Buku, Kafe, dan Rezeki dari Allah



HAJIMAKBUL.COM -
Ini cita-citaku di musim pangsiun ini selain berusaha istiqomah menulis: nduwe warung buku. Bukan perpustakaan lo ya! Terlalu berat istilah ini bagi seorang pangsiunan.

Ya, Warung Bu Gatot saja, tapi ada tempat untuk baca-baca buku. Pelanggan bisa memanjakan kebutuhan fisiknya--makan minum dll--sekaligus menambah asupan pikiran dan hatinya. Buku buku ilmu pengetahuan dan agama.

Pernah aku diajak sohib Nur Fakih ke Gresik. Mampir ke kafe, yang kebetulan seperti yg saya cita citakan itu. Aku terkesan dg suasananya. Sebagian cita citaku ada di sana.

Namun masalahnya butuh biaya lumayan besar. Harus punya warung sendiri, tidak hanya sekadar stan seperti yang sekarang ditempati Bu Gatot di Teras 818. Cita Citata silakan terus bernyanyi, biarkan aku bercita cita sendiri. Dan manusia bercita cita, biar Allah yang mengabulkan.

"Kok enak!?" Kata Bu Gatot. "Tuhan kok dikongkon ngurus warung."

"Lha terus sambat kepada siapa bu Bos? Kepada capres, la wong mereka juga sibuk dg urusan sendiri. Kepada gubernur, mungkin juga lupa sama kita orang ini..."

"Ya, usaha sendiri lo Pak! Lapo kok sambat ke Tuhan urusan warung!"

Itulah yang mulai aku lakukan. Cari cari tempat yg sip. Strategis. Sedikit lega suasanya. Menyiapkan menu yang cocok dg para pecinta buku, sebab kalo dikasih menunya Bu Gatot sekarang kok berat. Cari yg model kekinian. Menu jaman now.

Dan tentu saja menambah koleksi buku.

Yang sekarang ini aku lakukan, baru sebatas dg ikut ikutan jadi dropshipper dari penerbit buku. Semacam agen tanpa toko atau gudang. Tugasnya hanya promosi dan menjual buku. Lumayan. Komisi 20%. Bila tidak laku, ya masuk rak rak buku di warung Bu Gatot. Begitu aja.

"Gak usah muluk-muluk..." kata Bu Gatot.

"Muluk opo? Yo kudu muluk bis kuntul baris bu bos..!"

Celetukan Bu Gatot seperti raskin sak kintal di pundak. Berat di pikiranku. Namun kadang ada hil yg mustahal dalam sebuah cita cita. Unpredictable. Unlogictable ehh....illogical. Unsambel----bukan bermusik berjamaah lo ya, tapi hanya biar gak kepedesan aja.

Sampai Ustadku memberi nasihat seperti ini:

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).”

Jadi aku berprasangka baik bahwa cita citaku pasti terkabul dg campur tangan Allah SWT.

Aku pun jadi ingat pengalaman mustahil beberapa tahun silam. Seorang teman tetiba menawarkan tanah agar aku beli. Dia butuh duit. Setiap hari ditagih rente.

"Sori pren aku gak duwe duit!"

"Ayolah, tolong aku. Bila tidak, aku pasti dikamplengi orang."

"Tak usahakan ya!" Kata "tak usahakan" itu jawaban standar untuk menghindar dari yg sebenarnya. Namun kemudian aku tahu dg mata batin ehhh mata kepala sendiri, dia memang dimarahi orang yang ngutangi itu.

Aku berunding dg Bu Gatot untuk pinjam di bank. Semua persyaratan udah terpenuni. Tapi ndilalah agunan sertifikat tanah saya bermasalah. Aku sudah berusaha, tapi Tuhan tak mengizinkan. Temanku terus mendesak. Tapi aku tak punya uang. Piye ngene iki jal!Tolong bantu cari solusinya ya pelanggan? Eh, pembaca!

Namun akhirnya teman ini sendiri yg memberi solusi. "Wis, tanahku pek en. Tp kalo ada yang nagih utang kamu yg ngurus ya.!

Mak jleb.

Gagal utang bank, berubah ngutang di bank titil. Namun aku harus berprasangka baik pada teman ini. Dan kepada Tuhan tentunya. Jadilah, aku nyauri setiap bank ngintil itu menagih. Bahkan dg pertolongan Yang Maha Menolong sampai lunas. Alhamdulillah.

Cerita ini terjadi jauh sebelum Ustad Nasrullah membangun perumahan tanpa modal dg ilmu Magnet Rezekinya. Juga sebelum buku Ustad Arafat Hijrah Rezeki terbit. Dua buku ini baru terbit. Bahkan untuk Hijrah Rezeki saya diminta penulisnya untuk membaca lebih dulu dalam format pdf sebelum dilaunching. Selamat untuk Ustad Arafat atas terbitnya buku Hijrah Rezeki ya! Semoga laris manis dan berkah. Amiin.

Saya pun berdoa, kelak di warung buku Bu Gatot akan terpajang buku Magnet Rezeki karya Ustad Nasrullah dan Hijrah Rezeki karya Ustad Arafat itu. Amiin! (Gatot Susanto)

Sumber gambar: tripodvisor.com

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Buku, Kafe, dan Rezeki dari Allah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel