Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Cara Mencari Pahala Haji di Waktu Shubuh hingga Dhuha

Sunday, August 11, 2019 | 17:30 WIB Last Updated 2019-08-11T10:30:47Z

Foto: pixabay

HAJIMAKBUL.COM - Para jamaah haji sebentar lagi sudah menyelesaikan semua rangkaian ibadah hajinya. Mereka segera pulang ke negerinya masing-masing.

Tradisi yang berkembang di Indonesia, saat berangkat haji, para calon jamaah kedatangan tamu yang ingin silaturahmi sekaligus titip doa agar segera dipanggil oleh Allah untuk berhaji. Warga biasanya memberikan uang kepada calon haji.

Saat pulang sudah menyandang status haji, warga kembali berduyung-duyung mendatangi Abah Haji ini. Mereka kadang mengharap oleh-oleh barang khas haji, mulai mukena, tasbih, sajadah, kopiyah, parfum, kurma dan lain-lain, yang sebenarnya tidak dibeli di Makkah atau Madinah, tapi dibeli di PGS, Ruang Pamer Kedaung Group, Pasar Turi, dan pasar lain. Selain itu, lagi-lagi, para tamu itu mengharap berkah haji. 

Minta didoakan. Minum air zamzam. Setelah mendengar cerita haji, biasanya diakhiri doa oleh Abah Haji. Setelah itu tamu pun pulang. Tapi tamu lain sudah menunggu giliran untuk mengharap berkah yang sama.

 Apa tradisi ini dibenarkan oleh agama? Sejauh itu tidak menyalahi syariat, insya Allah sah-sah saja. Tapi kadang terjadi salah kaprah karena tidak tahu ilmunya. Bahkan ada yang sampai sesat.

Seperti ditulis oleh KH Ali Mustafa Yaqub di republika.co.id, sekitar tahun 1970-an, di negeri kita muncul paham nyleneh. Bahkan bisa disebut sesat. Paham itu mengajarkan, orang yang berziarah ke tujuh makam wali, maka dia akan mendapatkan pahala yang sama seperti pahala ibadah haji dan umrah. 

Tentu saja banyak orang bertanya saat itu, apa mungkin orang  sudah berziarah ke tujuh makam para wali itu menyandang gelar haji?
Namun Kiai Ali tidak ingin membahas gelar haji atau hajah bagi orang tersebut karena paham tersebut telah menyimpang dari Islam. Sudah jelas sesat. Dan mudah-mudahan paham itu sekarang sudah tidak ada lagi.

Namun harus dipahami pula, mungkinkah orang yang tidak pergi ke Makkah mendapatkan pahala ibadah yang sama dengan ibadah haji dan umrah? Jawabannya sangat mungkin?  Caranya?

Ya, hanya satu kata:  harus  mengikuti cara yang diajarkan Rasulullah SAW. Seperti disyaratkan dalam hadis ini:

“Siapa yang shalat Subuh berjamaah (di masjid), kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya untuk berzikir kepada Allah SWT sampai terbit matahari, kemudian ia shalat sunah dua rakaat, maka ia akan mendapatkan pahala ibadah haji dan umrah dengan sempurna.” (Hadis hasan (baik), riwayat Tirmidzi dalam kitabnya, “Sunan al-Tirmidzi”.

Nah, sudah tahu kan ilmu yang diajarkan Nabi SAW untuk mendapat pahala haji? Ada lima syarat yang mesti dikerjakan oleh setiap Muslim untuk mendapatkan pahala haji dan umrah tanpa pergi ke Makkah. 

Pertama, shalat Subuh berjamaah. Kedua, tetap duduk di tempat shalatnya. Ketiga, berzikir kepada Allah SWT. Keempat, hal itu dilakukan sampai terbit matahari. Kelima, shalat sunah dua rakaat.

Para ulama berbeda pendapat tentang shalat sunah dua rakaat ini. Apa namanya? Ada yang mengatakan itu adalah shalat sunah Thulu´al-Syams (terbit matahari). Ada pula yang menyebutnya shalat sunah Muqadimah Dhuha (pembuka Dhuha). 

Bagi kita, tidak soal nama shalat itu, yang penting, kita niat shalat sunah dua rakaat. Apabila lima syarat itu dikerjakan, kita akan mendapatkan pahala ibadah haji dan umrah secara sempurna tanpa pergi ke Makkah.

Untuk menambah bekal kita di akhirat, seyogianya setiap Muslim mengerjakan tuntunan Nabi SAW ini. Mendapatkan nilai ibadah haji tanpa harus mengeluarkan biaya pergi ke Makkah, tanpa uang saku, dan juga tanpa biaya yang ekstra. Sekiranya mungkin, hal itu kita lakukan setiap hari dan apabila tidak mungkin minimal kita lakukan satu minggu satu kali.

Tuntunan Nabi SAW ini berlaku, baik bagi orang yang belum berhaji maupun orang yang sudah berhaji. Kendati begitu, bagi orang yang belum pernah beribadah haji, apabila ia memiliki kemampuan finansial untuk pergi ke Makkah, ia wajib pergi ke Makkah untuk menjalankan ibadah haji.

Bagi yang sudah beribadah haji, tapi tak memiliki kemampuan berhaji lagi, cukup mengerjakan tuntunan Nabi SAW itu. Bagi yang sudah berhaji dan memiliki kemampuan, ikutilah tuntunan sunah Nabi SAW, yaitu berhaji cukup sekali dan berinfak ribuan kali. 

Tak perlu berkali-kali berhaji, tetapi cukup menjalankan tuntunan Nabi SAW di atas dan uangnya bisa dimanfaatkan untuk diinfakkan di jalan Allah (fi sabilillah).

Sekiranya memang mencari pahala haji dan umrah, cukup mengerjakan tuntunan Nabi SAW tersebut di atas. Status sosial tak perlu dipikirkan sebab hal itu merusak niat haji. Wallahu a'lam. 

Begitulah, kita tidak perlu mengotori harapan untuk berhaji dan mengharap pahala seperti ibadah haji dengan cara-cara yang keliru. Tetap lurus mengikuti cara Nabi SAW. (Gatot Susanto)
×
Berita Terbaru Update