Resensi Biografi Mohammad Nuh: Berpihak pada Kaum Lemah

Judul Buku : Biografi Mohammad Nuh, Menguatkan Mata Rata Terlemah
Penulis : Sukemi, Adriono, Rusdi Zaki
Penerbit            : Qantara, Jakarta
Tebal : 272 hlm 
Terbit : Juni 2019

HAJIMAKBUL.COM - Banyak cara dilakukan orang untuk menandai momentum hidupnya. Seperti yang dilakukan Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA ini. Mantan Menkominfo dan Mendikbud di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut menandai 60 tahun perjalanan hidupnya dengan cara menerbitkan buku  biografi dengan judul Menguatkan Mata Rantai Terlemah.

Sebagaimana lazimnya sebuah biografi, buku setebal 272 halaman ini berisi tentang jejak panjang arek kampung Gununganyar Surabaya ini sejak masa bocah hingga mencapai puncak kariernya sebagai pembantu presiden, bahkan juga berisi kiprahnya setelah tidak lagi menjadi pejabat negara.

Dengan membaca buku ini kita mendapat gambaran bahwa sejak bocah Moh Nuh amat beruntung, karena lahir di tengah keluarga dan lingkungan desa yang kondusif. Karakter Abah dan Emak sebagai pekerja keras dan teguh memegang prinsip hidup, jelas memengaruhi watak Nuh kelak di saat dewasa. 

Abah menekankan pentingnya menjadi muslim yang taat, dengan mewasiatkan agar seluruh keturunannya jangan sampai meninggalkan salat malam dan gemar membaca salawat. Emak mengajari sikap sosial yang mulia, “dadi uwong iku kudu seneng tetulung nang uwong liya. Dadiya ahli tetulung (Jadi manusia hendaknya suka menolong orang lain. Jadilah ahli menolong.” (hal 188).

Tampaknya pesan Emak ini begitu membekas dan benar-benar dijalankan oleh Nuh, sebagai putra ke tiga dari 10 bersaudara itu. Bahkan kelak sikap itu cukup mewarnai kebijakan-kebijakan yang dijalankan saat menjadi pimpinan, baik saat masih menjadi Direktur Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), sebagai Rektor ITS, hingga sebagai Menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 maupun jilid 2.

Dari sejumlah kebijakan yang diambil, terlihat adanya benang merah yang mengarah kepada upaya “menolong sesama”. Beberapa kebijakan afirmatif Nuh menunjukkan keberpihakan dirinya kepada mereka yang miskin dan yang terkucil. Terkucil dari akses ekonomi maupun dari kemajuan teknologi. 

Di mata Nuh, masyarakat itu bagaikan rangkaian mata rantai yang saling bergandengan satu dengan lainnya. Sebagai satu rangkaian terpadu, maka kekuatan sebuah rantai justru terletak pada mata rantai yang terlemah. Bila rantai difungsikan untuk mengangkat beban berat maka yang putus duluan pastilah bagian yang terlemah itu. Maka dari itu, untuk meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia dan untuk memperkuat ketahanan nasional, salah satu cara yang harus dilakukan adalah memperkuat mata rantai terlemah.  Policy  yang selama ini dilakukan Menteri Nuh rupanya  berada dalam konteks seperti itu.

Sebagai contoh diluncurkannya program bantuan Bidikmisi saat dirinya menjadi Mendikbud. Kebijakan ini berupa pemberian bantuan biaya kuliah bagi anak dari keluarga yang lemah secara ekonomi tetapi kuat secara akademik. Tidak hanya sampai jenjang sarjana (S1), di antara alumni Bidikmisi yang terbukti berprestasi, didorong dengan beasiswa agar dapat mengenyam pendidikan S2 dan S3 di luar negeri. Sehingga sampai tahun 2014, tercatat sebanyak 222 ribu mahasiswa yang menerima Bidikmisi.

Mendikbud Moh Nuh juga turut menginisiasi lahirnya Undang Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Salah satu gagasan afirmatif yang diusulkan terakomodasi pada pasal  47, yang mengamanatkan: “PTN (Perguruan Tinggi Negeri) wajib mencari dan menjaring calon Mahasiswa yang memiliki potensi akademik tinggi, tetapi kurang mampu secara ekonomi dan calon Mahasiswa dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk diterima paling sedikit 20% (dua puluh persen) dari seluruh Mahasiswa baru yang diterima dan tersebar pada semua Program Studi.”

Perhatian terhadap kesenjangan pendidikan antara lain dilakukan dengan program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK). Dengan dua program ini siswa/mahasiswa dari daerah 3T diberi kesempatan untuk belajar ke daerah lain yang lebih maju kualitas pendidikannya. 

Untuk tahap awal dikirim 500 lulusan SMP/sederajat dari Papua untuk  melanjutkan sekolah di Pulau Jawa dan Bali. Karena angkatan pertama ini semua berasal dari Papua, maka program ADEM (juga ADIK) lebih populer dikenal sebagai program khusus untuk Papua, padahal tidak demikian. Pada pengiriman tahap berikutnya peserta program ini  juga berasal dari daerah 3T (hal 203).

Saat menjadi Menkominfo (2007-2009), Nuh juga sempat menetapkan penurunan tarif pulsa telepon seluler yang ternyata berdampak signifikan. Pengguna handphone semakin bertambah karena harga pulsa terjangkau, sedang pengelola provider juga tidak merugi. Meski tarif pulsa turun tetapi jumlah pemakaian meningkat tajam sehingga  akumulasi pendapatan penyelenggara telepon seluler tetap meningkat. Ini sejalan dengan prinsip bisnis kuantitas.

Proyek-proyek pembangunan tower di daerah-daerah pelosok, sosialisasi internet di desa,  hingga pemasangan kabel bawah laut yang kemudian populer disebut Palapa Ring, semua diniatkan untuk pemerataan akses komunikasi dan informasi. Untuk menjangkau daerah blindspot sehingga dari Sabang sampai Merauke tercover layanan komunikasi.
  
Dalam biografi ini juga tergambar Nuh sebagai sosok yang tidak suka diam, bahkan kerap disebut rekan-rekannya sebagai orang yang multitasking. Mampu mengerjakan berbagai kegiatan berbeda secara simultan. Apa tidak kewalahan dan kehabisan waktu? “Kuncinya memang terletak pada manajamen waktu,” katanya.

Kini, setelah tidak menjabat menjadi  Menteri, kesibukannya tetap padat. Dalam sepekan masih rutin hilir mudik Jakarta-Surabaya untuk menjalankan tugas yang diembannya.  Saat ini Nuh tercatat sebagai Komisaris Utama Bank Mega Syariah, Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Ketua Badan Wakaf Indonesia, Ketua Dewan Pers Indonesia, Ketua Majelis Wali Amanat ITS Surabaya, serta Ketua PBNU dan ICMI.

Perlu dicatat, meluncurkan biografi di tahun-tahun politik  seperti saat ini, gampang dicurigai sebagai sebuah upaya pencitraan tersembunyi: siapa tahu ada panggilan telepon dari istana untuk diajak bergabung dalam kabinet? Walau tentu saja menerbitkan buku menjadi hak semua orang.

Untuk menjawab prasangka tersebut, Moh. Nuh dalam prolog buku ini sudah menepisnya dengan ungkapan yang sangat khas: “Nek urusan ngono-ngono iku aku wis mari. (untuk urusan seperti itu saya sudah selesai). Giliran teman-teman yang lain sajalah yang tampil.” (*)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Resensi Biografi Mohammad Nuh: Berpihak pada Kaum Lemah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel