×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pekerjaan Muthowif yang Menjanjikan & Syarat Profesionalnya

Saturday, March 18, 2017 | 09:47 WIB Last Updated 2017-03-22T23:48:57Z


HAJI dan umroh membuncahkan beragam diversifikasi bisnis dan profesi. Bukan hanya di Tanah Suci, tapi juga di Tanah Air. Salah satunya profesi sebagai muthowif alias pemandu jamaah haji atau umroh.




Sebagian besar muthowif yang ada di tanah Al Haram adalah orang Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri Arab, khususnya di Arab Saudi. Misalnya muthowif jamaah umroh dari ATRIA Tours & Travel bernama Husin yang tinggal di Makkah.

Husin merupakan pemuda asal Bangkalan Madura yang baru setahun tinggal di Tanah Suci. Profesinya sebagai muthowif dilakukan di sela-sela belajar agama di seorang guru yang tak disebutkan namanya. Dia tak menyebut pula pendidikan formal tempatnya belajar. Yang jelas, dari profesi ini, dia bisa hidup dan membiayai pendidikannya plus membantu keluarga di Madura.

Selain itu, baginya, profesi ini sungguh menyenangkan, sebab dia bertemu banyak kalangan dari tanah air. Mulai jamaah yang berasal dari pelosok desa hingga pejabat dan ulama. Karena itu dia harus pandai berkomunikasi hingga menguasai materi umroh dan haji dengan baik, mahir berbahasa Arab, pintar berbicara di depan jamaah, serta piawai strategi lain dalam berkomunikasi. Selain itu, tentu saja, berlaku santun, mengingat jamaah haji atau umroh dari Indonesia ngugemi sopan santun ini.


Secara umum muthowif harus menguasai banyak hal mengingat jamaah haji maupun umroh dari beragam latar belakang tadi. Kejadian-kejadian tak terduga sering dialami, misalnya jamaah sakit, jamaah kesasar atau keluar dari rombongan, jamaah tidak disiplin, dan rewel, yang kadang bisa mengundang emosi. dalam kaitan ini kesabaran menjadi sangat penting. Apalagi rombongan yang dibawa dalam jumlah besar, di mana kadang mencapai 100 lebih jamaah. Tapi biasanya bila jumlah rombongan besar akan dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing ada pemandunya.


Tapi tidak jarang pula ada muthowif yang tidak sabar sehingga sering cekcok dengan jamaah. Tentu hal ini harus dihindari mengingat tugas muthowif memang melayani dan membimbing jamaah. Bila ada jamaah yang rewel, karena tidak mengerti, harus diberi pengertian dengan penjelasan yang baik, bila ada jamaah yang sombong, sok tahu--misalnya karena sudah pernah berhaji atau umroh--harus tahu pula bagimana caranya agar bisa gayeng guyub dengan jamaah lain. Mungkin joke-joke segar dan cerdas, apalagi joke-joke yang Islami, dibutuhkan dalam situasi ini.

SECARA UMUM MUTHOWIF HARUS MEMPERHATIKAN:


1.   Sigap saat melakukan penjemputan jamaah. Khususnya saat tiba di Bandara    Madinah atau
      Jeddah dari Tanah Air. Ini beda bila muthowifnya memang     berasal dari Tanah Air. Sebagian
      muthowif tidak berani masuk bandara    mengingat mereka bukan ke Saudi menggunakan visa
       kerja, sehingga mudah    dikenali dan berisiko ditangkap, tapi tetap harus dicari cara agar jamaah
       tidak sampai kebingungan ketika sampai bandara. Apalagi ketua    rombongannya tidak tahu soal
       imigrasi dan lain-lain.


2.    Dalam kaitan itu, muthowif harus terus standby. HP harus selalu on call, aktif 24 jam.

3.    Bersikap santun kepada jamaah, apa pun keadaan mereka.
4.    Gaya busana dan perilaku Islami, sopan dan tidak lebay.
5.    Mengumpulkan dan menyimpan pasport jamaah dengan baik.
6.    Sigap melakukan koordinasi dengan petugas check-in di bandara hingga membawa jamaah
       sampai hotel.
7.    Membantu petugas Check_in dalam Mengawasi, mengecek, dan menghitung jumlah koper
       jamaah setiap Check-in dan check-out di hotel.
8.    Menemani dan mengantar jamaah sholat fardlu, dan makan terutama di hari pertama.
9.    Membagikan air mineral kepada jamaah setiap malam ke kamarnya.
10.    Menyiapkan dan membagikan snack kepada jamaah di setiap rute perjalanan
11.  Menguasai sejarah Makkah & Madinah.
12.  Menguasai materi umrah dan tidak memaksakan khilafiyah yang  mu'tabar di kalangan para
       ulama' kepada jamaah.
13.  Mengetahui keabsahan hadits-hadits yang disampaikan, dan tidak menyampaikan
       hadits/keutama'an/kisah yang palsu.
14.  Tanggap dengan semua permasalahan yang terjadi di lapangan.
15.  Menampung , responsible dan menyikapi kritikan jamaah dengan baik.
16.  Bersedia membantu jamaah jika membutuhkan bantuan.
17.  Menelepon sopir bus sehari sebelum perjalanan.
18.  Menekankan kepada jama’ah untuk memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


a.     Memakai kalung identitas setiap keluar dari hotel.
b.     Setiap kali keluar mengunci kamar dan menitipkan di receptionis.
c.     Waspada di tempat-tempat yang berdesak-desakan terutapa pada para pengemis
        karena di antara mereka adalah pencopet.

18.  Segera melapor ke handling jika ada permasalahan di lapangan.

×
Berita Terbaru Update