Islam dan Sisi Gelap Remaja Terjebak Pergaulan Bebas

Ilustrasi: pixabay

HAJIMAKBUL.COM - Saya miris bercampur haru mendengar kisah ini dari seorang pria yang tengah menjenguk putrinya di sebuah pondok pesantren. Pria itu memandang putrinya berkali-kali saat ceritanya memasuki momen tragis yang dialami korban pergaulan bebas. Korban tewas mengenaskan gara-gara tersesat jalan kehidupannya.

"Baru saja saya baca berita itu pagi tadi. Saya langsung ke sini. Menjenguk anak saya. Sambil mensyukuri nikmat Allah SWT yang memberi seorang putri  baik kepada kami. Dan insya Allah solehah. Amiin...!" 

Pria itu kembali memandang putrinya yang sedang dirangkul oleh sang ibu. Saya ikut senang. Sambil berdoa agar putri saya yang juga mondok diberi oleh Allah SWT kesalehan yang sama. Sebagai perempuan solehah. Amiin. Batin saya berbicara sendiri.

Berita yang diceritakan pria itu tentang perempuan belia bernama Nurkhikmah alias Iik. ABG asal Tegal Jawa Tengah ini menjadi korban pembunuhan oleh 5 teman-temannya sendiri. Bahkan di antara pelaku ada yang masih kerabat dekat korban. 

Pria itu lalu membuka tablet. Tangannya terjulur menunjukkan berita di media online detik.com. Sejumlah fakta mengerikan bisa dibaca di berita itu. Saya ngeri ketika bapak itu mengungkap satu per satu kejadian yang melibatkan remaja akibat  pergaulan bebas tersebut.

"Sekarang digembar-gemborkan kita harus mengisi kemerdekaan dengan prestasi. Bahkan diminta bikin inovasi. Jalan menuju prestasi jelas sulit. Tapi tidak gelap. Masih ada secercah cahaya yang membuat mereka sangat mungkin bisa sukses dalam kehidupannya.  Nah, anak-anak remaja biasanya menganggap yang sulit itu sebagai kemustahilan. Sebuah jalan gelap. Jadi mereka akhirnya tersesat di jalan gelap yang sesungguhnya." 

Pria itu berkata dengan nada bergetar. Saya merasakan getaran emosinya. Ya, getaran empatinya kepada remaja salah jalan itu. 

Kisah Iik (16), warga Desa Cerih, Jatinegara, Kabupaten Tegal, sungguh tragis. Awalnya  dia dilaporkan hilang sekitar 5 bulan yang lalu. Hingga kemudian mayatnya ditemukan dibungkus dalam karung. Bahkan sudah dalam kondisi tinggal kerangka saja. Polisi langsung berburu pelakunya.
Lima tersangka pembunuhnya pun ditangkap. Mereka adalah AM (20/pacar korban), MS (18), SA (24), NL alias E (17), dan AI (15). Dua di antaranya adalah perempuan yang masih di bawah umur.


Pembunuhan ini dilakukan pada April 2019 lalu. Sebelum dibunuh, AM yang saat itu dalam pengaruh alkohol, mengajak korban melakukan hubungan seks. Menurut pengakuan AM kepada penyidik, keduanya melakukan hubungan intim di depan teman-temannya. Para tersangka lain yang masih remaja itu.

Setelah melakukan hubungan intim, AM dan korban bertengkar. Alasannya AM cemburu karena korban memiliki hubungan khusus dengan pria lain. Korban juga diserang oleh tersangka lain yang sakit hati karena merasa pernah dihina.  Ada pula yang pacarnya direbut oleh korban.

"Saat mereka semua dalam kondisi mabuk, dari sanalah mulai cekcok," kata Kapolres Tegal, AKBP Dwi Agus Prianto.

Pertengkaran ini berujung pada tindakan pembunuhan. AM mencekik leher korban dibantu teman temannya hingga tewas. Mayat korban kemudian diikat dengan tali plastik dan dibungkus karung plastik. Janazah Iik lalu disembunyikan di rumah kosong tersebut.

"Ada tiga alasan yang jadi pemicunya. Pertama karena sakit hati, kedua cemburu, dan ketiga didorong atas rasa kesetiakawanan di antara pelaku," kata Kasat Reskrim Polres Tegal, AKP Bambang Purnomo.


Hasil penyelidikan awal yang didapat, terungkap sisi gelap kehidupan para remaja yang terlibat dalam kasus sadis tersebut. Pelaku dan korban meski berumur belia namun sudah tidak ada yang bersekolah. Ini sungguh tragis. Korban hanya tamat pendidikan setingkat SMP. Begitu juga para pelaku.

Baik pelaku maupun korban cenderung melakoni pergaulan bebas. Mereka sering keluar bersama dan berhari-hari tidak pulang ke rumah. 

Selain sering minum-minuman keras, mereka juga kerap berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Sungguh, sungguh mengerikan.

 Lalu di mana para orang tua mereka? Bagaimana tanggung jawab lingkungannya? Tampaknya semua membiarkan anak-anak ini tumbuh liar.

Tragedi ini melengkapi kasus-kasus yang melibatkan para remaja lain dalam perilaku menyimpang. Mulai terjebak narkoba, pornografi, hingga prostitusi online. Mereka rawan jadi objek eksploitasi orang dewasa yang jahat.

Hati-hati Bertemanl

Islam mengajarkan pada kita agar berhati-hati bergaul. Hati-hati memilih teman. Sebab, seperti kata pepatah, "kamu adalah siapa temanmu". Kamu adalah dengan siapa kamu bergaul. Bila bergaul dengan penjahat kamu akan jadi jahat. Bila berteman dengan orang saleh kamu akan jadi orang baik dan taat beribadah.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah SWT, dan hendaklah bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah : 119)

Carilah teman yang baik dan peduli. Seperti dia peduli pada dirinya. Dia akan mengingatkan bila Anda salah sebab dia juga tidak mau terjerumus dalam kesalahan atau menjadi korban dari kesalahan itu.

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, dari Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Remaja Eropa

Hal ini juga terjadi di negara Barat. Eropa misalnya. Tahun 2017 silam dosen STEI Tazkia yang sedang bertugas di University of Essex, Murniati Mukhlisin dan mahasiswa Pascasarjana di Durham University, Bazari Azhar Azizi yang juga Ketua PPI Durham serta Namira Samir Editor Media PPI Durham, melakukan kajian soal remaja di Eropa dan pergaulan bebas itu. Seperti dikutip dari republika.co.id, para orang tua di Eropa cemas dengan pergaulan bebas anak-anaknya.


Ketua PPI Durham Bazari Azhar Azizi  menyebutkan, kajian online dilakukan dalam menyikapi keprihatinan dari orang tua Muslim di Barat yang merasa pusing dengan pergaulan bebas remaja. Kajian online dari kelompok pengajian, kata dia, diikuti oleh muslimah yang tersebar di berbagai lokasi di penjuru dunia mencoba membahas dan mengkaji fenomena pergaulan bebas serta sikap orang tua dalam menyikapinya.

"Dewasa ini, banyak kalangan muda yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang menjurus kepada penggunaan narkotika, obat-obatan terlarang, minuman keras, serta berbagai macam penyakit mental," katanya.

Hal ini, ucap dia, menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi orang tua yang anaknya hidup serta tumbuh berkembang di dunia Barat atau jauh dari orang tua dan keluarganya.

Pembahasan dimulai dari fenomena yang telah terjadi pada kehidupan remaja di negara-negara Barat, seperti Inggris, Jerman, Belanda, maupun Australia. Banyak remaja yang terdampak buruk terhadap pergaulan bebas.

Menurut Murniati Mukhlisin, terdapat tiga poin utama yang dibahas dalam kajian tersebut. Pertama, pentingnya peranan orang tua dalam membina serta mendidik pemahaman agama sedari dini kepada anak-anak.

Pendidikan di rumah merupakan 'madrasah' pertama yang dapat memberikan pemahaman akan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari serta batasan dan larangan yang terdapat dalam Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

"Dalam hal ini, peranan orangtua menjadi vital," kata dia. Selain itu, keteladanan yang baik dari ayah dan ibu bagi anaknya, dapat menjadi contoh baik dalam menanamkan nilai-nilai Islam.

Yang kedua adalah pentingnya lingkungan dalam membentuk serta pengaruhnya terhadap perkembangan remaja. Lingkungan yang Islami, serta turut terlibat dalam kegiatan keislaman bersama remaja dari berbagai macam latar belakang dapat membantu membentengi remaja di negara Barat terhadap pergaulan bebas.

Dampak lingkungan cukup signifikan dalam membentuk perilaku dan sikap remaja jika terlepas dari keluarganya. Sehingga orang tua perlu mengajak serta anak-anaknya untuk ikut kegiatan keislaman serta kegiatan lainnya yang positif," ucapnya.

Ketiga, perlunya 'self-control' dalam diri setiap remaja muslim. Self-control atau kontrol atas perilaku diri setiap individu remaja menjadi penting dalam menyikapi pergaulan bebas ini.

Dengan adanya kontrol diri yang baik serta dibekali nilai-nilai Islam, maka setiap remaja yang hidup di negara minoritas dan jauh dari lingkungan yang Islami dapat membentengi dirinya dari pengaruh negatif lingkungan.

Kontrol atas diri ini dapat dipupuk serta dilatih dalam keluarga serta lingkungan yang Islami dalam rumah tangga. Cara-cara seperti inilah yang dapat orang tua lakukan agar anak-anaknya yang beranjak remaja dapat bertahan dalam kondisi pergaulan bebas dewasa ini. (Gatot Susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Islam dan Sisi Gelap Remaja Terjebak Pergaulan Bebas"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel