Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo, Belajarlah dari Rasulullah SAW!



HAJIMAKBUL.COM - Presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan KH Ma'ruf Amin menggalang rekonsiliasi dengan rival politiknya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto - Sandiaga Salahuddin Uno. Wakil presiden terpilih KH Ma'ruf Amin yakin Presiden Joko Widodo  akan segera bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Kiai Ma'ruf menyebut Jokowi juga berharap Prabowo datang di acara pelantikannya pada Oktober 2019 nanti.

"Pak Jokowi sudah bilang berharap (Prabowo) datang (pelantikan)," kata Ma'ruf Amin di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (4/7/2019). Kiai Ma'ruf mendatangi Wapres JK di kantornya untuk konsultasi mengenai tugas-tugasnya nanti sebagai Wapres menggantikan JK. Dalam kesempatan itu JK mengharap Kiai Ma'ruf fokus di sektor ekonomi dan sosial.

Rekonsiliasi sangat penting bagi perjalanan sebuah bangsa dan negara. Sebab tidak bisa satu pihak saja menjalankan negara tanpa keterlibatan pihak lain. Apalagi bila pihak lain itu memosisikan menjadi musuh. Mengganggu.

Lain halnya dengan bersikap oposan yang meski suka berseberangan tapi hakikat oposisi adalah tetap membangun bangsa dan negara meski tidak dalam pemerintahan. Oposisi yang konstruktif.

Dalam rangka rekonsiliasi ini ada dua arus. Jokowi mengajak Prabowo dan Gerindra serta parpol koalisinya masuk Pemerintahan dengan mendapat jatah menteri atau tetap menjadi oposisi yang konstruktif. Banyak kalangan meminta agar Prabowo konsisten menjadi oposisi.

Untuk itu ada contoh dari Rasulullah Muhammad SAW soal rekonsiliasi ini. Kita tahu, Nabi Muhammad SAW meski dikenal sabar, santun, lemah lembut, bijaksana dan dapat dipercaya karena sangat jujur, tapi Beliau juga sangat tegas. Di sini akhirnya muncul lawan. Musuh. Konflik. Rivalitas. Bahkan peperangan. Untuk itu ada momen rekonsiliasi.

A. Ilyas Ismail dalam tulisannya di republika.co.id menyebut,  dalam Islam hal itu dinamai ishlah. Kata ini dari akar kata shalaha yang secara harfiah berarti baik atau membawa manfaat dan kebaikan. Dalam Al Quran, kata shalah selalu dilawankan dengan fasad atau kerusakan, (QS Al-A`raf [8]: 56) dan sayyi'ah atau keburukan (QS Al-Taubah [9]: 102).

Menurut Ibn `Asyur, ishlah berarti, ja`l al-syay'i shalihan, yakni usaha memperbaiki sesuatu (yang rusak) agar kembali menjadi baik. Jadi, dalam kata ishlah terkandung makna mencegah kerusakan dan meningkatkan kualitas, sehingga sesuatu kembali menjadi baik dalam arti berfungsi dan mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi manusia.


Kaum Muslim diperintahkan agar melakukan ishlah, baik menyangkut konflik dalam keluarga (QS al-Nisa [4]: 128), konflik internal umat Islam (QS al-Hujurat [49]: 9), maupun konflik pada tataran yang lebih luas.


Firman Allah SWT:, ''Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.'' (QS Al-Anfal [8]: 61).


Rasulullah SAW  bahkan mengapresiasi upaya rekonsiliasi itu sebagai kebaikan yang bobotnya lebih besar ketimbang shalat dan sedekah. ''Maukah kalian kuberi tahu sesuatu yang nilainya jauh lebih tinggi dari shalat dan sedekah?'' tanya Nabi. '

'Mau,'' jawab mereka. Nabi bersabda, ''Ishlah Dzat al-Bayn,'' yaitu mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. (HR Malik dari Yahya ibn Sa`id).

Ishlah yang disebut dalam hadis di atas, menurut pengarang kitab al-Muntaqa, Syarh Muwaththa', haruslah merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk menumbuhkan rasa cinta (mahabbah) dan kasih sayang (ulfah), sehingga timbul hubungan yang baik (husn al-mu`asyarah), lalu saling memberi dan menerima saran (al-munashahah), dan puncaknya adalah bahu membahu untuk kemajuan bangsa.


Fathoni dalam tulisannya di nu.or.id (NU Online) menggambarkan, sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW tidak jarang melakukan kesepakatan-kesepakatan dengan berbagai pihak dalam menyikapi konflik dan perang bersenjata, di antaranya dengan kaum kafir Quraisy di Kota Makkah.


Upaya mencegah dan memulihkan konflik atau rekonsiliasi dilakukan Nabi semata untuk kepentingan kaum Muslimin secara luas dan jangka panjang meskipun dipandang merugikan menurut sebagian sahabat.


Salah satu upaya rekonsiliasi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ialah ketika melakukan Perjanjian Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 hijriah atau sekitar tahun 628 masehi. Hudaibiyah merupakan sebuah sumur yang berjarak sekitar 22 kilometer dari arah barat daya Kota Makkah.


Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah beserta rombongan kaum Muslimin hendak melaksanakan umroh. Ibadah tersebut tetap dilakukan Rasulullah beserta kaumnya walaupun beliau tahu bahwa orang-orang kafir Quraisy akan menghalanginya dan berpotensi terjadi kontak senjata.


Dalam perjanjian dengan Kafir Quraisy tersebut, keputusan yang dilakukan Rasulullah dipandang tidak populis oleh para sahabatnya. Bahkan Umar bin Khattab tidak mau menuliskan perjanjian itu, karena bukan hanya tidak adil, tetapi juga dianggap melecehkan simbol-simbol akidah Islam waktu itu. Karena saat itu, akidah Islam harus terus diperkuat di tengah kekejaman orang-orang kafir Quraisy pada fase dakwah Islam di Makkah.


Mungkin Prabowo dan gerbong koalisi serta pendukungnya bisa belajar dari rekonsiliasi ala Rasulullah SAW ini. Khususnya mencermati Perjanjian Hudaibiyah.


Artinya, "mengalah" untuk kebaikan bangsa dan negara. Prabowo perlu mengalah sebab sebelumnya mengklaim menang Pilpres 2019. Bila akhirnya KPU menetapkan Jokowi sebagai pemenang, Prabowo akhirnya mengungkap adanya kecurangan yang TSM alias terstruktur, sistematis, dan masif. Bahkan dia menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) meski akhirnya kalah.  (*)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Rekonsiliasi Jokowi-Prabowo, Belajarlah dari Rasulullah SAW!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel