Umroh Gara gara Walisongo




JAMAAH umroh sebelum berangkat disarankan memantapkan niat. Bahkan mematok target. Misalnya khatam membaca Al Quran dua kali di Masjid Nabawi Madinah dan dua kali di Masjidil Haram Makkah. Itu contoh saja sebab harus disesuaikan dengan berapa hari ibadah kita di dua kota suci tersebut.



Selain itu ada yang memasang target bisa mencapai tempat-tempat yang mulia dan berdoa di tempat yang mustajabah. Tentu target ini bisa dicapai bisa pula tidak. Jangan putus asa. Jangan kecewa bila target tak tercapai.


Tapi dengan memasang target itu setidaknya kita bisa memenuhi target minimal, misalnya satu kali khatam Al Quran, dan tentu saja melakukan ritual haji dan umroh minimal sesuai rukun dan syaratnya serta menghindari larangannya. Sebab bila tidak haji dan umroh kita batal. Namun, tentu saja, jamaah harus berusaha sekuat tenaga agar bisa beribadah lebih banyak untuk mendapat pahala,  keberkahan dan kemabruran dari Allah SWT, amin.

Salah satu jamaah yang memasang target saat umroh adalah Erik. Pemuda 20 tahun ini bersama saya dan 18 anggota rombongan lain ke Tanah Suci pada 24 Januari 2017 lalu. Erik selain kuliah juga bekerja bersama ayahnya mengelola perusahaan kontraktor, menerima job proyek pemerintah dan swasta. Tentu banyak masalah dia hadapi. Wajar, tak ada pengusaha yang lancar-lancar saja saat berbisnis.

Kadang masalah ringan saja yang bisa segera diatasi, tapi seringkali juga masalah berat. Misalnya tagihan tak kunjung cair padahal dalam jumlah besar dan uang harus berputar. Kondisi inilah yang kali ini dialami Erik dan ayahnya.

Saat bingung mengurai masalahnya itu Erik berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Dalam doanya dia meminta agar diberi solusi atas cobaan yang dihadapinya. Dan diberi ketabahan.

Dia berusaha khusyuk, hingga dalam doanya seolah dipertemukan dengan para wali. Hal ini berulang dalam mimpi. Pertemuannya dengan wali dalam mimpi itu lalu diceritakan kepada orang tuanya hingga orang tuanya meminta Erik untuk berumroh.

Dan karena Walisongo berjumlah sembilan ulama, Erik pun memasang terget bisa berdoa di Raudhah di Masjid Nabawi sebanyak 9 kali. Padahal untuk mencapai Raudhah bukan perkara mudah mengingat membludaknya jamaah umroh di saat musim liburan sekolah di tanah Arab seperti sekarang ini. Tapi Erik yakin bisa memenuhi target tersebut.

Maka, saat pesawat Saudia Airlines mendarat di Bandara Madinah setelah menempuh perjalanan udara selama sekitar 10 jam dari Bandara Juanda Sidoarjo, dia sudah maping kegiatan begitu masuk hotel sekitar pukul 01.00 dini hari waktu Saudi. Dia bikin jadwal sendiri di luar jadwal rombongan.

Saat jamaah lain kelelahan lalu memilih tidur, Erik menyelinap lalu keluar dari Hotel Mubarrak Al Masi untuk menuju Masjid Nabawi. Dia memberanikan diri keluar sendiri meski baru pertama kali ke Masjid Nabawi.

Malam sangat dingin. Angin cukup kencang berhembus. Jarum jam menunjuk angka pukul 02.00. Sambil berbaju tebal dan memakai syal dobel, Erik menuju masjid Nabi untuk salat malam di Raudhah dan berdoa agar menjadi manusia bertakwa, pria yang tangguh, dan sukses dalam bisnis. Dan tentu saja masalah yang dihadapinya di tanah air diberi pertolongan Allah untuk menemukan  solusi.

Ternyata lokasi hotel dan masjid Nabi tidak jauh. Sekitar 500 meter. Namun bukan masalah jarak yang dia hadapi, bukan juga dingin malam yang menusuk-nusuk yang kadang menahan langkahnya, tapi begitu banyak jamaah yang sudah memadati masjid Nabi. Apalagi di sekitar Raudhah. "Padahal saya pilih berangkat jam 2 malam agar bisa leluasa sebab saya pikir tak banyak jamaah ke sini. Tapi ini super penuh," katanya saat berbicang dengan jamaah lain usai itikaf.

Namun dengan kesabaran dan niat yang kuat, akhirnya Erik bisa masuk Raudhah. Dia salat beberapa rekaat di sana dan berdoa di tempat yang dijanjikan doa-doa umat akan diterima oleh Allah SWT. Doa- doa akan langsung terbawa ke langit mengingat Raudhah konon bagai pintu tol bagi kendaraan keilahian yang membawa doa kepada Yang Maha Mengabulkan doa umat manusia.

Saat Erik berjuang mencapai Raudhah jamaah lain di kamar hotel ada yang mulai bangun. Mereka mencari Erik yang sejak datang di hotel terlihat langsung tidur tapi kemudian menghilang. "Mana Mas Erik," tanya Husin, muthowif rombongan.

"Tadi tidur, tapi keluar. Saya pikir cari keluarganya," kata Ribut, jamaan lain. Erik memang berumroh dengan tiga orang saudaranya. Salah satunya sudah umroh sehingga ada kemungkinan memandu Erik dan yang lain.




Singkat cerita, Erik berusaha keras memenuhi target tersebut. Tentu saja sesekali dengan melepaskan diri dari rombongan. Saat hari ketiga di Madinah di mana rombongan tengah berkemas hendak melakukan umroh pertama, dengan miqat di Bir Ali dan selanjutnya menuju Makkah, Erik mengucap syukur. "Alhamdulillah tercapai 9 kali salat di Raudhah..." katanya.

Saya senang melihatnya. Dia tersenyum. Saya sedikit iri sebab saya hanya bisa salat tiga kali di Raudhah. Itu artinya sehari hanya sekali. Itu pun yang terakhir tertahan tabir pas di pilar luar Raudhah karena terdesak jamaah lain. Para petugas dalam mengatur jamaah yang semua ingin menuju Raudhah, memakai kain setinggi orang dengan lebar sepanjang tiang-tiang masjid, membentuk tabir.

Kain ini digeser ke sana ke mari untuk mengatur pergerakan jamaah. Saat jamaah penuh, mereka dihadang kain ini yang diikatkan pakai kunci di antara dua pilar. Ruang Raudhah juga dikelilingi kain ini. Bila jamaah di Raudhah sudah keluar, makan kain di belakangnya-- di mana banyak jamaah menunggu sambil membaca Al Quran dan berdoa--dibuka, sehingga mereka mengalir deras ke arah Raudhah.  Tapi ketika penuh, ditutup lagi sehingga jamaah di belakang pun tertahan. Begitu seterusnya. Erik mengaku mempelajari pergerakan petugas dalam memindah kain tabir itu sehingga bisa cepat masuk arus menuju Raudhah. "Aku datang ke sini lebih awal untuk mempelajari petanya," katanya.

Namun, saya sendiri tak punya target 9 kali salat dan berdoa di Raudhah. Hanya saja saat berjalan di antara mimbar dan Makam Kanjeng Nabi Muhammad SAW, menuju pintu keluar, meski sangat padat, saya berusaha berdoa, dan sambil berjalan memberi salam kepada Rasulullah, Sayyidina Abu Bakar dan Syayyidina Umar sambil memegang dinding makam. Bukan untuk bidah atau berlaku syirik tapi sekadar ingin memegang saja bangunan yang menyimpan jasad Nabi dan para Sahabat tersebut.

Baik target Erik 9 kali salat dan berdoa di Raudhah, keinginan mengusapkan tangan di Makam Nabi, menangis sesenggukan di samping makam Nabi, semua itu tidak berlebihan mengingat rindu umat kepada junjungannya Rasulullah dan para Sahabat, sebagai manusia paling mulia di muka bumi ini. Allahummasalli ala Muhammad, wa alaalihi Syayyidina Muhammad....  



Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Umroh Gara gara Walisongo"

  1. Itu pengalaman umroh seorang teman. Tentu teman lain dan Anda punya pengalama lain yang bisa di share di sini....

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah berkunjung
    Jadi banyak belajar di sini terutama tentang ibadah haji

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel