Kisah-kisah Jamaah Umrah Berjuang Mencium Hajar Aswad (1)



بِسْمِ اللهِ ، وَاللهُ أَكْبَر اللَّهُمَّ إِيمَاناً بِكَ ، وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ ، وَوَفَاءً بِعَهْدِكَ ، وَاتِّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليه وسلم

Bismillâhi wa-Llâhu akbar allâhumma îmânan bika wa tashdîqan bikitâbika wa wafâ’an bi ‘ahdika wat tibâ‘an li sunnati nabiyyika muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallam. 

HAJIMAKBUL.COM- Doa di atas biasa dipanjatkan para jamaah haji atau umrah ketika melihat dan hendak mencium Hajar Aswad. Batu surga paling mulia di muka bumi, yang jutaan umat muslim di seluruh dunia berharap bisa menciumnya, seperti halnya Nabi Muhammad SAW pernah menciumnya. Doa itu juga dibaca ketika awal memulai Thawaf. Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah dan dilakukan setelah Thawaf.

 Doa itu artinya: “Dengan menyebut nama Allah, Allah maha besar. Ya Allah, seraya iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, menepati janji kepada-Mu, serta mengikuti sunah Nabi-Mu, Muhammad shalLallahu ‘alaihi wa sallam. (Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syato’ ad-Dimyâthi, Hasyiyah I’anah ath-Thâlibîn ‘ala Halli Alfâdzi Fathi al-Mu’în li Syarh Qurratil-‘Ain, Dar el-Fikr, Beirut, juz 2, halaman 337)

 Saat berhaji, atau berumrah pada musim liburan dan Ramadhan, dapat dipastikan umat Islam tumplek blek di Masjidil Haram. Karena itu, untuk mencium Hajar Aswad bukan perkara mudah. Bukan hanya antre atau sekadar berdesak-desakan biasa, tapi juga saling dorong. Berebut. Berjuang. Untuk satu tujuan. Meraih satu titik Hajar Aswad. Pengalaman saya saat umrah bulan Januari beberapa tahun lalu di mana di kawasan Timur Tengah musim liburan, Tanah Suci penuh sesak. Apalagi kawasan Masjidil Haram. Sangat padat. Lebih-lebih pada bulan Ramadhan dan musim haji.


Ada yang menyebut saat umrah Ramadhan kepadatan jamaah melebihi musim haji sebab penduduk lokal juga berdatangan untuk memburu Lailatul Qadar pada malam 29. Hal ini berbeda dengan di Indonesia di mana warga muslim sering kali berburu Malam Seribu Bulan pada malam ganjil, terutama malam 27.

 Ketika itu, lautan manusia menuju satu titik tersebut. Arus jamaah yang melakukan Thawaf sebenarnya sudah teratur berputar mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali, sehingga ketika menjelang akhir Thawaf mereka merapat mendekati dinding Kakbah untuk bersiap mencium Hajar Aswad. Biasanya dengan merambat di dinding lalu menggeser sedikit-demi sedikit tubuhnya menuju Hajar Aswad. Bahkan, dengan hanya diam, tubuh seolah sudah terbawa arus menuju "muara" Hajar Aswad tersebut.

 Namun perlu diwaspadai adanya arus tak terduga dari rombongan orang-orang berbadan besar yang kadang-kadang langsung berjalan cepat memotong arus jamaah yang sedang Thawaf. Tak jarang ada yang terjengkang dengan ulah orang-orang ini. Begitu pula sesampai di Hajar Aswad, mereka juga seringkali mendorong jamaah lain. Karena itu, tidak heran bila ada yang sudah tinggal satu jengkal saja jaraknya dengan Hajar Aswad langsung terpental. Menjauh. Sebagaian putus asa. Sebagian lagi kembali mencari peruntungan mendapat kesempatan mencium Hajar Aswad. Saya sendiri gagal mencium batu dari surga tersebut.

Alhamdulillah, tangan kanan saya yang masih terluka karena terjatuh dari motor saat di Tanah Air, ketika itu terjepit orang-orang besar yang "mengganas" ingin mencium Hajar Aswad, tapi tangan kiri sempat memegang batu hitam itu untuk beberapa saat. Alhamdulillah, meski hanya memegangnya, meski hanya sejenak. Setelah itu, saya terpental. Menjauh. Saya gagal. Harus introspeksi. Mengapa bisa gagal.

 Saya masih bersyukur. Saat di Masjid Nabawi, Madinah, saya bertemu dengan jamaah umrah dari Probolinggo. Seorang guru. Bersama istrinya. Ketika menunggu giliran masuk Raudhah untuk salat dan berdoa di tempat yang doa-doa manusia pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT, kami bercerita soal Hajar Aswad.

 "Saya bersyukur Pak, istri saya selamat saat hendak mencium Hajar Aswad," kata Pak Guru itu. Sambil terus berdzikir, tapi juga sesekali mengajak bicara.

 "Lho, kenapa Pak?"

"Istri saya pakai jasa calo. Katanya joki Hajar Aswad, tapi kemudian gagal, sebab dia kesrimpet jilbabnya sendiri yang panjang, lalu tertarik orang dan terjatuh. Hampir saja terinjak-injak. Saya bersyukur bisa menariknya. Hingga tidak sampai terinjak. Saya sudah mengira istri tidak selamat. Alhamdulillah, Allah SWT masih melindungi kami berdua," katanya.

 "Alhamdulillah," kataku.

Pak Guru ini selalu bersyukur sebab sering mendapat cobaan. Selain soal istrinya, dia juga dimintai tambahan biaya untuk ini itu oleh biro umrahnya. Dia menginap di hotel yang cukup mewah dekat Masjidil Haram. "Tapi saya tidak bisa makan sebab menunya tidak cocok dengan perut saya hehehe..."

Alhamdulillah, Pak Guru masih bisa tersenyum. Kisah berjuang mencium Hajar Aswad lebih dramatis dialami teman saya. Namun, kisahnya akan saya ceritakan di tulisan kedua. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Amiin. (gatot susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

3 Responses to "Kisah-kisah Jamaah Umrah Berjuang Mencium Hajar Aswad (1)"

  1. Kisah yang menakjubkan. Semoga segera bisa menyusul ke rumah Allah. Amiiin

    ReplyDelete
  2. mereka yang berhasil menvium hsjar aswad pahala atas kebaikannya...

    ReplyDelete
  3. Pak Haji Nur Fakih pasti punya cerita yang istimewa, monggo dishare di sini ya ustad?

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel