Ahli Ibadah Vs Ahli Hisab

Ilustrasi: Pixaybay.com

HAJIMAKBUL.COM - Ustad Nur Fakih sedikit geram melihat sekelompok anak muda duduk sambil ngobrol ngalor -ngidul tidak jelas njluntrungnya di lokasi parkiran masjid. Merokok waswus. Asap mengepul. Kesannya tidak punya sopan santun. 

Sampai adzan Salat Ashar selesai berkumandang,  mereka tetap di sana. Tidak ikut salat berjamaah. Usai salat pun, Ustad Nur menegur mereka.




"Kalau tidak salat, lebih baik tinggalkan masjid ini. Ini tempat ahli ibadah, bukan ahli hisab," kata Ustad Nur Fakih dengan nada tinggi.

Anak muda itu bukannya takut. Mereka bergeming. Tetap waswus. Tetap merokok. "Ini kan di luar masjid, Tad..!."

"Tad...tad...Ini lingkungan masjid. Kalau jagongan sambil merokok, di warkop sana!"

Mata Ustad Nur mendelik. "Bukankah kamu anaknya Haji Sarkawi. Bapakmu ahli ibadah, kamu kok ahli hisab?"

"Halaaaa...Ustad kan bukan ahli hisab, tidak kompetenlah bicara soal hisab."

"Anak mursal, diingatkan malah ngeyel saja. Satpam...!, suruh mereka pindah ke warkop. Jangan di sini!" 

Ustad Nur Fakih ngelonyor pergi sambil bersungut-sungut. Satpam berlari lalu mengusir para ahli hisab itu. Sementara Ustad Nur malah merenung. 

Ustad Nur Fakih merasa tidak serius menegur anak anak itu ketika memakai istilah ahli hisab. Maksudnya, perokok. Namun ketika disandingkan dengan istilah ahli ibadah, kesannya tidak kontradiktif, seperti tujuan yang dia maksud saat memarahi anak anak itu.

Padahal ahli hisab arti sebenarnya bisa mengarah kepada muhasabah. Introspeksi diri. Menghitung antara timbangan kebaikan amal saleh dan keburukan atas dosadosa.

Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. Al Hasyr: 18)

Ibnu Katsir menyebut surat ini menunjukkan pentingnya muhasabah. Guyonan seriusnya manusia itu wajib ahli hisab. Ahli menghitung amal perbuatannya sendiri. Bukan malah njlimeti perbuatan orang lain. Lebih-lebih mudah mengkafirkan sesama muslim.


Allah SWT juga berfirman: "...kemudian sungguh pada hari itu mereka akan ditanya tentang nikmat (yang sudah diberikan kepada mereka di dunia)." (Q.S. At-Takatsur: 8)

Bila melihat ayat ini, Allah SWT adalah ahli hisab. Maha Menghitung. Hasil hisab manusia kurang sedikit saja, Allah tahu. Begitu pula sebaliknya.

Menjelang Bulan Ramadhan, Bulan Paling Mulia Penuh Berkah dan Maghfirah,  yang sebentar lagi tiba, alangkah eloknya bila kita semakin intens menjadi ahli hisab bagi diri kita sendiri. Bukan cangkruk waswus merokok lo ya! Tapi rajin mengkalkulasi amal perbuatan kita setiap hari. Day to day. Bermusahabah di hadapan Allah SWT. Setiap saat.

Syayyidina Umar Bin Khattab pernah berkata: "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat). Dan timbanglah amal kalian sebelum amal kalian ditimbang (di akhirat). Karena sesungguhnya yang paling ringan hisabnya di akhirat adalah mereka yang paling banyak menghisab dirinya ketika di dunia. Dan ingatlah selalu hari kebangkitan, hari dihadapkannya seluruh amal dan tidak ada satu pun yang dapat kalian sembunyikan." (H.R. Tirmidzi)

Ahli hisab di sini jelas menunjukkan kualitas ibadah seseorang. Ahli ibadah ya ahli hisab. Ahli ibadah tanpa ahli hisab biasanya terjebak kepada kesombongan seolah paling rajin beribadah. Paling dekat dengan Allah SWT. Bangga disebut ustad atau kiai. Lalu merasa lebih baik ketimbang umatnya.

Padahal Allah tidak suka demikian. Padahal itu jebatan setan yang merasa tertantang bila tahu ada orang mengaku ahli ibadah. Yang seolah hidupnya tenang dalam naungan Tuhan.

Hidup tenang adalah anugerah Allah. Namun tidak dengan merasa aman dari murka Allah atau merasa lebih mulia, lebih tahu soal agama, dan sejenisnya. Ya, itulah bisikan setan.

Allah SWT berfirman: "Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (Q.S. An Najm: 32)

Saya sendiri berusaha meningkatkan kualitas ibadah. Mulai dari yang standar, berusaha on time salat lima waktu. Namun sulitnya bukan main. Kalau on time, kadang ada motif lain di luar salat itu sendiri, walau sangat kecil. Misalnya, cepat pergi ke masjid pas kebelet pipis mengingat toilet masjid lebih baik ketimbang di tempat kerja. Tak jarang menunda salat jamaah di masjid pas ada teman mengajak jagongan di warung. Padahal, bisa salat dulu lalu jagongan lagi. Ini sama dengan rajin salat karena mertua atau karena pacar juga salat di masjid. Ikhlas memang sulit tapi harus terus dipupuk biar tumbuh subur di hati kita. Semoga!

Selamat menyambut Bulan Mulia Ramadhan 1440 H.

(Gatot Susanto)










Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ahli Ibadah Vs Ahli Hisab"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel