Cerpen Ramadhan: Sarip Merindu Malam 1000 Bulan



Oleh Gatot Susanto





HAJIMAKBUL COM - Malam nanti malam 29. Malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan itu penuh berkah. Pintu langit dibuka. Para malaikat serempak turun ke bumi. Menebar keberkahan. Dan  doa-doa dikabulkan oleh Tuhan..." kata Ustad Ramli mengawali taushiyah Subuhnya di Masjid Al Hijrah.

Para jamaah khusyuk mendengarkan ceramah agama sang ustad. Semua mata tertuju padanya. Seluruh jamaah konsentrasi  pada kata-kata Ustad Ramli. Pada pahala yang bertumpuk-tumpuk yang dijanjikan Tuhan bagi hamba-Nya yang istiqomah memuliakan Ramadhan dengan amalan-amalan kebaikan dan ibadah penuh keikhlasan.

"Siapa tahu malam nanti malam seribu bulan. Lailatul Qadar..." kata Ustad Ramli lagi sambil menoleh ke arah seorang jamaah yang tubuhnya sandar di pilar masjid. Lelap. Ustad Ramli tersenyum.

"Rip...bangun!" Abdul Ghofur menyenggol temannya, Sarip, yang ngorok di sampingnya. Sarip gelagapan. Tersipu malu memandang satu dua jamaah lain sambil mengusap liur yang ada di sudut mulutnya.  Rupanya Sarip semalaman kerja memotong ayam di Pasar Karangan. Sepertinya dia kelelahan hingga tertidur usai salat Subuh di tengah majlis ilmu yang rutin diadakan oleh Ustad Ramli.



"Ustad Ramli barusan menjelaskan soal Lailatul Qadar..."

"Oh, he eh...!" Sarip mengangguk. Kesadarannya belum pulih. Masih disergap kantuk.

"Beliau mengajak jamaah itikaf nanti malam atau dini hari besok. Jam 12 ..."

"Oo..he eh...!"

"Dengerin ceramahnya. Jangan tidur lagi...."
"Ya, he eh... he eh..." Sarip mengangguk. Lagi.
"Sudah biarin saja Mas Ghofur. Dia kelelahan..." Ustad Ramli menghentikan ceramahnya sejenak. 
"Sepertinya Pak Sarip nanti bisa ikut itikaf. Tapi seperti pungguk merindukan seribu bulan..." celetuk seorang jamaah disambut senyum yang lain.

Lamat-lamat di antara rasa kantuknya yang sangat mendera, Sarip mendengarkan sepotong-sepotong ceramah ustad Ramli. Dia menangkap kata-kata ustad yang menjelaskan tata cara itikaf--ritual Ramadhan yang sangat diinginkannya.




Salah satunya harus diadakan di masjid. Bukan musala. Apalagi di pasar. Lebih-lebih di tempat pemotongan ayam yang kumuh dan tentu saja penuh najis. Jelas tidak layak dipakai itikaf.

Sarip sangat ingin bisa ikut itikaf berjamaah. Salat malam, salat tasbih, berzikir, membaca Al Quran semampunya, hingga salat Subuh bahkan sampai salat isryaq dan dhuha. Tapi dia tidak bisa melakukannya sebab jam kerjanya sebagai tukang potong ayam hampir berbarengan dengan jadwal serangkaian ibadah itu. Namun demikian Sarip tetap berusaha agar bisa ikut itikaf berjamaah di masjid. Itikaf baginya seperti momen yang sangat dirindukannya. Momen ketika orang-orang berburu lailatul qadar.

"Ya Allah beri pertolongan kepada hambaMu ini agar bisa menjadi bagian dari  momen itu. Aku pasrah kepadaMu. Kalau pun hamba tidak layak mendapat pahala setara 1000 bulan, satu bulan pun tak mengapa, asal hambaMu ini menjadi bagian di dalamnya. Amin..."

Sarip tak hanya berdoa. Dia serius ingin menjadi bagian dari orang-orang yang berburu lailatul qadar. Berburu kemuliaan yang dikirim Tuhan melalui para malaikatnya yang serempak turun ke bumi. Karena itu Sarip melakukan berbagai persiapan menyambut bulan istimewa ini.

Sejak sebelum Ramadhan Sarip sudah menyiapkan mental agar bisa lebih khusyuk beribadah. Pria ini berjanji  puasa penuh pada Ramadhan tahun ini. Dia yakin Ramadhan bulan untuk menempa jiwa raganya. Seperti dulu ketika mendapat pelatihan memotong ayam, dia mengikuti acara itu dengan serius, cermat dan seksama hingga akhirnya menjadi yang paling mahir memotong ayam. Saat 17 agustusan kemarin dia juara satu potong ayam tercepat. Dia juga disenangi juragannya sebab paling rajin bekerja. Sarip karyawan teladan hampir setiap tahun.




Tapi tahun ini Sarip ingin lebih dekat kepada Tuhan. Ramadhan adalah momennya. Karena itu dia sudah menyiapkan mental spiritual untuk menyambut kedatangan Ramadhan. Termásuk berusaha salat tarawih berjamaah, tadarus Al Quran, hingga itikaf. Tapi masalahnya dia harus memotong ayam pada waktu bersamaan dengan semua acara ibadah tersebut.

Terlintas keinginan untuk libur sehari di malam 29 ini. Tapi dia sudah tahu, bahwa hal  itu cita-cita yang mustahil. Juragannya pasti menolak dengan mengatakan,"sampai H-1 pelanggan akan makin banyak dan butuh ayam dalam jumlah banyak pula. Tidak boleh libur!"

Sarip memahami. Ramadhan dan Lebaran adalah masa panen bagi juragan potong ayam. Juga bagi tukang potong ayam yang pendapatannya tidak seberapa banyak. Momen Ramadhan dan Lebaran, ketika kebutuhan hidup bertambah, anak istri ingin membeli baju baru, menyiapkan kue untuk para tamu yang melakukan unjung-unjung silaturahim ke rumahnya, dari mana uangnya bila tidak dari acara lembur memotong ayam. Ketika waktu bekerja bertambah, pasti waktu ibadah berkurang. Itu hukum alam. Masalahnya dia harus menemukan titik keseimbangan yang indah di tengah beragam kebimbangan.

Karena itu Sarip tetap berusaha rajin beribadah meski sedang bekerja di tempat yang penuh najis di tempat pemotongan ayam. Dia berusaha salat lima waktu tepat waktu. Artinya, saat mendengar azan dia langsung izin kepada taman-temannya untuk salat. Dia lalu membuat ruangan sendiri di samping tempat pemotongan ayam yang sangat sempit, berukuran 1,5 × 1,5 meter, beralasakan kertas kardus dan sajadah kumal. Teman-temannya menyebut dengan nada bercanda, bahwa tempat itu sebagai musala wakaf Al Sarip. Mereka ikut salat di tempat itu juga. Kadang Sarip mengajak satu temannya salat berjamaah. Bergiliran. Setelah selesai temannya yang lain pun salat. Dia meminta berjamaah. Lama kelamaan para pekerja potong ayam setiap salat dilakukan dengan berjamaah.

"Alhamdulillah, kita punya masjid di sini. Kita jadi dekat, bertetangga dengan rumah Allah, sehingga setiap kerja akan diawasi,  bukan hanya oleh juragan kita, tapi juga oleh Allah," katanya kepada temannya.

"Diawasi Allah...?" Seorang temannya heran.

"Ya!" Kata Sarip mantap. "Setiap langkah kita diawasi Allah. Tapi selama ini kita mengabaikannya. Karena itu, dengan menetapkan tempat ini sebagai semacam masjid, tempat kita salat berjamaah setiap hari, kita yakinkan bahwa ada Allah di ini. Dia Yang Maha Mengawasi hadir di sini," kata Sarip.

"Seperti pengendara mobil di jalan, kita cenderung melakukan pelanggaran  aturan lalu lintas sebab tak ada polisi di sana. Lalu muncul ide, ada patung polisi di pinggir jalan. Ini cara belajar paling primitif hehehe...." Sarip menertawai dirinya sendiri.




Sejak itu Sarip meminta teman-temanya melayani pelanggan dengan sepenuh hati. Dia mengajak para pekerja memotong ayam dengan tujuan ibadah. Sarip tersentak ketika memberikan anjuran memotong ayam sebagai ibadah. Hatinya terusik. Wajahnya berubah agak kalut. Dia gelisah. Sebab jangan-jangan cara memotong ayam yang selama ini mereka terapkan tidak benar. Tidak syar'i, melanggar ajaran agama. Misalnya tanpa membaca basmalah ketika hendak memotong ayam.

Memotong ayam tidak syar'i artinya mereka telah menjual bangkai kepada pelanggannya. Bagaimana kalau bangkai-bangkai ayam itu dimakan oleh jutaan orang pelanggan warung, restoran, tukang bakso dan soto keliling? Betapa dia akan menanggung dosa yang sangat besar. Dan bukankah ini juga menipu pelanggannya?

Ah, andai saja MUI juga membuat label halal bagi pemotongan ayam, pasti Sarip tidak akan segelisah ini. Tapi, tanpa MUI, dia merasa harus melakukan tindakan agar ayam-ayam yang mereka jual halal. Langkah pertama, dia usul kepada juragannya agar cara memotong ayam dibenahi agar lebih higienis dan syar'i. Sehat dan sesuai ajaran Islam.

"Bukankah sudah ada pelatihan. Dan kau ikut pelatihan itu kan Rip!?" kata juragannya. 

"Tidak ada soal memotong hewan secara syar'i Pak. Hanya teknik memotong agar cepat dan tidak menyakiti hewannya..."

"Ya itu sudah termasuk syar'i kan...?"
"Saya belum tahu ilmunya..."
"Lalu apa mau kamu Rip?"
"Kita tanya Pak Kiai...."
"Ah, nanti kita dimintai  amplop...? Kalo gitu jangan..!."
Pokoknya kita anggap sudah syari yang penting tak ada yang komplain..."

Dilarang juragannya tidak menyurutkan niat Sarip belajar ke sejumlah kiai cara memotong hewan secara syari. Setelah ngaji kilat di beberapa kiai, dia merasa memiliki pengetahuan sedikit soal memotong ayam yang syari. Ilmu itu lalu diajarkan ke teman-temannya. Sejak saat itu mereka pun berusaha menjaga komitmen untuk selalu bekerja sebagai ajang untuk beribadah. Memotong ayam secara islami.




***

Jarum jam menunjuk angka 11 malam. Usai salat tarawih para jamaah masjid hampir tidak ada yang pulang ke rumah. Mereka bertahan di masjid untuk melakukan itikaf. Meski tidak bisa melakukan selama sepuluh hari penuh tapi cukuplah mereka bisa melakukannya di malam-malam ganjil sesuai hadis Nabi SAW.

Menjelang tengah malam, jamaah semakin memenuhi masjid. Ada yang sibuk membaca Al Quran, sebagian lagi melaksanakan salat sunnah, dan  berzikir. Tapi ada juga yang hanya jagongan. Mereka sebagian besar remaja. Mungkin mereka istirahat setelah sejak sore ibadah. Namun memang ada pula yang mendatangi masjid untuk bersenang-senang saja. Ini masih lumayan bagus ketimbang mereka cangkruk di warkop atau bahkan mabuk mabukan. Rekreasi seharusnya diarahkan ke lingkungan masjid.

Sesuai jadwal, tepat pukul 12 malam semua jamaah akan melakukan salat tasbih dipimpin oleh seorang imam. Masjid yang semula terang benderang  berubah redup saat imam bersiap memimpin salat tasbih. Lampu sengaja dimatikan sebagian agar suasananya bisa khusyuk dan khidmat.

"Asshalatu jamiah.....!" suara imam seperti mengundang para jamaah untuk bersiap melakukan salat. Serempak suasana masjid berubah khusyuk. Hening. Suara lirih jamaah melafalkan niat salat tasbih seolah berbisik mesrah kepada Ya Rabbul Izzati. 

Tapi belum sampai imam membaca surat Al Fatihah, tibatiba seseorang bersuara memohon perhatian. Berangsur shaf-shaf yang semula terajut rapi terurai. Sebagian tubuh berbalik. Sebagian hanya berpaling, mencari sumber suara. Imam sejenak menghentikan salat.

"Maaf, bapak ibu jamaah sekalian, ada berit duka," kata suara seorang jamaah. Suara seperti dengung lebah terdengar saat jamaah saling berbisik.

 "Salah seorang jamaah masjid ini, Bapak Sarip,  meninggal dunia secara mendadak, setelah mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju masjid ini. Beliau ingin ikut itikaf, tapi Allah SWT sepertinya berkehendak lain, Pak Sarip dipanggil Sang Khaliq lebih cepat daripada kita semua di sini..."

Semua kaget. Tersentak kabar duka. Di antara kebingungan antara itikaf dan takziyah. Namun kemudian Ustad Ramli bergegas mengajak jamaah lain segera menuju rumah Sarip. Sesampai di rumah duka Ustad memimpin prosesi memandikan jenazah.

"Subhanallah, astaghfirullah...Maha Besar Engkau Ya Allah...segera urus jenazahnya..."




Sejumlah  jamaah segera menyiapkan keperluan memandikan jenazah. Mereka takjub melihat Sarip seperti masih hidup. Jasadnya utuh. Padahal kabarnya dia sengaja  mengebut mengendarai motornya agar bisa mengejar waktu itikaf di masjid. Tapi rohnya lebih dulu dijemput malaikat ketika  tubuhnya dihamtam mobil di tikungan dekat alun-alun, dan terpental ke trotoar. Motornya ringsek. Tapi Sarip tidak terluka. Hanya saja dia tidak bergerak dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

"Saudara-saudara, ini malam 29 Ramadhan. Malam sepuluh hari terakhir yang disebut Kanjeng Nabi sebagai datangnya Lailatul Qadar. Pak Sarip sangat ingin ikut itikaf di malam 29 ini. Dan subhanallah, saya yakin Beliau dipertemukan dengan malam paling mulai itu. Salah satu ciri Lailatul Qadar adalah malam itu, ya insya Allah malam ini, segala  takdir manusia ditetapkan. Mulai kehidupan, ajal, rezeki, dan lain-lain. Saya yakin, kematian Pak Sarip ditakdirkan di malam yang dijanjikan itu. Dan Insya Allah Beliai qusnul qatimah. Amin..."

"Maaf, Ustad, kalau malam ini Lailatul Qadar apa tidak sebaiknya kita segera memakamkan jenazah Pak Sarip lalu kita ke masjid untuk melanjutkan itikaf..."

"Ya, monggo....!"




Pemandangan unik pun menghampar di depan mata. Jamaah terbelah. Sebagian kecil saja orang-orang mengantar jenazah Pak Sarip menuju tempat tidur keabadiannya. Sementara sebagian besar lainnya bergegas ke masjid untuk beritikaf. Tapi entah, apa lailatul qadar kali ini menyambangi masjid itu atau justru di pemakaman tempat Pak Sarip bertemu para malaikat yang menebar berkah bagi penghuni bumi?

Ustad Ramli dan para pelayat takjut saat berjjuta kunang-kunang berarak mengantar jenazah dan menerangi malam. Langit bening. Suasana pun hening. Angin sejenak tak bergerak. Khusyuk bertasbih. Makhluk malam serempak berzikir dalam diam yang menenteramkan. Berdoa untuk manusia-manusia yang menjemput kemuliaan malam  seribu bulan. (*)




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen Ramadhan: Sarip Merindu Malam 1000 Bulan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel