Tersesat atau Tersengat?



SEORANG pria Arab menghampiriku usai rombongan jamaahku menunaikan sa'i. Sambil memegang tangan seorang pria berperawakan kecil yang usianya sudah tua, dia berkata, "Indonesia...!"




Aku faham. Pria itu ingin menunjukkan ada seorang jamaah umroh asal Indonesia tersesat di area ibadah untuk mengenang sejarah Ibunda Siti Hajar berlari-lari kecil dari Bukit Shafa ke Marwah berjarak 450 meter mencari air untuk sang putra, Ismail. Bocah putra Nabi Ibrahim ini kelak meneruskan garis kenabian sang ayah.

Di sini jamaah haji dan umroh berjalan di antara dua bukit sebanyak 7 kali. Dan ketika melintasi Bathnul Waadi, yaitu kawasan yang terletak di antara Bukit Shafa dan Marwah (saat ini ditandai dengan lampu neon berwarna hijau), para jamaah pria disunahkan untuk berlari-lari kecil, sedangkan untuk jamaah wanita berjalan cepat. Ibadah Sa'i boleh dilakukan dalam keadaan tidak berwudhu dan oleh wanita yang datang haid atau nifas.

Jumlah orang yang cukup banyak di sini hingga ada sebagian yang tersesat. Seperti dialami bapak yang sempat ditolong pria Arab tersebut. Tanpa bicara apa pun sebab memang saya tidak bisa bahasa Arab, saya langsung menggandeng bapak tua itu. Saya tanya dari mana, dia menjawab asal Serang Banten dan berumroh bersama istrinya ikut travel dari Jakarta.


Saat melaksanakan sa'i dia bersama istri dan rombongannya kelar 7 kali jalan kaki plus berlari lari kecil dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya. Tapi begitu mengakhiri ibadah ini, di bukit Marwah dia tidak tahu kalau jamaah biasanya keluar lewat pintu sebelah kanannya. Keluar pintu ini jamaah ada yang langsung kembali ke hotel, ke toilet, atau mampir untuk melihat rumah Abu Jahal, yang menjadi musuh Islam. Jamaah konon diminta menghinanya dengan kencing di rumah Abu Jahal yang sekarang diubah jadi toilet.


Nah pak tua ini tak ikut istri dan rombongan melainkan berputar lagi. Karena sering berputar di lokasi yang sama dia ditanya pria Arab yang menjadi petugas di lokasi sekitar sa'i.

Saat saya ajak dia sempat menolak dan ingin terus mencari istrinya. Saya harus menunggu agak lama sebelum akhirnya dia saya ajak jalan lagi ke arah Bukit Shafa. Waktu salat Maghrib segera tiba. Saya ajak beliau cari tempat salat yang enak dan akhirnya dapat di sekitar Bukit Shafa.


Ternyata bapak ini belum wudlu sehingga harus cari lokasi tempat wudlu. Tanya sana sini, jamaah asal Indonesia hanya menjawab sekenanya saja. Ditunjukkan arah menuju ke suatu tempat ternyata tidak ada toilet di sana.

Saya sempat ingin menunjukkan lokasi air zamzam, tapi apa boleh untuk berwudlu. Lalu saya teringat di tas saya ada air zamzam yang selalu saya bawa untuk minum. Air ini jadi istimewa bagi saya, karena selalu ikut merangkai ibadah umroh saya, mulai salat sunnah tahiyatal masjid ketika masuk Masjidil Haram hingga thawaf dan sa'i.

Nah konon lagi air zamzam yang seperti ini lebih sehat menyehatkan. Beberapa teman di Tanah Air juga minta ke saya oleh-oleh air zamzam yang dibawa thawaf ini setelah mendengar cerita soal kasiatnya tersebut. Dan memang, saat pulang, ada teman yang sakit saya beri air zamzam ini, dia pun mengaku lebih baik kondisi kesehatannya. Benar tidaknya wallahu a'lam.

Yang jelas saat itu saya jadi dilema, antara memberikan air zamzam ini untuk wudlu si bapak atau saya simpan untuk saya minum sendiri sementara si bapak dalam kondisi belum bersuci padahal sebentar lagi hendak salat Maghrib.

Tiba-tiba dia bilang,"Sudah ndak apa apa Pak saya ndak wudlu. Gusti Allah kan tahu bila di sini saya dan sampeyan ndak ada air. Sudah gini aja..."

Saya seperti tersengat. Sebenarnya bisa saja tayamum. Tapi si bapak tidak mau, sehingga saya terpaksa berpura-pura bilang begini: "Oh saya lupa. Ini ada air pak. Hanya sebotol kecil aqua." Kataku sambil mengambil air zamzam di tas tentengan saya.

Dan karena beliau sudah tua, saya pun harus mencarikan tempat untuk berwudlu yang aman untuknya. Usai wudlu, kami semua jamaah umroh salat Maghrib berjamaah. Sebelum salat saya ingatkan si bapak. "Berdoa sebanyak banyaknya agar ketemu istri dan rombongan bapak."

Selama salat dia lama berdoa. Maklum sebenarnya semua jamaah mestinya ya berdoa berlama-lama. Bukan yang lain. Jadi omongan saya tadi sekedar basa basi yang semoga bergizi saja bagi si bapak.

Dan Allah sungguh maha agung. Saat kami keluar untuk pulang ke hotel, ada rombongan yang katanya dari keluarga kerajaan melintas. Otomatis askar menutup jalan. Cukup lama sehingga jamaah menumpuk di jalan sayap kiri Masjidil Haram.

Saat jalan dibuka, seperti air, mereka mengalir menuju muara pintu keluar di depan Menara Jam. Saat jamaah tersibak, si bapak terbelalak melihat istrinya berjalan tak jauh darinya. "Ke mana saja!?," katanya kepada sang istri. Sejumlah perempuan yang semula berjalan agak tergesa pun membalikkan wajah. Mukanya berbinar.

Si bapak begitu gembira. Begitu haru. Saya hanya tersenyum. Lha wong bapak yang tersesat kok malah tanya ke mana saja kepada istri dan rombongannya?

Berjalanlah di jalan Allah SWT agar kalian tidak tersesat. Amin!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tersesat atau Tersengat?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel