Mengajarkan Puasa Rajab kepada Anak, Menggapai Kemuliaan dari Allah

                                foto: pixabay.com

HAJIMAKBUL.COM - Nurina Adwiya Khalishah, siswi kelas 5 SDN Sidoklumpuk, Sidoarjo, mengawali bulan Rajab dengan puasa selama tiga hari. Puasa Rajab sendiri boleh dilakukan selama satu bulan. Namun boleh dilakukan beberapa hari saja sebab hukumnya sunnah.
 
"Ibu guru meminta para siswa puasa Rajab. Jadi, semua puasa Rajab kecuali yang sedang sakit atau non-muslim. Saya puasa tiga hari saja," kata Nurina, Selasa 12 Maret 2019. Bulan ini Rajab 1440 Hijriyah.

Anjuran ibu guru SDN Sidoklumpuk itu sangat tepat. Selain melakukan ibadah yang kelak bisa memetik buah pahala, para siswa juga bisa terlatih baik secara fisik maupun mentalnya dengan kebisaan berpuasa. Kekuatan fisik dan hati nurani memang bisa digembleng dengan rajin berpuasa. Mulai puasa Senin-Kamis sampai puasa di bulan-bulan istimewa, seperti Rajab ini.

Saat pendidikan agama di sekolah semakin berkurang, sementara anak-anak dengan bebas luluasa mencari pembelajaran melalui media daring internet, peran guru--khususnya di sekolah formal seperti SD, SMP, SMA, maupun di pendidikan non-formal seperti madin atau mengaji Al Quran di musala atau masjid, sangat penting.

Ibu guru madin perlu pula menanamkan kebisaan spiritual semacam berpuasa Rajab kepada siswanya, sehingga tidak hanya mengajarkan membaca Al Quran saja. Lebih-lebih pendidikan informal. Pendidikan pertama dan utama adalah oleh orang tua dan di rumah. "Ibu dan Nenek kebetulan juga puasa Rajab, kalau Bapak tidak," kata Nurina.



Bulan Mulia

Menurut Ustaz Abdul Somad (UAS), Rajab adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah SAW, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim. “Sesungguhnya zaman ini telah berjalan, sebagaimana perjalanan awalnya ketika Allah menciptakan langit dan bumi, yang mana satu tahun ada 12 bulan. Di antaranya, ada empat bulan haram, tiga bulan yang (letaknya) berurutan, yaitu Dzulkaidah, Dzulhijah, dan Muharam. Lalu, Rajab yang berada di antara Jumadil (Akhir) dan Syaban.”

        Baca Juga: Surah al-Ashr Kunci Sukses Kehidupan

Al Quran telah mengisyaratkan bulan-bulan istimewa itu. Lihat, surah at-Taubah ayat ke-36. Firman Allah SWT itu menegaskan, "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram."

"Rajab salah satu bulan mulia yang (jumlahnya) ada empat," jelas Ustaz Abdul Somad seperti dikutip dari Republika.co.id, Selasa (12/3/2019).

Rajab secara kebahasaan berarti ‘menghormati.’ Tidak hanya pada era Islam. Pada masa jahiliyah, penduduk Arab menghormati Rajab, yakni dengan ritual-ritual menyembelih anak unta pertama yang lahir dari induknya. Selama bulan Rajab, perang dilarang. Pintu Ka’bah pun mulai dibuka.

Bulan ketujuh dari penanggalan Hijriah itu mengandung banyak peristiwa bersejarah. Misalnya, Isra Mi'raj Nabi SAW--yang melalui itu turun perintah bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat wajib lima waktu. Perang Tabuk juga berlangsung pada Rajab tahun kesembilan Hijriah. Selain itu, pembebasan Masjid al-Aqsha oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi juga terjadi pada bulan Rajab, tepatnya 27 Rajab 583.

Masih tentang keutamaan Rajab. Rasulullah SAW pernah bersabda:

"Sesungguhnya Rajab adalah bulan Allah yang agung. Kemuliaan dan keutamaannya tidak tersaingi bulan-bulan lainnya. Di bulan ini, diharamkan berperang dengan orang-orang kafir. Adapun Sya'ban itu adalah bulanku. Sedangkan, Ramadhan adalah bulan umatku."

Maka barangsiapa berpuasa sehari saja di bulan Rajab, maka dia akan mendapatkan keridhaan Allah yang sangat besar dan jauh dari kemurkaan-Nya serta tertutup baginya salah satu pintu neraka."

Maka dari itu, lanjut UAS, bulan Rajab juga dapat dianggap sebagai jalan menuju datangnya kemuliaan Ramadhan. "Inilah (awal) persiapan menyambut Ramadhan selama 60 hari ke depan," ujar alumnus Universitas al-Azhar (Mesir) itu.

Karena itu, barangsiapa yang belum melunasi utang-utang puasa Ramadhan, hendaknya segera melunasinya.

Pada hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

 "Bulan Rajab dijuluki al-Ashab (pelimpahan') karena pada bulan ini rahmat Allah dilimpahkan kepada umatku."

Bagaimanapun, menurut UAS, amalan-amalan sunnah hendaknya disemarakkan selama Rajab, sebagaimana bulan-bulan lainnya. Rasulullah SAW sendiri tidak mengkhususkan amalan-amalan tertentu.

"Amalannya tidak diatur Nabi SAW. Bebas saja. Puasa, zikir, membaca Al Quran, sedekah, dan lain-lain," papar peraih tokoh perubahan Republika 2017 itu. (gas)

  

0 Response to "Mengajarkan Puasa Rajab kepada Anak, Menggapai Kemuliaan dari Allah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel