Cobaan Berat saat Berhaji Akbar



SEORANG teman yang beribadah pada saat haji akbar menceritakan pengalamannya yang penuh dengan godaan dan cobaan. Baik saat beribadah haji di tanah suci maupun sepulang haji. Bahkan cobaan saat mendapat gelar haji terasa sungguh berat.




Saat di Tanah Suci, begitu tiba di Makkah, dia dan rombongan harus melaksanakan ibadah salat Jumat. Masjidil Haram sudah penuh sesak saat dia hendak salat tahiyatal masjid. Dia mendapat tempat salat di halaman Masjidil Haram.

Ibadah dia lakukan dengan khusyuk. Dia bersyukur tiba di Al Haram dengan selamat, dan merasa takjud dengan kemegahan Masjidil Haram dan suasana kota suci.

Saat mendengar khotbah dan lantunan ayat-ayat suci, dia menangis. Air matanya mengalirkan dosa- dosa yang pernah diperbuatnya selama di Tanah Air.

Betapa kaget wak kaji ini ketika salat Jumat tiba. Saat hendak sujud, dia tersentak ketika di depannya, yang hanya tersisa ruang yang sangat sempit, tiba-tiba seorang perempuan Arab tinggi besar menduduki ruang sujudnya. Secara otomatis kepalanya yang hendak sujud membentur (maaf) bokong perempuan yang besar itu.

"Astaghfirullah hal adzim apa ini," katanya, hampir saja muntab amarahnya. Tapi dia berusaha menahannya. Dia terus beristighfar. Mengapa? Sambil mencoba mengingat jangan-jangan ini warning, kalau tidak bisa disebut hukuma, atas dosa yang mungkin pernah dia lakukan selama ini.

"Ya mungki karena saya sering nglirik bagian tubuh perempuan yang itu," katanya sedikit malu.

Cobaan bukan hanya sampai di situ. Saat dia berdoa untuk kebahagiaan dan keselamatan keluarganya, yang aneh, selalu muncul wajah perempuan yang memang tak pernah bisa dia lupakan. Perempuan yang sangat dia cintai, yang membuat dia merasa bersalah, melebihi cintanya pada sang istri. Cinta yang kadang platonis, tanpa keinginan apa pun selain mencintainya. Lagi-lagi dia beristighfar sebab dia membawa aib selingkuhnya hingga ke tanah Al Haram.

Lalu saat berusaha mencium Hajjar Aswad, dia benar-benar ketakutan. Entah, apa takut mati tergencet jutaan orang yang tumplek blek di satu titik itu, atau sebab lain. Tubuhnya gemetar. Yang jelas dia memilih mundur dengan cara menyibak lautan ihram.

Belum satu langkah, dia ditarik sang istri. Sambil sedikit marah, istrinya berkata,"Ayo mas kita berusaha mencium Hajjar Aswad. Mumpung masih ada waktu lima jam sebelum kita pulang. Sebab belum tentu kita bisa ke sini lagi, kapan lagi ada kesempatan seperti ini. Sampeyan kan laki laki masak kalah sama yang perempuan," katanya.

Dia tersentak. Tapi rasa takut masih menguasainya. "Sudahlah Ma, ini kan sunnah. Bisa kita lakukan lain kali saat umroh, bukan saya takut, tapi mengapa harus ngoyo kalau memang tidak memungkinkan...," katanya berdalih.

Tapi sang istri ngotot. Lengan mungil istrinya justru kuat menariknya masuk pusaran menuju Hijir Ismail. Kami sempat salat di bagian belakang Hijir Ismail. Selanjutnya sang istri menarik lagi untuk merapat ke dinding Kakbah. Sambil mendekap dinding Kakbah seperti merayap, dia bersama sang istri menggeser tubuhnya, sedikit demi sedikit, melewati pintu Kakbah, Multazam, menuju Hajjar Aswad.

Pada lokasi ini dikenal mustajabah sehingga dia tak henti berdzikir dan berdoa agar bisa mencium Hajjar Aswad. Dan berkat sang istri, perjuangan keras, dan ridho Allah, keduanya pun berhasil mencium Hajjar Aswad. Begitu berhasil mencium batu yang paling mulia itu, tubuhnya langsung terlempar dari pusaran, disusul istrinya.

"Bukan saya memuji istri saya hebat, tapi tanpa niat yang kuat dari dia, saya tidak pernah mencium Hajjar Aswad. Karena itu, saya terus merasa berdoa, mengapa saat berdoa yang muncul justru wajah perempuan lain, padahal di depan saya ada istri saya yang harus saya akui dia hebat," katanya.

Cobaan tak hanya dialami di Tanah Suci. Selajutnya ikuti cobaan di Tanah Air yang bahkan lebih berat lagi, di tulisan berikutnya.....


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cobaan Berat saat Berhaji Akbar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel