Terobosan Haji Menag Lukman: Sistem E-Hajj hingga GPS




MENTERI  Agama mencermati banyaknya jamaah haji yang tersesat di Tanah Suci. Saat 9 hari salat Arbain di Masjid Nabawi saja tercatat ada  1.000 lebih jamaah tersesat. Karena itu Menag memandang perlu membuat terobosan dengan menerapkan  gelang identitas ber-GPS dan terobosan lain dengan adanya sistem e-hajj.


Menag menilai gelang GPS cukup menarik. Penerapannya juga tidak sulit untuk memantau pergerakan jamaah haji. Caranya pada  gelang identitas jamaah haji akan diisi dengan chip khusus GPS. "Semua data bisa kita tanam di situ," kata Lukman saat mengobrol santai dengan wartawan di acara Coffee Morning di Zam-zam Tower, Makkah, Senin (29/9).

Dengan memanfaatkan teknologi, petugas bisa memantau pergerakan jamaah haji. Sehingga bila ada jamaah yang akan tersesat bisa cepat diberi pertolongan. "Artinya bisa memantau kalau ada yang tersesat bisa dilacak," ujarnya.

Untuk menerapkan teknologi ini, Lukman berpandangan, tak perlu modal besar. Cukup menggandeng perusahaan telekomunikasi saja untuk merealisasikan gagasan tersebut.


"Tinggal diberi space untuk logo mereka pasti investor mau. Karena itu bukan sesuatu yang mahal. Itu memudahkan petugas memantau keberadaan jamaah kita," kata Lukman.

Saat ini baru Malaysia yang menerapkan gelang tersebut namun baru pada tahap petugas haji. Menag berharap ke depan untuk Indonesia bisa segera diterapkan."Kita ketinggalan dong. Ini perlu diterapkan ke depan," ujarnya.

Menag juga menyebut akan ada perubahan revolusioner dalam penyelenggaraan haji mulai tahun depan. Dia mencatat setidaknya ada dua perubahan besar. Pertama penerapan e-hajj. Saat ini Pemerintah Arab Saudi sudah melakukan pilot project e-hajj. Selanjutnya  tahun depan sudah dipakai semua negara.


"Sistem haji secara elektronik, semua seragam, sistematis, dan diterapkan untuk semua negara. Semua terdata secara elektronik. Dan itu tidak hanya berlaku untuk Indonesia tapi seluruh dunia. Karena e-hajj ini maka sistem penyelenggaraan haji di Indonesia harus mengalami perubahan ini," kata Lukman.

Perubahan besar juga akan dilakukan, misalnya jaminan akomodasi, katering dan kesehatan jamaah akan ditingkatkan. Katering misalnya jamaah hanya mendapatkan living cost 1.500 riyal selama di Makkah. "Ke depan di Makkah harus jelas, seperti kalau di Madinah, Arafah, dan Mina. Belum lagi pemondokan dan seterusnya," katanya.


Perubahan penting kedua, segera disahkan RUU Pengelolaan Keuangan Haji. Undang-undang ini memisahkan penyelenggaraan haji di Kemenag dan pembiayaan ibadah haji di badan khusus yang ter‎pisah dari Kemenag.
"Jadi itu perubahan yang mendasar juga. Karena pengelolaan haji yang dilakukan sendiri jamaah tidak membayar ke rekening menteri tapi rekening sendiri. Kalau dulu sifatnya dana titipan sekarang sifatnya bukan titipan lagi tapi sistemnya tabungan bagi jamaah. Jadi kalau ada jasa bank ya kembali ke masing-masing jamaah sehingga tidak menimbulkan fitnah dan lainnya," kata Menag.

Jamaah Haji Plus


Sementara itu jutaan umat bagai lautan putih ihram di Tanah Suci. Mereka bergerak mengalir menuju Arafah untuk melaksanakan puncak haji, wukuf, Jumat 3 Oktober.  Jamaah haji reguler langsung bergerak menuju Arafah sebelum waktu Dzuhur. Sedang jamaah haji khusus sering kali memilih tarwiyah dan bersiap  berjalan sejauh 14 km sebelum masuk ke Arafah. Mereka masuk melalui Mina, dan langsung menuju Arafah.


Biasanya sebelum Wukuf, jamaah tarwiyah akan bermalam di Mina.
Meksi tidak memberikan fasilitas, pemerintah tidak dalam posisi melarang jamaah yang akan melaksanakan tarwiyah. Jamaah tarwiyah paling banyak diikuti haji khusus. Hampir 80 persen jamaah yang diberangkatkan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus memilih tarwiyah.
"Betul itu sunnah Rasul tapi karena banyak pertimbangan, sistem haji pemerintah secara resmi tidak memfasilitasi layanan tarwiyah. Namun pemerintah tidak dalam posisi melarang, semua berpulang pada masing-masing jamaah," kata Lukman Hakim saat taaruf dengan ratusan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji di Makkah.


Sebelumnya Menag juga sempat agak kaget kala melihat perbedaan tenda haji reguler dan tenda haji khusus untuk Wukuf di Arafah. Perbedaannya bisa disebut bagai bumi dan langit.

Menteri Agama sengaja melihat tenda haji khusus terlebih dulu saat meninjau persiapan Wukuf di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina, Selasa 30 September 2014 lalu waktu Saudi. Tenda jamaah khusus ini sebetulnya agak jauh dari lokasi tenda haji reguler. Tapi Menag menyempatkan meninjau semua untuk memastikan tidak ada masalah.


Lukman pun melihat tenda haji khusus nan lebih mewah, nyaman, dingin karena ber-AC, karpetnya baru dan terlihat bersih. Tenda ini juga tertutup rapat dengan sekat-sekat seperti kamar. Ada bantal untuk masing-masing jamaah dan beberapa di antaranya disediakan sofa.
Sementara tenda haji reguler yang dilihatnya kemudian, tampak sederhana. Lantainya hanya dialasi hambal yang sebagian sudah terlihat lusuh dan kumuh.


"Saya agak kaget ketika melihat kondisi di tenda PIHK (haji khusus). Kami imbau kepada PIHK bagaimana pun inti Arafah sedapat mungkin menyamakan status sosial. Kalau ada tingkat kenyamanan yang diberikan kepada jamaah haji PIHK sebaiknya tidak terlalu kontras dan tidak menimbulkan kecemburuan," tuturnya.


Sebelumnya, Kepala Seksi Pengendalian Penyelenggara Ibadah Haji Khusus Daker Jeddah, Cecep Nursyamsi, mengatakan, di Arafah, haji khusus akan menempati maktab khusus yang satu maktabnya diisi sekitar 2.000-2.200 orang. Jauh lebih sedikit dibandingkan jamaah haji reguler yang satu maktab dihuni 3.000 jamaah. Untuk kenyamanan itu, biaya yang dikeluarkan masing-masing jamaah berkisar 2.200-6.000 riyal atau Rp7 juta-Rp19 juta.


Maktab adalah kantor atau tempat yang mengatur urusan ibadah haji. Maktab bertugas melakukan pembagian kelompok jamaah haji di setiap muassasah. Di mana tiap-tiap muassasah dibagi dalam beberapa maktab, biasanya setiap maktab mengurusi sekitar 2.000-3.000 jamaah haji.
Jamaah haji khusus dari Indonesia yang sebanyak 13.600 jamaah  menempati maktab 111 sampai 116, dan maktab 75-76.

"Harga paket maktab ini sangat tergantung service yang diberikan oleh maktab dan jarak maktab ke Jamarat," kata Cecep perihal biaya maktab para jamaah 'haji mahal' ini.


Fasilitas yang mereka terima beragam, tentunya lebih mewah. Yang pasti, tidur di atas kasur. Untuk yang termahal dilengkapi sofa. Makanannya pun lebih beragam. Jamaah haji khusus mengeluarkan uang cukup banyak untuk berhaji sesuai paket yang dijual PIHK. Termurah Rp100 juta dan paling mahal Rp250 juta. * gus santo


-

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Terobosan Haji Menag Lukman: Sistem E-Hajj hingga GPS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel