMAKBUL.COM - Buku berjudul Sujud Syukur Seorang Jurnalis: Keajaiban di Balik Tragedi Pesawat Haji di Kolombo 1978 berkisah tentang pengalaman H. Soeharto, seorang veteran jurnalis di Surabaya, yang selamat saat pesawat yang ditumpanginya jatuh di Kolombo pada 1978.

Ratusan ribu bahkan berjuta orang Indonesia telah berhaji. Masing-masing tentu memiliki kisah sendiri yang unik. Kisah H. Soeharto, yang ditulis sendiri oleh yang bersangkutan di buku ini, juga unik dan menarik. Bahkan sangat menarik.

Betapa tidak? Pada umumnya, jemaah haji adalah orang yang secara lahir dan bathin telah menyiapkan diri beberapa waktu lamanya untuk melaksanakan ibadah tersebut. Mereka mempersiapkan dana yang cukup. Mereka juga mengikuti pelatihan menasik haji pada seorang ustadz atau kiai tertentu agar ibadahnya berjalan baik dan bahkan sempurna.

Menjelang keberangkatan, seorang jemaah haji biasanya juga mengundang kerabat dan para tetangganya dalam acara “pamitan dan mohon doa restu.” Tergantung kemampuan ekonomi dan ketokohan tentu saja. Ada yang bahkan menyembelih beberapa ekor sapi. Undangan pun bisa ratusan orang.

Saat berangkat, sang calon jemaah haji biasanya juga diantar ke Asrama Haji atau tempat penampungan tertentu oleh puluhan orang, menggunakan banyak kendaraan. Para pengantar tersebut biasanya menyalami jemaah haji itu, juga minta didoakan di Mekah untuk bisa berhaji seperti sang jemaah haji.

Tetapi apa yang dialami Soeharto ini sangat lain. Meskipun seorang muslim seorang penganut Islam, dia mengaku sebagai “Islam KTP”. Dia tidak pernah menjalankan salat lima waktu, nyaris tak pernah ke mushala atau masjid, kecuali di Hari Raya Idul Fitri. Tetapi dia bisa naik haji dalam arti sebenarnya, pergi ke Mekah dan Madinah, berkat undangan Kantor Imigrasi Surabaya, sekaligus untuk meliput pelayanan pemerintah terkait ritual haji tersebut.

Dari awal keberangkatannya naik haji, kisah H. Soeharto sudah sangat menarik. Tidak ada proses manasik haji sebelum naik haji. Ketika berangkat dari rumah, Soeharto hanya berangkat sendiri dari rumah dengan naik becak ke Kantor Imigrasi Surabaya, tempat anggota rombongannya berkumpul.

Semua dituturkan secara lugu alias polos, tidak ada upaya untuk menutupi kekurangannya sebagai seorang muslim. Ketika melihat Kabah pertama kali, misalnya, Soeharto juga tidak bergetar hatinya. Dia enak saja berkomentar di depan temannya, “Oh, ini to Kabah yang jadi kiblat salat orang-orang Islam.”

Menariknya lagi, dalam perjalanan pulang dari Tanah Suci, pesawat yang ditumpanginnya mengalami kecelakaan, jatuh di Kolombo, Sri Lanka. Sebagian besar penumpangnya tewas dalam kecelakaan tersebut. Dan Subhanallah, Soeharto termasuk satu di antara sebagian kecil penumpang yang selamat. Dia pun sehat hingga kini.

Kehidupan Haji Soeharto kemudian sungguh pula menarik untuk diikuti. Karier jurnalisnya terus melesat, antara lain dengan memperoleh penugasan untuk meliput berbagai acara di berbagai negara, praktis di semua benua. Veteran jurnalis yang sebelumnya mengaku sebagai “Islam KTP” ini sekarang menjadi seorang muslim yang taat.

Salat lima waktu tak pernah ditinggalkan. Sering pula tiap Subuh dia mengikuti salat berjamaah di masjid-masjid yang berbeda di Surabaya, meskipun tempatnya jauh dari rumahnya. Rumah-rumah yatim pun sering disambanginya, ingat anak-anak yang jadi penghuninya. Dia pun beberapa kali lagi pergi haji dan umrah bersama istrinya.

Setelah beralih profesi, pindah kerja dari Surabaya Post ke PT Maspion, sebuah perusahaan konglomerasi barang-barang rumahtangga, Soeharto juga berhasil menumbuhkan iklim beribadah di perusahaan tersebut. Sebagai Asisten Direksi, dia melobi pimpinan untuk membenahi mushala-mushala yang ada di masing-masing unit pabrik Maspion. Selain bertambah luas, mushala-mushala tersebut juga lebih bersih dan nyaman.

Soeharto mengatakan, dia benar-benar menyukuri nikmat yang telah dilimpahkan Allah pada diri dan keluarganya.

Orang-orang mengatakan, itulah tanda bahwa ibadah haji Soeharto adalah mabrur. (*)

Penulis: Djoko Pitono, wartawan senior dan editor buku, tinggal di Surabaya.


#hikmahhaji #kisahhikmahhaji #tragedihaji

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Mengenang Tragedi Haji Kolombo: Pengalaman Spiritual Seorang Islam KTP (2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel