Ketika Para Haji Debat Capres

Foto Antara:
DUA haji capres berdebat Minggu 17 Februari 2019. Tetap menjaga kerukunan.


HAJIMAKBUL.COM - Polarisasi pilihan politik tidak hanya mewarnai warga Indonesia secara umum, tapi juga umat Islam. Wabil khusus, para jamaah haji dan umrah, yang saat pulang ke tanah air membuat perkumpulan haji. Ada yang resmi seperti IPHI alias Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia dan perkumpulan lain. Mereka kemudian membuat grup-grup di media sosial seperti Whatsapp dan Telegram atau Facebook. Tujuannya untuk menjalin komunikasi pasca-berhaji atau umrah. Silaturahim via medsos-lah agar ukhuwah Islamiyah terus terjaga.

Dalam kondisi normal oke-oke saja. Ukhuwah "hajiiyah" atau "umroiyah" berjalan lancar seperti biasa sampai ada yang namanya pemilu yang sering memberi pilu. Sampai ada pilkada yang membuat orang menelan pil kadal, sampai ada pilpres dan pileg, yang membuat orang jadi pilek dan stres.

Grup WA atau Telegram atau Facebook pun jadi ring tinju saling olok-olok soal pilihan politik. Saling memuji dan menghujat jagoannya dan jago lawan. Tentu tidak semua jamaah di grup medsos itu suka. Yang tidak suka politik ini lalu menegur jamaah lain. Namun lebih banyak yang silent majority alias memilih diam. Bersuara tanpa kata-kata sebab dia hanya membatin. Aliran kebatinan ini mayoritas tapi warnanya minoritas.

"Masya Allah, saat berhaji di tanah suci kita kumpul kompak tapi sekarang kok koplak ya? Haji menyatukan, politik menceraiberaikan. Ini bukan karena politiknya, tapi karena kekeliruan dalam berpolitik. Ini yang membuat jutaan haji Indonesia berdoa untuk bangsa dan negaranya tapi mungkin tidak didengar oleh Allah." Begitu kata seorang jamaah yang menganut silent majority ini tapi menggerundel di luar grup medsos.


Perpecahan semakin terasa saat ada even seperti Debat Capres. Pada Debat Capres II Minggu 17 Januari 2019 malam para haji ini saling debat sendiri di grup-grup medsos dan kala pul kumpul nobar. Seperti umumnya simpatisan, mereka memujimuji jagonya. Baik Capres petahana Joko Widodo maupun penantangnya Prabowo Subianto.

Seorang yang netral kemudian berujar,"Kalian di medsos memosting ujaran kebencian pada capres itu apa ada bisarohnya? Onok duite ta? Kok segitu amat menjelek-jelekkan orang lain. Sebaliknya kamu juga memuji setinggi langit jagomu? Apa lantas kalau mereka menang, itu karena caci makimu? Pujianmu itu? Apa mereka juga tahu bahwa kamu sekarang berubah. Dulu alim sekarang jadi hobi mencaci maki demi kemenangannya?" kata si netral ini.

"Ya tidak! Tapi kan kita suka-suka aja. Capres itu gak tegas, gak pantas jadi presiden, antek asing dan aseng."

"Halaa...jagomu bau Orba."
"Sudah! Aku keluar dari grup WA ini. Buyar...buyar... Titik!"

Ada nada kemarahan. Ada nafsu ingin menang. Ada kesombongan. Dan sombong merupakan dosa favorit setan yang dihidangkan kepada manusia. Mengutip tulisan Muhamad Ridwan--Mahasiswa STAIPI Bandung di islampos.com, Syaikh Muhammad al-Ghazali dalam Khuluq al-Muslim mengatakan bahwa Islam memandang suatu pembicaraan dapat terpelihara dari hawa nafsu serta kurangnya berpikir dan pertimbangan (terburu-buru) adalah dengan adanya larangan berdebat. Oleh karena itu, Islam menutup rapat-rapat pintu perdebatan baik mengenai kebenaran ataupun kebatilan. Karena di dalam perdebatan terjadi sesuatu yang sangat menekan jiwa, mendorong perasaan untuk mengalahkan lawan bicara, dan membuat orang suka menyerang orang lain dengan berbagai macam perkataan.

Orang yang berdebat lebih mementingkan “kemenangan” daripada menunjukkan kebenaran. Watak gemar menentang dan mementingkan diri sendiri menonjol dalam bentuk yang sangat buruk, sehingga dalam perdebatan tidak ada tempat atau kesempatan untuk menjelaskan persoalan ataupun ketenangan.

Menurut ulama Mesir ini, Islam memerintahkan orang supaya menjauhkan diri dari perdebatan seperti itu, karena Islam memandangnya sebagai bahaya yang dapat merusak keselamatan agama dan keutamaan budi pekerti.

Rasul Saw. bersabda:

“Barangsiapa meninggalkan perdebatan dalam keadaan keliru, dibuatkan rumah di pinggir surga, dan yang meninggalkan perdebatan dalam keadaan sebagai pihak yang benar dibuatkan rumah di tengah surga. Sedang yang berbudi pekerti baik dibuatkan rumah di surga bagian atas.” (Abu Dawud).

Guru dari Syaikh Yusuf al-Qaradhawi ini mewanti-wanti juga mengenai kemampuan berbicara yang kadang-kadang mendorong orang yang bersangkutan gemar berselisih atau bertengkar dengan orang yang berilmu maupun yang bodoh, sekadar menuruti selera nafsu mengejar kemenangan, mengalahkan lawannya, dan tidak jemu-jemunya berbuat seperti itu. Perdebatan yang menyangkut orang lain niscaya akan melahirkan keburukan; bila menyangkut agama niscaya menodai kebagusan dan menghilangkan kewibawaannya. Islam sangat membenci orang-orang yang cerewet dan ringan mulut seperti mereka itu.

Rasul saw. bersabda:

“Orang yang paling tidak disukai Allah ialah orang yang paling keras melancarkan permusuhan.” (al-Bukhari).


Suara Umat Islam

Jamaah haji yang saling debat kusir di grup medsos itu merupakan korban adu strategi dan adu taktik capres. Menurut DR. MUHAMMAD NAJIB, dalam tulisannya di RMOL, strategi itu ditunjang oleh lembaga survei pilihan, menggunakan _big data_, kemudian mengerahkan pasukan untuk bertarung di dunia maya _(cyber troops). Begitulah upaya dua kandidat pasangan Capres dan Cawapres untuk memenangkan kontestasi Pilpres yang akan di gelar Rabu 17 April 2019.

Untuk menilai bagaimana peta kekuatan keduanya, maka dapat disederhanakan dengan cara membagi medan pertarungannya menjadi tiga wilayah:
Pertama, di media-media resmi seperti TV, surat kabar (harian resmi), sampai media online. Jelas sekali pasangan 01 sangat diuntungkan. Diakui atau tidak, para pemilik media berada pada kubu pertama. Hal ini bisa di konfirmasi dengan pemberitaan dan analisa yang menggunakan diksi dan memberikan narasi positif terhadap berbagai kebijakan pemerintah, serta pembangunan yang dilakukannya selama 4 tahun terakhir.

Kedua, pertarungan di dunia maya. Merujuk pada perdebatan di _Facebook_, _Twitter_, _Instagram_, dan group WA, maka pasangan 02 lebih diuntungkan. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya: Pertama, dunia maya yang cenderung menguras emosi dengan isu-isu sensitif baik terkait suku, ras, maupun agama, pilihan visi politik kandidat 02 nampak lebih populis, jelas dan lugas. Kedua, para pendukungnya lebih homogen secara ideologis. Dengan demikian, pasukannya maupun follower-nya lebih leluasa menyerang, baik dengan data dan fakta objektif, maupun dengan imajinasi yang bisa masuk kategori hoaxes. Ketiga, Sandiaga Salahuddin Uno yang menjadi kandidat Cawapres 02 lebih disukai dibanding KH Ma'ruf Amin yang menjadi Cawapres 01 oleh warga netizen yang di dominasi oleh generasi milenial dan emak-emak.

Ketiga, pertarungan di lapangan. Walaupun pertarungan di dunia maya sangat keras, akan tetapi sejatinya pertarungan di lapangan jauh lebih keras. Dan inilah medan sesungguhnya yang sering disebut sebagai perang darat, untuk membedakan dengan dua medan sebelumnya tang dikenal dengan perang udara. Pertempuran di darat diyakini oleh kedua tim yang berada di belakang kandidat 01 dan 02, sebagai medan yang paling penting dan paling menentukan kemenangan. Dan sampai saat ini, perebutan basis-basis komunitas Islam melalui masjid dan pesantren nampaknya menjadi prioritas keduanya. Hal ini menunjukkan, bahwa keduanya bekerja dengan data dan asumsi yang sama. Siapa yang berhasil merebut hati pemilih muslim, maka merekalah yang akan unggul.

Merujuk pada penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survei independen, maka yang menentukan kemenangan adalah pemilih di Jawa. Hal ini disebabkan oleh jumlah calon pemilih di pulau terpadat di Indonesia ini lebih dari 50% dari calon pemilih secara keseluruhan. Kemudian, jika dipetakan lebih rinci kecendrungan sampai saat ini, Jawa Timur dan Jawa Tengah masih menjadi basis pasangan 01, sementara DKI dan Banten pasangan 02 yang unggul. Jawa Barat yang memiliki calon pemilih terbesar, walaupun pasangan 02 masih unggul, akan tetapi perbedaannya tidak besar sehingga terbuka peluang untuk dikejar. Sebaliknya, bila diakumulasi kecendrungan calon pemilih seluruh Indonesia, maka pasangan 01 masih unggul. Tentu dengan catatan yang tidak boleh diabaikan, bahwa yang belum menentukan pilihan (swing voters) masih cukup besar, sehingga memungkinkan bagi pasangan 02 untuk mengejar.

Karena itu, adu sigap, adu cermat, dan adu cerdas dari baik tim yang berkumpul di Tim Kampanye Nasional (TKN) maupun Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk merumuskan strategi dan taktik dalam memanfaatkan waktu yang tersisa, yakni 58 hari tentu akan ikut menentukan siapa yang akan tampil menjadi pemenangnya.

Namun seperti umumnya pesta lain pesta adalah ajang bergembira ria dan bersenang. Bukan sebaliknya bersusah-susah, meski di dalamnya ada perjuangan individual para calon dan perjuangan kita sebagai bangsa dan negara. Sama dengan haji, sejatinya adalah senang-senang bisa berjumpa di rumah Allah SWT. Mari menikmati kesyahduaannya. Bukan malah sebaliknya, saling dorong, saling sikut, dan ada yang terinjak di lokasi ibadah yang justru Allah menempatkan segala kesenangan di dalamnya. Semua itu karena menusia hobi memproduksi ironi-ironi dalam hidupnya. (gatot susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Ketika Para Haji Debat Capres"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel