Kisah Nda di Persimpangan Jalan

SEJAK peristiwa itu aku selalu gelisah melihat persimpangan. Seperti lakon kematian --bahkan kematian iblis--tak ada seorang pun yang bisa menghindar, begitu pula kematian kecil yang disebut musibah, ujian, atau cobaan. Musibah itu membuat aku galau saat menentukan sebuah pilihan. Ceritanya begini. Kami bertiga--aku, nanang, nuruddin, nur fakih--berkumpul dan ngobrol di warung, sambil merencanakan masa depan. Akhirnya kami putuskan hijrah ke Jakarta untuk mencari rezeki Allah SWT di ibukota. Ini bukan karena di Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Pasuruan, ladang sudah tandus, rezeki sudah diberangus, tapi karena ingin cari pengalaman baru di Jakarta. Maka diputuskan kami bertiga berangkat. Sebelum berangkat, kami sepakat kumpul lagi sambil mematangkan persiapan dan membeli tiket kereta. Kami selalu pakai kereta sebab nanang tidak berani naik pesawat, selain juga faktor keuangan, naik kereta lebih murah. Tapi ternyata, pas hari H pertemuan hari Sabtu, aku harus ke Mojokerto, memenuhi undangan Joko teman kuliah yang lamo tak berjumpo. Secara kebetulan, saat aku hendak ngebel Nda----panggilan akrab Nuruddin---, dia kontak duluan. "Yok opo Nda---panggilan Nda sebenarnya khas Jombang untuk sesama teman, termasuk kepada saya, tapi karena yang suka memanggil itu Nuruddin, dia paling sering dipanggil Nda. Jadi rapat Sabtu iki," katanya via telepon. "Sori Nda gak jadi rapat, aku ke moker. Terus tiket untuk hari Minggu habis--kami semula sepakat berangkat hari Minggu--yang ada Sabtu hari ini, atau Senin, gimana?" Suara Nda di telepon bilang,"Senin aja biar ada persiapan. Kalo gitu aku tak mbenahi plafon rumahku, yang bocor." "Oke, langsung saya belikan tiga ya. Nanang dan aku berangkat dari stasiun Sidoarjo, awakmu berangkat di Pasar Turi...." Nda yang langsung setuju berangkat Senin pun menutup teleponnya. Aku pun setelah beli tiket di alfamart langsung rebahan sampai ketiduran. Tak lama kemudian, Nanang kontak yang membangunkan aku dari tidur. "Waduh, Kakak Tertua--panggilan dia untuk saya--ada kabar duka, Kakak Kedua, Mas Nda, jatuh dari plafon. Tubuhnya menimpa mesin pemanasan kopi---Nda tengah merintis jadi pengusaha Kopi JM "Kedaton"--lalu jatuh lagi berdiri, tulang punggung dan mata kakinya kalo ndak patah ya mblesek Kak. Dia dibawa istrinya ke sangkal putung di Balongbendo, tadi kontak nangis-nangis. Tolong pean kontak lagi," kata Nanang, dengan nada cemas. Aku segera ambil HP, aku lihat ada sms dari Nda memberi kabar serupa. Aku kontak dia, sudah hampir sampai di sangkal putung. Aku pun akhirnya pergi ke Moker dan baru Minggu siang bersama Nanang sambang Nda di rumahnya di Pabrik Kulit Wonocolo Surabaya. Aku lihat kondisinya parah. Dia tidak bisa bangun. Sebab punggungnya patah, tulang kemiran (mata kaki) mblesek. Dokter minta operasi, langsung dicarikan kamar, tapi Nda memilih pergi. Dia bilang,"Aku sekarang dilema. Operasi atau sangkal putung." Akuh sedih mendengarnya. Sedih setidaknya karena dua hal. Pertama, tak bisa disangkal, masalahnya adalah biaya. Saudara-saudaranya sudah siap menanggung biaya operasi, tapi aku tahu Nda tak mau membebani mereka. Tak bisa disangkal Nda mungkin sungkan. Kedua, tak bisa disangkal putung juga, kalau aku tak bisa membantu apa-apa, sebab aku belum gajian. Untuk ke Jakarta saja utang Erfandi Rp 1 juta, yang sampai sekarang belum nyaur. Aku dan nur fakih hanya bisa ngancani ngobrol, supaya tidak stres jadi kembang bayang, karena hanya bisa tidur. Aku sampai menangis dengan ketidakberdayaan ini. Nur Fakih juga memeram duka yang sama. "Awakmu iki apes Nda, duwe konco kok melarat kabeh," katanya. Aku makin sedih saat Nda minta tolong mengantar ke sangkal putung di Tarik, tapi mobilku juga bensin kosong. Tak ada pilihan lain, aku harus minta bantuan Erfandi. Bos Global Media ini kurang akrab dengan Nda, malah setahu aku, tidak sejalan visi jurnalis, bisnis, atau pertemanannya, tapi dia paling cepat sambang Nda saat tahu kabar Nda sakit dari postingan facebook-ku. Dia bawa kru GE sambang Nda. Erfandi malah sediakan mobil dan sopir untuk bisa dipakai Nda. Aku senang, dua orang yang sempat tegang, kembali akrab. *** Malam hari, aku, kaji fat, dan nur fakih sambang Nda di Jombang. Hari Rabu esoknya, dia mau terapi sangkal putung di Perak, tak lagi di Tarik. "Ngene iki, sing nggarahi Gas tok ae. Saat itu kalo jadi rapat Sabtu, Nda pasti gak menek plafon, ndak jatuh," kata Nur Fakih. Ya memang. Kalau saat itu jadi rapat, ya Nda ndak jadi kembang dipan--tempat tidur---seperti sekarang. Padahal, urusanku ke Moker sebenarnya juga bisa ditunda Minggu esoknya sebab tidak terlalu penting, sementara rapat Sabtu persiapan ke Jakarta. Acara ke Jakarta sendiri tetap aku lakukan sama Nanang, tapi hasilnya tidak maksimal. Malah Nanang yang biasanya menggebu cerita sukses dari Jakarta sekarang down, gak berani cerita, apalagi pada Nda. Tambah sedih dituduh Nur Fakih seperti itu. Namun aku sambil guyonan berkilah, "Aku sudah nawari Nda berangkat hari Sabtu, tiket masih ada, aku dan Nanang oke, tapi Nda milih Senin, dan mau ndandani plafon dulu, hayooo....." "Wis rek, ini musibah. Pilihan-pilihan selalu ada risikonya," kata Nda, yang alhamdulillah, sudah bisa duduk dan berjalan pakai kruk. Tapi aku masih selalu gundah saat memilih jalan. Saat berada di persimpangan, jalan yang aku pilih selalu aku suudzoni, jangan-jangan dia memasang perangkap bagiku. Tapi, ah, aku pasrahkan
  • salatku, hidup, dan matiku, pada-Mu ya Rabb, Sang Pelindungku. * T
  • Berlangganan update artikel terbaru via email:

    0 Response to "Kisah Nda di Persimpangan Jalan"

    Post a Comment

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel