Kisah Ramadhan: Tragedi Ferdiansyah, Kebaikan H. Nurawi, dan Gubernur Khofifah



HAJIMAKBUL.COM – Kisah Ferdiansyah (19) dan H. Abdullah Nurawi, Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI, patut menjadi perenungan di bulan Ramadhan 1440 Hijriyah ini. Kisah seorang pemuda yang berbakti kepada ibundanya. Juga kisah seorang mualaf yang dengan ringan tangan membantu sesama umat yang menghadapi musibah. Tanpa kenal satu sama lain.  


Ferdiansyah, dengan tekun, sabar, dan telaten, membantu sang ibu untuk istiqomah salat Tahajut di sepertiga malam. Hal ini karena ibunda pemuda asal Kecamatan Pakong Madura ini menderita stroke. Sementara  H. Abdullah Nurawi membantu Ferdiansyah karena factor kemanusiaan. Apalagi Ferdi merupakan manusia yang berbakti kepada ibundanya.  

Saat remaja lain kongkow di warkop, dia menjaga ibunya. Namun dia sempat begadang bersama teman-temannya di hari nahas itu. Bahkan, dia menginap di rumah temannya. Tapi malam itu dia tersentak kaget sebab mendapati dirinya berada di rumah orang. Bukan di rumah ibunya.


Maka, bergegaslah Ferdiansyah pulang pada dini hari itu. Dia menyambar jaket milik temannya yang tergeletak di sofa. Minta izin lebih dulu, pemuda ini kemudian menstarter motor milik temannnya dan langsung cabut pulang karena pada saat itu dia hanya ingat satu hal; ibunya hendak salat Tahajud. Siapa yang membantu berjalan mengambil air wudhu dan lain sebagainya?
Motor melaju menuju rumahnya. Siapa sangka ada orang kejam tengah  membuntutinya. Motor Ferdi dipepet. Tak lama kemudian orang tak dikenal itu menebas tangan pemuda ini dengan celurit.

Dia terkapar. Tubuhnya luka parah. Sampai saat ini tidak ada yang tahu apa motif orang tak dikenal itu membacok Ferdi. Dugaan sementara, pemuda ini apes. Dia menjadi korban salah bacok. Pelaku diduga mengincar temannya Ferdi. Pemilik jaket dan motor yang dikendarainya di malam berdarah itu. Takdir tetap harus dihadapi meski dengan perasaan getir. 

Sempat dirawat di RS setempat. Kemudian Ferdi dirujuk ke RSUD dr Soetomo di Surabaya.  Sempat terkatung-katung kepulangannya dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya karena tak ada biaya, Ferdiansyah, korban salah bacok itu,  akhirnya  telah “bebas” setelah mendapat bantuan dari H. Abdullah Nurawi, Ketua Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI). 


Beberapa hari berada di rumahnya, Ferdiansyah didatangi oleh “utusan” Gubernur Jatim, Khofifan Indar Parawansa. Utusan ingin melihat fakta-fakta yang sebenarnya, sebagai bahan untuk mengambil tindakan berikutnya. Sementara, hingga kini keluarga masih tetap ngotot agar sang pelaku ditangkap dan bertanggungjawab. Polisi harus segera menangkapnya.

Ferdiansyah asal Pakong, Pamekasan, Madura, kini sudah kembali beraktivitas. Bersama kedua orang tuanya, Selasa (14/5/2019), Firdiansyah mengunjungi Kantor Global News di Surabaya yang berlokasi di Jl. Cipta Menanggal VI-7 Surbaya. Datang bersama keluarga besarnya untuk menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sejumlah pihak yang telah membantunya selama menjalani operasi di RSUD dr Soetomo.


Diterima langsung oleh Pemimpin Umum Koran Global News, Erfandi Putra, pemuda yang baru lulus dari MAN Sumber Bungur Pakong Pamekasan, Madura, itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Global News. Sebab, melalui redaksi koran ini dia dipertemukan dengan orang-orang baik. Mulai H. Nurawi hingga utusan Gubernur Jatim.  

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Erfandi Putra yang banyak membantu. Terutama sekali kepada H. Abdullah Nurawi yang telah menanggung semua biaya pengobatan selama di RSUD Dr. Soetomo,” kata Ferdianyah yang datang bersama orang tuanya dan saudara-saudaranya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ferdiansyah merupakan korban salah bacok yang mengakibatkan lengan sebelah kanannya harus diamputasi. Pada Jumat (26/4/2019), dirinya bersama sejumlah temannya MAN Sumber Bungur bermalam di rumah Erfan yang juga temannya di Kecamatan Waru, Pamekasan.

Seperti biasa, setiap pukul 01.00 dirinya selalu membangunkan ibunya yang lumpuh. Membopong ibunya dari kuri roda untuk salat Tahajud. Di tengah malam sekitar pukul 23.45 dia terbangun. Teringat ibunya yang akan salat Tahajud. Dia langsung bergegas untuk pulang.


Lalu dia meminjam motor Erfan (tuan rumah yang ditempati tidur bersama temannya). Dia juga meminjam jaket Erfan. Dia benar-benar tak sabar untuk cepat-cepat sampai ke rumahnya. Dia melakukan tugasnya, yakni membantu ibunya untuk salat Tahajud. 

“Pas berada di Jalan Kleker, Waru, di kegelapan malam saya ditebas dengan celurit oleh orang tak dikenal, sebelumnya orang tak dikenal tersebut memepet kendaraan saya,” katanya.
Firdiansyah langsung berteriak. Warga sekitar pun berdatangan. Firdiansyah  dibawa ke Puskesmas Pakong. Karena lukanya parah, petugas menyarankan untuk langsung ke RSUD Pamekasan. RSUD Pamekasan akhirnya merujuk ke RS Dr Soetomo. 

Rupanya tangan kanan yang terkena tebas celurit tersebut tak bisa ditolong lagi. Amputasi, kata dokter. Ya, amputasi satu-satunya jalan untuk penyembuhan. “Saya ikhlas semuanya ini. Saya tak punya musuh. Saya pulang ke rumah hanya untuk membantu ibu salat malam. Saya hanya minta pak polisi menemukan siapa pembacok saya, saya minta keadilan. Saya minta agar pembacok tersebut bertanggungjawab,” katanya.

Dikunjungi Utusan Gubernur

Wajah Ferdiansyah terlihat cerah ceria saat berkunjung ke Kantor Koran Global News Selasa 14 Mei 2019. Senyun tersungging di bibirnya. Kesedihan di wajahnya berangsur hilang. Maklum dia baru saja melewati masa-masa berat dalam hidupnya, mulai tragedi salah bacok yang menimpanya hingga harus kehilangan lengan kanannya, sempat kesulitan membayar biaya operasi di rumah sakit, hingga memikirkan masa depannya lantaran harus menjalani hidup dengan hanya memiliki satu tangan kiri saja. 

Namun, Firdiansyah yakin Allah SWT selalu bersama hambanya yang sabar dan tawakal. Karena itu dia tetap optimistis menatap masa depannya.

Ferdiansyah mengaku sudah bersyukur  sebab Allah SWT telah mempertemukan dengan orang-orang baik yang telah membantunya melewati masa-masa sulit tersebut. Mulai bantuan tetangga di desa, uluran tangan dari Global News,  bantuan semua biaya pengobatan yang diberikan Haji Abdullah Nurawi, hingga Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang mengirim bantuan ke rumahnya.

"Ibu Gubernur mengirim bantuan sembako. Terima kasih atas perhatian Ibu Gubernur Khofifah kepada saya dan keluarga. Namun bila diperkenankan mohon Ibu Khofifah juga bersedia membantu agar saya mendapat pekerjaan apa saja  atau bisa membuka usaha supaya mendapat penghasilan untuk membantu orang tua," kata Ferdiansyah dengan mata berkaca-kaca. 

Kedua orang tuanya yang mendampingi Ferdiansyah tampak terharu melihat nasib putranya. Sungguh, musibah yang menimpa Firman itu kehendak Allah SWT untuk menguji kesabaran umatnya. Dan kepada Allah pula mereka berserah diri.

"Dia termasuk tumpuan kehidupan keluarga karena saya dan ibunya sudah tidak bekerja lagi. Apalagi ibunya kena stroke," kata ayah Firdiansyah

Sampai sekarang, meski hanya dengan satu tangan, Ferdiansyah masih berusaha membantu ibunya istiqomah salat Tahajud. Salat malam selama ini dilakukan ibunya untuk mendoakan agar anaknya sukses di dunia dan akhirat. Hal itu pula yang menjadi semangat bagi Firdiansyah untuk melanjutkan hidup meski hanya dengan satu tangan.

"Saya bersyukur masih diberi satu tangan yang insya Allah kuat untuk berusaha mencari nafkah," katanya.

Sementara itu redaksi Global News tidak menyangka mendapat kunjungan dari keluarga Ferdiansyah. “Kami juga berharap agar pihak kepolisian berhasil mengungkap siapa pembacok itu. Dia harus bertanggungjawab. Kasihan Ferdiansyah, maaf dengan tangan hanya sebelah kirinya yang tak lengkap, bagaimana dia beraktivitas selanjutnya. Sekali lagi saya minta pihak kepolisian mengusut tuntas soal  salah bacok ini,” kata Erfandi Putra. (gatot susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kisah Ramadhan: Tragedi Ferdiansyah, Kebaikan H. Nurawi, dan Gubernur Khofifah "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel