Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Larang Warganya ke Indonesia tapi Bolehkan Berhaji-Umrah, Arab Saudi Dinilai Ambigu!

Wednesday, May 25, 2022 | 09:16 WIB Last Updated 2022-05-25T02:16:51Z


HAJIMAKBUL.COM -  Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tiba-tiba saja mengumumkan kebijakan melarang warganya berkunjung ke Indonesia-- dan 15 negara lain-- terkait Covid-19. Larangan Arab Saudi ini dinilai ambigu (bermakna ganda, Red.)  sebab negera ini tidak melarang warga asing-- termasuk WNI dan 15 negara yang di-blacklist-- masuk ke negerinya. Apalagi menjelang musim haji.  Mengutip laman resmi Kemenag RI, jamaah haji kloter pertama akan diberangkatkan pada 4 Juni 2022. Rencananya, jamaah diberangkatkan dalam 241 kloter.


Bisa dibayangkan bila warga asing dilarang masuk ke negara itu, Arab Saudi akan kehilangan devisa dalam jumlah sangat besar dari sektor haji dan umrah serta pariwisata. Apalagi negeri Raja Salman itu berusaha keluar dari ketergantungan terhadap minyak dan menggenjot pemasukan devisa dari sektor pariwisata, haji, dan umrah.

"Larangan Arab Saudi itu ambigu," kata Direktur Utama Atria Tour & Travel, Zainal Abidin SE, kepada Global News, Selasa (24/5/2022). 


Muhammad Sufyan Arif, Ketua DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Ibadah Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri) Jatim, juga menyebut senada. "Info dari Kemenag (Kementerian Agama, Red), semoga aman-aman saja. Persiapan proses ibadah haji semua berjalan normal.  Semoga ini juga menjadi perhatian Pemerintah Indonesia. Selain itu,  Pemerintah bisa pula menyampaikan soal perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia dan apa saja yang sudah dijalankan mengenai prokes (protokol kesehatan)  terhadap jamaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci," kata Sufyan, yang juga bos biro haji dan umrah Al Multazam ini, kepada Hajimakbul.com, Selasa (24/5/2022). 


Al Multazam sendiri, kata Sufyan, tahun ini memberangkatkan jamaah haji khusus (ONH Plus) sebanyak 13 orang dan haji reguler sebanyak 78 orang jamaah. "Itu setelah dikurangi yang usia 65 tahun. Alhamdulillah kami selalu mengikuti aturan dan arahan dari Kemenag sehingga persiapan haji masih berjalan sesuai alurnya. Masih normal-normal saja," katanya.  


Seperti diketahui, jamaah yang datang ke Arab Saudi untuk beribadah haji setiap tahun mencapai lebih dari 2,5 juta orang. Angka tersebut belum menghitung kedatangan jamaah umrah yang setiap saat memenuhi Tanah Suci.


Lalu berapa pemasukan uang bagi Arab Saudi yang berasal dari jamaah haji? Menguti data dari BBC, Minggu (27/9/2020) lalu, Mazen Al Sudairi, Kepala Peneliti Perusahaan Jasa Keuangan Al-Rajhi yang berbasis di Riyadh, mengungkapkan, bahwa pendapatan langsung yang diterima pemerintah Arab Saudi setiap tahunnya dari penyelenggaraan haji mencapai 12 miliar dollar AS atau sekitar Rp 177,139 triliun (kurs Rp 14.700). Jumlah ini hitungan tahun 2020 saat ibadah haji mulai terkendala Covid-19 sehingga sebagian besar biaya pelaksanaan ibadah haji mengalami penghematan. "Makkah dan Madinah (saat itu) kehilangan potensi sebesar 9 - 12 miliar dollar AS," kata Mazen. 


Selain pendapatan langsung dari jamaah haji, Kerajaan Arab Saudi juga mendapatkan keuntungan besar dari peredaran uang dari pengeluaran belanja dari para jamaah haji selama di Kota Suci. Penyelenggaraan haji membuat bisnis hotel, katering, maskapai penerbangan, dan sektor bisnis penunjang lain menerima perputaran uang yang luar biasa besar. 


Terbesar dari Indonesia 


Mengutip data yang dirilis Statista tahun 2017, jumlah pemasukan terbesar Arab Saudi dari jamaah haji asal Indonesia yang menyumbang pendapatan 940 juta dollar AS. Pemasukan terbesar kedua disumbang oleh jamaah asal India yang berkontribusi sebesar 733 juta dollar AS. Jamaah haji terbesar lainnya berasal dari Lebanon, Turki, Dubai, Tunisia, Qatar, dan Pakistan. 


Pada tahun 2019, total kunjungan jamaah haji tercatat sebanyak 2,6 juta orang. Jika digabungkan dengan jumlah jamaah umrah (haji dan umrah), maka kunjungan orang yang masuk ke Arab Saudi sebanyak 19 juta peziarah. 


Bahkan Putra Mahkota Mohammed bin Salman juga berencana meningkatkan kapasitas haji menjadi 30 juta jamaah setiap tahun dan menghasilkan sebanyak 50 miliar riyal (13,32 miliar dollar) pendapatan pada tahun 2030. 


Sementara jika digabung dengan umrah, sebelum adanya pandemi Covid-19, potensi pendapatan yang masuk ke Arab Saudi mencapai 200 miliar riyal pada tahun 2020. Upaya ini dilakukan Mohammed bin Salman untuk mengurangi ketergantungan dari pendapatan minyak. 


Sejak beberapa tahun terakhir, pemerintah Arab Saudi mulai mempromosikan sektor pariwisata mereka. Diharapkan di masa mendatang, ada kunjungan wisata dari para jamaah haji selain mengunjungi dua kota suci, Makkah dan Madinah. Namun semua itu lumpuh karena Covid-19. Karena itu, menjadi sangat aneh, bila Arab Saudi masih mem-blacklist Indonesia di tengah perubahan kondisi yang semakin membaik di negeri pengirim terbanyak jamaah haji dan umrah tersebut.  


Sama dengan Arab Saudi, perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia sudah semakin membaik. Umat Islam juga antusias untuk beribadah haji maupun umrah.  Karena itu aneh bila ada larangan atau travel warning bagi Indonesia. 


"Umat Islam antusias beribadah ke Tanah Suci. Semoga kebijakan Arab Saudi di masa mendatang lebih ramah lagi terhadap tamu Allah," kata M. Sufyan.   


Penjelasan Kemlu


Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) pun sudah memberikan reaksi terhadap kabar pemerintah Arab Saudi melarang warganya ke Indonesia. Arab Saudi memberi alasan kondisi Covid-19 di Indonesia belum berakhir.  


Soal ini persepsi Arab Saudi tentang pandemi di Indonesia berbeda dari penilaian Pemerintah RI. Pasalnya, sekarang aturan social distancing telah dilonggarkan, dan masker boleh dilepas di ruang terbuka. Namun menjadi aneh Indonesia tetap masuk daftar hitam Arab Saudi karena Covid-19. 


Untuk itu pihak Kemlu RI telah menjelaskan kepada Arab Saudi bahwa kondisi pandemi di Indonesia sudah semakin membaik.  "Indonesia sudah menyampaikan ke pihak Saudi bahwa penanganan Covid RI sudah berhasil menekan angka kasus positif dan bahkan kondisi di tanah air sudah jauh lebih baik dari banyak negara dunia pada umumnya," kata Juru Bicara Kemlu RI, Teuku Faizasyah, dikutip dari Liputan6.com, Selasa (24/5/2022). 


Berdasarkan data terkini Johns Hopkins University, jumlah kasus baru di Indonesia selama 28 hari terakhir juga terpantau lebih rendah dari Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.  Saat ini, warga di Indonesia yang ingin naik haji pun telah bersiap usai penundaan karena pandemi Covid-19. 

Sejauh ini pihak Kemlu RI mengaku belum mendapatkan informasi tentang dampak pelarangan Arab Saudi kepada haji 2022.  "Saya tidak ada info. Sebaiknya ditanyakan ke Kementerian Agama yang menangani haji," jelas Faiza.

Seperti dilaporkan Saudi Gazette, Selasa (24/5/2022), selain Inonesia, ada 15 negara lain yang kena blacklist dari Arab Saudi. Negara itu adalah Lebanon, Suriah, Turki, Iran, Afghanistan, India, Yaman, Somalia, Etiopia, Republik Demokratik Kongo, Libya, Vietnam, Armenia, Belarusia, dan Venezuela. Kebijakan larangan kunjungan itu mirip dengan yang diumumkan pemerintah Arab Saudi tahun lalu. Namun, Direktorat Jenderal Paspor (Jazawat) kembali menegaskannya lagi pada pekan lalu.


Warga Saudi yang ingin pergi ke luar kerajaan ditekankan agar menerima tiga dosis vaksin melawan virus Corona, atau belum lewat tiga bulan usai menerima dosis kedua vaksin. Ada pengecualian bagi kelompok yang punya kondisi medis tertentu.


Untuk itu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Puan Maharani, meminta pemerintah memastikan seluruh calon jamaah haji Indonesia tak terkendala masalah vaksinasi saat berangkat ke tanah suci.  "Sebagaimana kita ketahui, pemerintah Arab Saudi mensyaratkan vaksin dosis lengkap bagi seluruh jamaah haji. Di sisi lain, masih ada cukup banyak calon jamaah haji yang sudah terdaftar belum mendapatkan vaksin lengkap," kata Puan dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Minggu, 22 Mei 2022. 


Direktur Layanan Haji Dalam Negeri Kemenag, Saiful Mujab, mengatakan, sejak dibuka 9 Mei sampai dengan 20 Mei 2021 tahapan pelunasan, lebih 80 ribu calon jamaah haji melakukan konfirmasi keberangkatan. "Sampai Jumat, 13 Mei 2022 sore, ada 80.313 jamaah haji lakukan pelunasan Bipih dan konfirmasi keberangkatan. Tercatat 87,06 persen yang konfirmasi siap berangkat," terang Mujab dalam siaran persnya kemarin.


Mujab melanjutkan, tahun ini 92.825 jamaah berhak melakukan pelunasan dan konfirmasi keberangkatan pada musim haji 1443 H/2022 M. Termasuk di dalamnya, kuota Petugas Haji Daerah dan pembimbing yang berasal dari kelompok bimbingan ibadah haji umrah (KBIHU).  "Masih ada 11.933 kuota jamaah yang diberi kesempatan melakukan pelunasan dan konfirmasi hingga 20 Mei," pungkas Mujab.


Kasubdit Pendaftaran Haji, Hanif, menambahkan, pada tanggal yang bersamaan, dibuka pelunasan bagi jamaah yang masuk dalam kuota cadangan. Total ada 18.460 kuota yang disiapkan sebagai cadangan. Hampir sebagian dari jumlah tersebut, juga sudah melunasi Bipih. "Saat ini sudah 7.782 jamaah yang melunasi Bipih untuk kuota cadangan," kata Hanif.


Dirjen PHU Hilman Latief mengatakan semua proses verifikasi daftar nama jamaah haji regular sudah selesai.

“Alhamdulillah, sudah selesai. Saya sudah terbitkan Keputusan Dirjen PHU terkait itu. Daftar nama tersebut sudah diumumkan dan dikirim ke Kanwil Kemenag Provinsi seluruh Indonesia untuk segera ditindaklanjuti,” terang Dirjen PHU Hilman Latief di Jakarta.


Proses verifikasi, kata Hilman, dilakukan untuk memastikan seluruh jamaah yang berangkat memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Saudi, yaitu berusia paling tinggi 65 tahun 0 bulan per tanggal 30 Juni 2022 serta sudah menerima vaksinasi Covid-19.  


"Saya minta, jamaah yang sudah ditetapkan berhak berangkat tahun ini segera mempersiapkan diri dengan baik. Jangan lupa melakukan konfirmasi keberangkatan pada bank tempat mendaftar," pesan Hilman.


Hilman mengatakan bahwa Arab Saudi menetapkan kuota haji Indonesia tahun ini hanya 100.051. Jumlah ini terdiri atas 92.825 kuota jamaah haji regular, 7.226 kuota jamaah haji khusus, dan 1.901 kuota petugas. Semuanya berkurang dari kuota normal sehingga tentu saja ada jamaah yang sudah melunasi pada tahun 2020 tapi belum bisa berangkat tahun ini.


"Saya berharap semua saling memberi semangat. Jamaah yang berangkat memberi semangat kepada yang belum berangkat dan mendoakan semoga segera mendapat giliran. Demikian juga jamaah yang belum berangkat, memberi semangat pada mereka yang akan berangkat tahun ini dan mendoakan semoga sehat dan mendapat haji mabrur," harap dia. (gas/l6/kcm)


×
Berita Terbaru Update