Novel Religi: Ghost Writer (Bab ll Perjalanan Mencari Guru)


"Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya."

UMAR IBNU KHATTAB





SUASANA pondok heboh. Para santri kasak-kusuk. Semua membicarakan satu topik. Bukan pelajaran agama. Bukan soal meningkatkan ibadah sunnah Ramadhan yang pahalanya melimpah ruah. Apalagi berburu Lailatul Qadar. Menjaring pahala yang bertebaran di langit. Yang jumlahnya melebihi pahala seribu bulan itu. Mereka hanya bicara soal Rahardian. Sang ustad yang tiba-tiba menghilang.

Ustad Gatot tenang-tenang saja. Dia tahu para santri gelisah. Dia tahu istrinya gundah. Maklum, putra kinasihnya tiba-tiba raib entah ke mana. 

Namun Gatot tahu putranya tidak pergi untuk kongkow-kongkow di kafe atau diskotek. Dia tahu putranya tidak ngobrol ngalor- ngidul di warkop seperti para pemuda yang lain. Gatot tahu putranya beda. Rahardian pasti mencari dirinya. Jati diri seorang anak kiai. Seorang gus sejati.




Hanya Gatot memang tidak suka dengan cara putranya dalam menentukan jalan hidupnya. Rahardian cenderung semau gue.

 "Bocah kok sak enak e udele dewe. Apa mungkin Dian meniru saya?" Ustad Gatot mengingat masa lalunya yang juga bandel. Yang suka merepotkan orang tuanya. Dan orang tuanya selalu sabar menghadapi anak-anaknya yang nakal.

Ustad Gatot lalu teringat nasihat Syayidina Umar Ibnu Khattab. Nasihat Sahabat Nabi itu diajarkan oleh gurunya dulu.

"Jika kalian melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah, apabila anakmu berbuat buruk, tegur dan jangan pernah engkau mencatatnya."



Ah, anak baik? Dulu dia juga bukan anak baik-baik amat.

Anak baik karena orang tuanya baik dan Allah ridho akan kebaikan mereka. Sebaliknya anak nakal bila orang tuanya suka murka dalam menghadapinya, maka Allah juga akan murka, hingga anak pun semakin nakal. Keluarga pun menjadi kisruh. Berantakan. Mendidik anak perlu kalkulasi. Mungkin matematis. Matematika Illahi Rabbi.

Mendidik anak dengan selalu mengharap keridhoan dari Allah SWT.


Selain itu Ustad Gatot juga lupa, bahwa Rahardian bukan lagi seorang bocah. Pemuda ini sudah dewasa untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Termasuk dalam memilih seorang guru baginya. 




Gatot pun geleng-geleng kepala. Membandingkan dirinya dengan sang anak.

"Ya, terserah Engkau saja Ya Allah..." Pria itu menggumam sendiri. 

"Abah kok bicara sendiri...!?" 

Dia menoleh refleks sekenanya saat mendengar suara istrinya. Perempuan itu menghampirinya setelah meletakkan mukena dan Al Quran selepas salat Dhuha di masjid.

"Sudah ada kabar dari Dian..." Istrinya bertanya lagi dengan raut wajah sedih.

"Kabar apa?"

"Lho kok kabar apa? Putramu sudah lima hari ndak pulang, bagaimana dia makan di luar sana, Abah!?"

"Dian sudah besar. Dia pemuda tangguh, jangan khawatir!"

"Abah ini gimana sih!" Perempuan ini langsung melengos pergi meninggalkan suaminya.

***
Nun jauh dari lokasih pondok, Rahardian baru turun dari angkutan pedesaan. Terik matahari membuat peluh membasahi wajahnya. Dia mengusap keringat dengan tangannya sambil berjalan menuju perkampungan yang jalannya menanjak menuju ke arah gunung. Sesekali dia bertanya kepada orang yang kebetulan berpapasan dengannya.




Orang yang ditanya lalu melempar pandangan sambil menunjuk ke arah hutan di atas bukit. Terlihat masih sangat jauh. Namun pemuda ini dengan santai melangkahkan kaki menuju arah yang ditunjukkan warga tersebut.

Kepalanya yang berkopyah merunduk. Baju koko putih basah oleh keringat. Tanpa terasa pemuda itu memasuki hutan lebat. Senja sore sinarnya lembut menusuk-nusuk celah dedauan yang pada beberapa bagian begitu rimbun. Semakin dalam dia memasuki hutan semakin gelap. 

Wajah dia terlihat senang saat di depannya ada sesosok orang berjalan ke arah yang sama. Sosok berbaju lusuh warna putih.

Bergegas dia pun mengejar orang itu.




"Alhamdulillah, ada teman dalam perjalanan saya ke pondok Ustad Khodir." 

Rahardian  berkata dalam hati sambil mempercepat langkah. Namun tiba-tiba sosok itu sudah raib dari pandangannya. Rahardian kaget. Ke mana orang itu pergi. Tidak mungkin dia berlari sangat cepat hingga tenggelam di kegelapan. Jalan ini lurus menuju gunung sehingga Rahardian pasti melihatnya meski dia berlari cepat. 

Apa mungkin orang itu menerabas masuk hutan? Apa mungkin sosok itu siluman? Apa dia jin atau hantu?  Pemuda itu tetap terlihat tenang.  Meski penasaran.

Rahardian tidak pernah takut dengan semua itu. Dia yakin Allah yang Maha Besar bersamanya, sehingga semua yang dihadapinya itu menjadi sangat kecil.




Dia tahu Allah akan menolong setiap hambanya yang memohon pertolongan bila menghadapi mara bahaya. Bahkan Allah bisa otomatis menolong bila situasinya super darurat dan kita memang terbiasa berdoa. Inilah yang membuat orang tidak pernah takut kecuali hanya kepada Allah SWT.
Rasulullah Muhammad SAW juga menghadapi tantangan dakwah yang sangat berat.  Bahkan di saat hidupnya terancam, Beliau tegar karena kehadiran Allah bersamanya. 

Momen itu terjadi  saat Nabi  SAW harus melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Khususnya di saat Beliau sedang berada dalam Gua Hira. Para preman yang disewa khusus untuk memenggal leher Beliau berada persis di depan gua itu. Siapa pun pasti takut, kecuali yang menghadirkan Allah bersamanya.

Bahkan, Abu Bakar R.A. yang melihat  posisi Rasulullah pun  menangis. Bukan karena takut akan kematiannya sendiri. Tapi khawatir akan keselamatan Rasulnya. Dia khawatir para bromocorah itu menengok ke dalam gua itu pasti akan membahayakan Rasulullah SAW.

Namun  Rasulullah sendiri malah tenang menghadapi situasi itu. Beliau lalu membisikkan kata-kata ke telinga sabahatnya tersebut: 

“Jangan takut, jangan khawatir, karena Allah bersama kita”. Kata-kata Rasul itu kemudian direkam dalam Al-Quran. Rahardian terpupuk keberaniannya oleh cerita heroik dalam kitab suci itu.


"Ya, sudahlah," katanya dalam hati. "Mungkin dia tidak mau aku temani dalam perjalanan ini."




Belum selesai dia menduga-duga atas apa yang baru saja terjadi, Rahardian kaget bukan  kepalang setelah pundaknya terasa disentuh oleh seseorang dari belakang.

"Haaa!?"

Siapa dia?

(Bersambung)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel Religi: Ghost Writer (Bab ll Perjalanan Mencari Guru)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel