'Obat' Kecanduan Internet: Motode Pesantren dan Kamp di Korea Selatan



HAJIMAKBUL.COM - Akhir-akhir ini video penghancuran handphone (HP) di MAN 3 Kompleks Pesantren Bahrul Ulum Jombang viral di media sosial.  Video dengan konten yang hampir sama juga pernah terjadi dengan lokasi di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Langkah dua pesantren ini menuai pro-kontra, tapi banyak yang memuji sebab hal itu bisa jadi pelajaran bagi anak-anak yang sekarang banyak kecanduan HP, khususnya bermain Youtube. 

Kecanduan HP ternyata juga terjadi di Korea Selatan (Korsel). Bahkan di negeri ginseng itu ada kamp khusus anak-anak kecanduan internet. Artinya, bahaya internet yang tidak terkontrol sudah mendunia.

“Video penghancuran HP itu bisa saja simbol agar menjadi perhatian luas di masyarakat,” kata Hartoyo, orang tua santri Ponpes Suci Gresik, Rabu 10 Juli 2019.  

Dalam video itu tampak tiga pria berpeci hitam dan mengenakan kaus, bersiap di samping meja yang dipenuhi telepon seluler (HP). Tangan masing-masing memegang palu. Tak berapa lama terdengar salawat burdah berkumandang. 

Tiga pria berpeci itu kemudian  memukulkan palu berkali-kali ke arah deretan HP yang ditata di meja tersebut. Pemandangan penghancuran HP di MAN 3 Jombang itu direkam dalam video yang kemudian viral di media sosial.

Waka Kesiswaan MAN 3 Jombang, Syifak Malik, saat dikonfirmasi kemarin membenarkan kejadian di sekolahnya tersebut.  Hal itu dilakukan saat masa orientasi siswa beberapa waktu lalu di mana HP itu merupakan barang sitaan dari siswa yang dihancurkan menggunakan palu. Pemusnahan itu, lanjut Syifak, merupakan bentuk transparansi atas barang-barang yang disita sekolah sekaligus untuk mendidik mereka. 

"Untuk menghindari fitnah. Makanya, penghancuran HP ini disaksikan seluruh guru dan murid," kata Syifak.

Syifak yang juga Sekretaris Yayasan Bahrul Ulum menjelaskan, peraturan tentang larangan membawa HP selama menempuh pendidikan di pesantren sudah lama diterapkan. Bahkan, wali santri juga menyepakati aturan tersebut.

"Makanya kami tidak mempermasalahkan jika ada pihak luar yang mengkritik kebijakan ini. Karena hal tersebut merupakan kearifan lokal yang dibangun oleh yayasan. Proses belajar santri akan terganggu jika masih memakai HP," kata Syifak.

Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya  video HP milik siswa yang disita lalu dihancurkan pakai palu juga viral di media sosial pada Juni 2019 lalu. Lokasinya di Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. Lewat akun media sosialnya, pihak ponpes juga memberi penjelasan ke publik. 




"Handphone yang dipecahkan dalam video tersebut merupakan barang sitaan yang dilarang untuk santri yang berusaha melanggar disiplin dengan membawa HP ke dalam pondok secara diam-diam. Padahal itu dapat mengganggu proses pendidikan di pesantren," kata Humas Biro Sekretariat Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar, Senin (24/6/2019) lalu. 

Menurut pihak ponpes, tindakan menghancurkan HP itu sudah sesuai dengan pedoman peraturan santri dan didukung surat pernyataan calon santri dan calon orang tua/wali yang akan mendaftar di Ponpes Ngabar. Hukuman itu dibuat untuk menimbulkan efek jera.

"Perusakan barang-barang terlarang yang disita pihak pesantren di depan santri untuk memberikan edukasi efek jera dan menegaskan bahwa pesantren tidak mengambil manfaat secara materiil dari barang tersebut," ungkap pihak Ponpes. 

Pihak ponpes menegaskan penyebaran video pemecahan HP itu tidak dilakukan secara resmi oleh tim humas. Pihak Ponpes pun menerima masukan soal penindakan terkait HP ilegal. 

Pesantren memang menerapkan aturan sangat ketat soal santri bermain HP. Hampir semua pesantren melarang santri membawa HP ke pesantren. Mereka hanya diizinkan bermain HP saat mendapat kunjungan orang tuanya saja. Itu pun yang dipakai bermain adalah HP milik orang tuanya.

"Saya setuju dengan kebijakan ini sebab bila tidak, anak-anak pasti kecanduan HP. Bagaimana bisa belajar, apalagi menghafal Al Quran, bila setiap hari bermain HP. Ini sangat positif bagi santri," kata Hartoyo saat membesuk anaknya di Ponpes Suci Gresik kemarin. 

Belajar dari Korea

Dia mengatakan, sudah ada contoh bahwa HP berbahaya bagi anak-anak bila tidak dikontrol dengan ketat. Salah satunya bisa dilihat dari Korea Selatan yang dikenal memiliki tingkat konektivitas internet tertinggi di dunia. Hampir setiap orang punya telepon pintar dan akses internet. Namun kini muncul sisi gelap dari capaian tersebut.


                                       Hawon melakukan terapi di kamp Muju Korea Selatan.


Angka resmi tahun lalu menunjukkan bahwa lebih dari 140.000 anak muda kecanduan internet. Namun sejumlah laporan menunjukkan bahwa angka itu pada kenyataannya bisa jadi jauh lebih tinggi lagi.

Dampaknya, banyak sekali pusat penanganan yang dibuka di seantero Korea di mana para remaja bisa mendapat perawatan untuk masalah ini dan mendapat bantuan untuk bisa lepas dari kecanduan internet. Sekolah juga telah mengenalkan program khusus untuk mencoba menghentikan anak-anak dari bahaya kecanduan internet.

Untuk itu BBC Newsround mengunjungi Korea Selatan untuk mendatangi sebuah kamp kecanduan internet di kawasan bernama Muju untuk mencari tahu lebih banyak tentang masalah ini. Lalu apa itu kecanduan internet?

Kecanduan terhadap sesuatu terjadi ketika seseorang tidak memiliki kontrol terhadap aksinya dalam melakukan, mengonsumsi maupun menggunakan sesuatu hingga pada titik di mana hal tersebut dapat membahayakan diri mereka sendiri. 

Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), hal itu harus dicegah. Sebab kecanduan internet terjadi ketika seseorang menggunakan internet terlalu banyak hingga akhirnya berdampak negatif terhadap kesehatan mental maupun fisik, atau keduanya. Hal ini bisa mempengaruhi perilaku seseorang dan bagaimana mereka berinteraksi di dunia nyata. Mereka bisa lupa waktu dan mengabaikan kebutuhan dasar mereka, seperti makan atau tidur.

Seperti halnya kecanduan benda lain, tidak bisa bermain internet juga bisa menyebabkan masalah bagi seseorang yang kecanduan - misalnya, merasa marah atau sedih.

Apa itu kamp kecanduan internet? Seperti dikutip dari detik.com, kamp kecanduan internet adalah tempat di mana orang-orang bisa mendapat bantuan untuk mengobati hubungan tidak sehat yang dimiliki dengan internet.  Mereka bisa mempelajari sejumlah teknik untuk membantu mereka menjadi lebih tidak merasa ketergantungan dengan dunia daring dan untuk mengubah perasaan mereka tentang pengalaman bermain internet.

Sejak tahun 2014, lebih dari 1.200 anak muda telah mengikuti kamp kecanduan internet serupa, seperti yang dilakukan Hawon. Di kamp di Muju, peraturannya sangat ketat dan telepon genggam tidak boleh dibawa masuk. Sesampainya para peserta di sana, mereka harus menyerahkan semua peralatan elektronik mereka, termasuk alat-alat seperti pelurus rambut.
Kamp itu berfokus untuk membantu para remaja merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri ketika tidak memegang telepon genggam.  Beberapa sesinya termasuk sesi kerajinan tangan, olahraga, permainan dan aktivitas yang dirancang untuk membantu anak-anak muda keluar dari dunia digital dan kembali ke dunia nyata.

Ide awalnya adalah bahwa aktivitas-aktivitas itu dapat membantu mereka menemukan cara lain untuk merasa senang dan santai, alih-alih mendapat 'likes' dan memenangkan suatu gim online.  Para peserta bermain permainan. Di kamp, para remaja didorong untuk bermain dan melakukan aktivitas yang membuat mereka lebih terlibat dengan dunia nyata, ketimbang di dunia digital. 

Juga terdapat sesi konseling di mana para remaja bisa mencurahkan segala masalah yang mereka alami.  Para tenaga konseling juga membantu mereka untuk tahu kapan berhenti menggunakan telepon mereka dan untuk mengubah sikap mereka terhadap gawai-gawai mereka.
Manajer kamp, Yong-chul Shim, menjelaskan, "Di sini, kami mencoba untuk memberi mereka alternatif dari internet, gim dan media sosial.

"Ketika kami menjalankan kamp, kami mencoba banyak aktivitas untuk menunjukkan kepada para remaja bahwa mereka bisa memiliki rasa percaya diri dan harga diri yang lebih baik di luar dunia siber."

Apa rasanya mengikuti kamp kecanduan internet?

BBC Newsround menemui Hawon (17 tahun), yang mengikuti kamp itu karena kecanduannya menonton YouTube.  "Saya menonton YouTube setiap hari, terkadang selama 18 jam.  Saya membawa telepon genggam saya ke kamar mandi, atau ketika saya makan, saya menggenggamnya. Dalam pikiran saya, saya seperti 'Saya akan menonton untuk satu jam saja', namun kemudian itu berlanjut dan berlanjut. Sulit untuk berhenti."

Hawon mengatakan bahwa hidup di Korea Selatan bisa sangat membuat stres, terutama sebagai seorang anak muda yang diharapkan bisa belajar dengan keras di sekolah.  Untuk itu, dia pikir banyak orang Korea yang menggunakan telepon genggam sebagai pelipur stres. Hawon sendiri menjelaskan bagaimana dengan menonton YouTube ia merasa lebih bahagia.

Akan tetapi, banyak menonton YouTube ternyata membawa dampak yang besar dalam hidupnya. "Hal itu mempengaruhi prestasiku di sekolah dan ketika saya dan teman-teman bertemu, kami hanya melihat telepon genggam kami dan tidak mengobrol. Saya tertidur di kelas. Saya sering marah pada orang lain entah kenapa."

Ia sadar bahwa itu telah menjadi masalah yang harus segera ditangani dan menganggap bahwa kamp kecanduan internet adalah cara yang tepat. "Saya ingin mengatasi kecanduan itu, untuk melihat yang ada di sekeliling saya, bukan hanya telepon saya," ujar Hawon. "Ini adalah kesempatan bagi saya untuk memperbaiki masalah yang saya punya."

Hawon adalah satu dari 10 remaja perempuan di kamp di Muju. Kamp-kamp ini biasanya berlangsung selama satu hingga empat minggu, tergantung seserius apa kecanduan mereka.  Pada hari pertama kamp, telepon genggam Hawon diambil darinya, yang ia rasa sangatlah sulit dan ia pun berpikir bagaimana mungkin ia bisa menjalani sesi tanpanya.

Salah satu karyawan kamp, Tae-joon Kim, menjelaskan bagaimana para remaja yang ikut kamp merasa sangat sulit kehilangan telepon genggam mereka dan mengatakan bahwa mereka ingin pulang saja.  "Dari saat mereka menyerahkan telepon genggam, mereka langsung merasa kesulitan," ujarnya.

Namun seiring berganti hari, Hawon mulai terbiasa hidup tanpa telepon genggamnya.  Ia merasa optimis bahwa selepas mengikuti kamp, ia akan bisa mengurangi durasi waktu yang ia habiskan untuk menonton video di internet. Ia berharap untuk menghabiskan waktu luang yang ia punya bersama keluarganya. (det/wis)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "'Obat' Kecanduan Internet: Motode Pesantren dan Kamp di Korea Selatan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel