×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Daftar Haji di Jepang, Daftar Sekarang Berangkat ke Tanah Suci Tahun Ini Juga

Thursday, September 9, 2021 | 16:44 WIB Last Updated 2021-09-09T10:32:06Z
Ketua PCI Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) Jepang, Hj. Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum bersama suaminya, Dr. H. Miftakhul Huda, M.Sc, serta dua anaknya.


HAJIMAKBUL.COM - Ketua PCI Muslimat Nahdlatul Ulama (MNU) Jepang, Hj. Anggita Aninditya Prameswari Prabaningrum (Gita), mendapat hikmah saat tinggal di Jepang bersama suaminya, Dr. H. Miftakhul Huda, M.Sc, serta dua anaknya. Hj. Gita sekarang tinggal di Nagoya, Aichi Prefecture, Jepang. Ternyata banyak pula WNI di kota ini. Begitu pula warga nahdliyin, banyak tinggal di Nagoya.


Salah satu hikmahnya adalah dia bisa lebih mudah berhaji bila dibanding dengan di Indonesia. Bila di Indonesia harus menunggu lama--waiting list bisa mencapai 26 tahun untuk DKI Jakarta--, di Jepang tidak demikian. Bahkan, daftar tahun ini bisa berangkat tahun ini pula.   


"Berhaji dari Jepang pun mudah. Bisa langsung berangkat di tahun yang sama. Syaratnya harus punya residence card Jepang. Hal ini yang sering ditargetkan para perantau WNI sebelum bfg (back for good/pulang kembali) ke Indonesia," kata Hajah Anggita kepada Hajimakbul.com, Kamis 9 September 2021.


Karena itu, kata Gita, begitu ada kesempatan, dia dan sang suami tak mau menyia-nyiakan kesempatan berangkat haji dari Jepang. Biasanya mereka menyisihkan anggaran sendiri untuk ini. 


"Kami sendiri alhamdulillah diberi kesempatan berhaji pada 2018. Untuk pemandunya menggunakan bahasa Jepang dan Inggris serta lebih cenderung mandiri saat di Tanah Suci," katanya.


Nikmat dari Allah SWT itu yang membuat Gita memantapkan diri untuk berdakwah di Jepang. Melakukan syiar Islam rahmatan lil alamin sesuai dengan ciri khas Nahdlatul Ulama (NU). Apalagi dia seorang ketua Muslimat NU di Jepang. Apa pun kesulitannya hidup di negeri orang, harus menyempatkan diri untuk berdakwah.


"Saya lebih suka menyebutnya sebagai "tantangan" berdakwah, karena saya yakin sekali Allah SWT menakdirkan kami sekeluarga tinggal di Jepang bukan hanya sekadar tinggal merantau. Tetapi ada misi Allah di baliknya. Saya merasa harus menyebarkan ajaran-ajaran Islam secara ramah kepada warga di sini," katanya. 


Seperti contoh, kata dia, ketika dirinya mau shalat di luar ruangan, Gita mengambil wudhu dan menggelar alas di koen (taman umum, Red.). Orang Jepang di sekitar tempatnya sholat mungkin melihatnya aneh. 


"Apalagi komat-kamit sendiri baca doa hehe... Tapi kalau kita percaya diri sebagai umat muslim dan tentunya tetap taat pada peraturan yang berlaku (tidak mengganggu yang lain, Red.), maka mereka pun akan terbiasa dengan suasana tersebut," katanya. 


Setiap membeli produk makanan atau minuman di Jepang, pasti mencari restoran atau toko halal. "Kita akan mengecek daftar kandungan di balik kemasannya. Hal ini sudah biasa dilakukan. Kadang memakan waktu sendiri walaupun sudah pakai aplikasi kamera di Google Translate. Untuk itu, kita harus menghafal kanji bahan-bahan yang haram dan memungkinkan menggunakan bahan tersebut," katanya. 


Begitu pula saat hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. "Tidak ada perayaan umum seperti di tanah air. Tidak ada libur. Jadi, jika hari raya jatuh pada hari kerja, maka kita bisa izin dari kantor untuk shalat dulu paginya ke masjid, lalu kembali ke kantor. Kalau diperbolehkan lebih lama jamnya, kita bisa makan-makan dulu di Wisma KBRI atau masjid-masjid yang membuka perayaan. Tapi pandemi ini tidak ada dulu acara semacam itu," katanya. (gas)

×
Berita Terbaru Update