Miskin Syariah Kaya Serakah, Pilih Mana...? Ya, Kaya Syariah, Bro!


Foto: Pixabay

HAJIMAKBUL.COM - Kemiskinan mendekatkan diri seseorang kepada kekufuran. Itu warning Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Na’im:

كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Artinya: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”

Warning itu ditujukan kepada si kaya sekaligus si miskin. Muslim  kaya lebih baik ketimbang yang fakir miskin.  Namun ada syarat. Muslim yang kaya wajib membantu yang miskin sehingga si miskin bisa terangkat derajatnya menjadi kaya. Setidaknya bisa hidup layak sebagai manusia. 

Muslim kaya bisa banyak beramal. Beribadah dengan kekayaannya. Namun bila tidak, muslim kayak tak lebih baik dengan si miskin. Bahkan lebih buruk. Bila ini terus dibiarkan, dunia akan miring. Titik keseimbangan menjadi krusial. Ketidakadilan merajalela. Gawat. 

Mengapa?

Tatanan dunia bisa mirip piramida. Yang kaya berposisi di atas dalam jumlah kecil. Bila tidak ada trickle down effect maka si miskin yang jumlahnya semakin banyak akan melakukan reaksi. Itulah yang kemudian terjadi. 

Rusuh. Cheos. Penjarahan. Pembunuhan. Sejumlah peristiwa sudah dihamparkan di mata kita. Tinggal kita belajar darinya. Yang kaya jangan hanya menumpuk harta dan lupa pada si miskin.

Sedang si miskin jangan bermalas-malasan abai pada kewajiban dunia mencari nafkah untuk keluarga. Saat sudah bekerja keras tapi tetap saja miskin, ujiannya adalah agar tetap istiqomah di jalan Allah SWT. Tidak kufur. Tetap jujur. Berbudi luhur hingga akhirnya tetap memetik makmur. Namun, seperti piramida lagi, jumlah mereka yang mencapai kemakmuran ruhani dalam kemiskinan materi ini posisinya di atas dan  tidak banyak.  Yang banyak adalah si miskin yang mendekati kekufuran tadi. Kelompok ini yang harus dijaga dengan teori keseimbangan dari si kaya mendermakan harta. Bila tidak, bahaya! Bila terlambat terjadi petaka. 

Pada titik ini, semua sudah terlambat. Bahkan, ketika si kaya konglomerat memberikan semua hartanya, si miskin menolak. Mereka hanya mau satu kata: darah! Dan itu sejatinya nyawa. Lalu akankah kita menjadi kaya dengan bertaruh nyawa?

Itulah yang terjadi. Namun tidak untuk mati sia-sia. 

Dalam kaitan untuk menjadi kaya dan tidak kufur inilah kita wajib berbisnis secara baik dan benar.  Bisnis sesuai ajaran Rasulullah SAW. Mencari rezeki yang halal. Bukan menumpuk harta haram.

Hartamu menumpuk, mobil mewah berjajar, makan di restoran mewah, menggelar pengajian di hotel bintang 7 (kelebihan bintang ya?), berumrah bolak balil Makkah - Surabaya, dan banyak lagi gaya hidup kaya raya, tapi duitnya dari suap bin sogokan, korupsi tiada henti, ya jelas saja kamu lebih buruk dari si miskin yang istiqomah berbisnis secara sungguh - sungguh dengan cara halal. Penjual es cao pinggir jalan yang melakukan usaha sesuai tuntunan Rasul, lalu mau bersedekah, rajin beramal, lebih mulia ketimbang konglomerat kontraktor jalan tol, misalnya, yang rajin mark up proyek. Bisnis besar tapi kesasar.


Dalam grup Whatsapp Ngopi Bareng Tendi 02,  Kang Tendi Murti, pemilik grup itu yang juga bos KMO, menulis gagasan menarik. Saya tampilkan utuh untuk dikaji lalu diterapkan dalam kehidupan seharihari kita dalam bisnis.

Ini tulisan lengkapnya:




BISNIS BERKAH VS BISNIS SERAKAH

Beberapa teman sering cerita kalo bisnisnya nggak untung-untung. Bahkan rugi. Padahal sudah pakai ilmu benchmark, ngikutin yang dianjurkan oleh para mentor. Intinya yang mentor ajarkan, dia lakukan.

”Kang Tend, kenapa ya bisnisku gagal terus. Padahal modal yang aku keluarkan nggak tanggung-tanggung, lho. Apa yang dikatakan pakar bisnis selalu aku duplikasi. Tapi anehnya, bisnis bukannya berkembang malah hasilnya ancur-ancuran.”

Hmmm, jujur kalo ada yang nanya kayak gitu, saya juga bingung. Bingungnya karena memang ilmu saya juga masih sedikit perihal bisnis ini dibanding para mentor lainnya. ya karena memang perlu analisis yang mendalam. dari keuangan, dari marekting dan lainnya. buanyaaakkk yang mesti dicek. hahaha.

Tapi belajar dari pengalaman, saya selalu melihat ketika bisnis gagal, yang saya cek pertama kali adalah ada nggak bisnis kita malah bikin masalah dengan Allah? Misal:

-  Ada nggak bersitan di hati yang secara nggak langsung itu adalah kufur nikmat? Misal, “Beuh untung gede nih. Alhamdulillah usaha gue nggak sia-sia.” Padahal yang ngasih rezeki itu Allah. Harusnya disertakan kata "Alhamdulillah" karena Allah masih ngasih rezeki dengan wasilah bisnis kita.

-  Ada nggak aktivitas yang saya lakukan nyakitin orang tua? Misal, karena bisnis, ketika orang tua butuh malah kita abaikan dengan alasan sibuk. Duhh, songong banget orang kayak gini. Ingat doa orang tua itu manjur. Lebih manjur dari jamu manjur. Hehehe.


-  Ada nggak amanah yang belum terselesaikan? Misal, bisnis kita untung. Tapi utang kita tetap nggak dibayar padahal kita sudah mampu untuk membayarnya. Nah, ini bikin bisnis kita seret.

-  Ada nggak hak orang lain yang belum tertunaikan? Misal, kita bisnis di jasa, konsumen kita sudah bayar sesuai syarat dari kita sebagai vendor, eh malah kita lambat-lambatin penyelesaiannya. Nah ini bikin bisnis kita juga oleng.

Atau seperti yang disabdakan nabi Muhammad saw:

”Ada dosa yang tak bisa dihapus oleh pahala shaum dan haji, yakni bersungguh-sungguh mencari yang halal.” 

Dari hadits nabi di atas kita bisa bertanya, ada nggak aktivitas bisnis kita yang menyebabkan rezeki kita jadi nggak halal?
Kalau sudah baca penjelasan di atas, kita bisa simpulkan bahwa hendaklah kita meneliti apa pun dengan detil. 

Bukan melulu tentang teknis bisnisnya, tapi juga tentang hal di luar itu. Seperti yang saya bahas di atas. Mengetahui hukum-hukum yang benar sesuai dengan apa yang diajarkan syariat agama, termasuk perkara bisnis. Jangan sampai, bisnis yang dijalankan selama ini nggak ketahuan halal haramnya. 

Berbisnis itu terkait dengan perbuatan. Kalau proses jual beli dilakukan dengan benar tentu saja akan mendatangkan kemaslahatan. Lain ceritanya kalau berbisnis hanya mengejar keuntungan belaka sehingga secara nggak sadar si pebisnis melupakan cara berbisnis dengan benar itu bagaimana. ini yang namanya pebisnis serakah.

syeremmmmnyaaa, bisa jadi ini yang terjadi di bisnis kita. Sering kali kita berani keluar modal besar, tapi hasilnya zonk sebab kita belum tahu etika bisnis dengan benar. Akhirnya, bukan omzet gede, malah bisnis yang nggak lancar-lancar. 

Lalu, bagaimana yang disebut bisnis berkah dan membawa manfaat? Coba kita cek ciri-cirinya:

-  Meyakini rezeki itu berasal dari Allah. Hasil dari bisnis hanyalah perantara.

-  Bekerja keras tanpa melupakan ibadah.

-  Berbisnis yang halal.

-  Nggak ada kedzaliman atau mengambil hak orang lain saat berbisnis.

-  Jalankan bisnis dengan cara yang baik. Jangan hanya karena mengejar untung rela menyakiti orang lain.

-  Niatkan berbisnis untuk kemaslahatan orang banyak.

-  Bekerjalah sesuai dengan kemampuan.

-  Jangan lupa sedekah.

Pertanyaannya, apakah tanda-tanda di atas sudah kita terapkan saat berbisnis? Kalau sudah, alhamdulillah. Insyaa Allah saya pun sedang berusaha untuk seperti itu. Tapi kalau belum, mari mulai perbaiki niat dan cara berbisnis dengan benar sekarang. 

jangan nunda, kalau bisa diubah segera, kenapa harus menunggu nanti?

Jadilah pebisnis yang mengejar keberkahan, sehingga pada setiap langkahnya nyaman dan tenang. Jangan jadi pebisnis serakah, yang setiap langkahnya nabrak sana-sini. 

Hasilnya? Sudah pasti hilang kenyamanan, hilang perhatian dari yang Maha Pemberi hidup.

Sipp deh ya. Mudah-mudahan bermanfaat.

Sekian,
Tendi Murti

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Miskin Syariah Kaya Serakah, Pilih Mana...? Ya, Kaya Syariah, Bro!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel