Militansi dalam Berdemokrasi



Oleh Imam  Shamsi Ali* 



HAJIMAKBUL.COM- Saat-saat momen politik seperti ini antusias masyarakat begitu sangat tinggi dalam mendukung calonnya masing-masing. Bahkan pada tingkatan tertentu masing-masing pendukung mengalami sebuah perilaku militansi yang tinggi. 

Saya pribadi tidak melihat ini sebagai sesuatu yang salah, apalagi dikhawatirkan. Asal saja militansi itu terbangun di atas semangat positif dan lebih besar bahwa dukungan masing-masing memang diyakini sebagai dukungan calon untuk bangsa, negara dan umat. 





Saya menilai militansi itu menjadi bagian dari “itqaan” (kesungguhan). Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW barsabda: “sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang ketika bekerja, dia bekerja dengan sungguh-sungguh”. 

Karenanya sekali lagi menilai militansi para pendukung tidak perlu dikhawtairkan dan disalahkan. Walaupun memang perlu diingatkan bahwa kesungguhan (militansi) itu tetap harus dijaga keseimbangannya. 

Pertama, kesungguhan tetap fokus pada upaya memenangkan dukungan dan bukan pada menjatuhkan pihak lain. 




Kedua, sikap militansi itu akan terasa ketika idealisme direndahkan. Sebagai Muslim misalnya, saya akan tersinggung ketika keyakinan dan sensitifitas keagamaan saya diusik. 

Ketiga, militansi tidak menghalangi kita untuk mengakui kesalahan, jika memang salah, dan meminta maaf. 

Keempat, militansi juga tidak menghalangi kita untuk memaafkan kesalahan orang lain, jika kesalahan itu tidak berujung kepada kerusakan publik. Khususnya jika orang lain itu meminta maaf. 

Kelima, militansi juga tidak seharusnya disalurkan melalui cara-cara yang tidak sesuai. Hoax, melalui berita baik tulisan maupun video sangat tidak sesuai. Dan masalahnya hal seperti ini, dalam zaman keterbukaan dan kebebasan informasi, seringkali susah diklarifikasi. 





Keenam, militansi itu perlu ditumbuh suburkan hingga selesainya pilihan untuk menjaga pemilu yang jurdil (jujur adil). Sekarang kita dengarkan seruan untuk pemilu damai. Tapi jangan lupa pemilu yang damai itu adalah “akibat”. Ketika pemilu berlangsung secara jujur dan adil maka hasilnya akan damai dan mendamaikan. Karenanya jaga pemilu itu agar tetap jujur dan adil, tanpa kecurangan dan rekayasa.

Akhirnya, semilitan apapun anda ketika pemilu telah berlalu mari salurkan militansi itu untuk tujuan awal dan besar. Yaitu membangun semangat kesungguhan untuk hadirnya Indonesia Raya untuk semua. 

Mungkin tidak salah untuk meminjam istilah Donald Trump “To make Amerika great again”. Bahwa dengan semangat militansi itu kita bangun “a great Indonesia for all” (Indonesia yang hebat untuk semua). 




Semoga Allah membimbing, memberkahi dan memberikan hasil maksimal dari pemilu ini. Dan semoga terpilih pemimpin yang mampu membawa negeri ini menjadi negeri yang makmur dan adil. Indonesia menang.....Amin! 

* Putra bangsa di kota New York, AS.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Militansi dalam Berdemokrasi "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel