Muslim Milenial Perlu Terjuni Bisnis Startup Haji-Umrah



HAJIMAKBUL.COM - Umat Islam sepertinya harus ada yang mendapat tugas terjun ke bisnis startup. Pasalnya bila tidak, pasti akan dikuasai umat lain dan umat Islam lagi-lagi hanya akan menjadi pasar. Hanya menjadi objek yang menerima apa saja produk yang dihasilkan umat lain. 

Kekhawatiran itu mengemuka dalam diskusi di media sosial WhatsApp komunitas Haji dan Umrah di Surabaya. Salah seorang anggota memposting begini:

"Innalillahi.....Bersiaplah.. Non Muslim terjun di umrah digital. Dua Unicorn RI Tokopedia dan Traveloka Bangun Startup Umrah Digital."

"Diijinkan dan difasilitasi oleh pemerintah untuk ambil Pasar 4 juta jamaah umroh yg sebelumnya dikelola 3000an perusahaan travel se-Indonesia. Pasar 800 T yg tadinya di bagi 3000an travel nanti bisa dimonopoli hanya 2 Unicorn tersebut."

"Ibadah ritual umat Islam diurusi oleh nonmuslim. Bukti pemerintah kita sudah bertekuklutut oleh kapitalis. Rezim ini mau enak dan untung sendiri dari Unicorn tersebut tanpa memperhatikan dan membangun kekuatan ekonomi rakyat."

"Bila para kapitalis Taipan terus menguasai ekonomi Indonesia tanpa dibatasi oleh pemerintah maka suatu saat pribumi hanya jadi kacung di negeri sendiri.'

Namun kemudian anggota lain meluruskan informasi tersebut. Begini postingannya:


"Itu persepsi yg salah, ustdaz. start up unicorn itu fungsi plat form. Bukan penyelenggara. Dan Asosiasi (asosiasi biro umrah) sedang berbenah utk menyediakan start up unicorn serupa  yg memang dibutuhkan utk menyesusaikan kebutuhan di era digitalisasi ini."

Begitulah, seharusnya memang umat Islam tak hanya cemas dengan kehadiran teknologi digital yang harus diakui banyak dikuasai umat lain, tapi harus segera menangkap peluangnya. Bukan hanya itu, harus pula menjadi market leader. Menguasai teknologi sekaligus pasarnya sebab pasar muslim sangat besar.

Saat meresmikan Halal Center Jatim di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Kota Malang Minggu 14 Juli 2019, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa dia kaget ternyata Jepang--negeri dengan muslim minoritas--sudah menerapkan kebijakan produk halal dengan baik.

Bagi Jepang, hal ini tentu bukan soal keyakinan agama tapi lebih karena faktor pasar muslim yang sangat besar mendatangkan devisa bagi negara.

Muslim banyak melancong ke Jepang dan karenanya membutuhkan produk halal di negeri Sakura tersebut. Sementara Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar, justru lemot merespon masalah produk halal ini. Salah satunya bisa dilihat dari cara penyembelihan hewan konsumsi, khususnya ayam, yang dikonsumsi dalam jumlah sangat besar, masyarakat muslim di Indonesia. 

Saat ini resto siap saji terkenal dibanjiri umat Islam yang menyantap ayam. Juga resto dengan menu ayam yang lain. Tapi apa benar ayam yang kita makan di sana halal? Setidak lihat sertifikasi halal dari MUI yang biasanya ditempel di resto. Namun banyak juga yang tak halal. Mengapa?

Ya, pemotongan ayam hanya dilakukan ala kadarnya. Sekadar dilukai lehernya lalu disiram dengan air panas. Tanpa melihat aturan dalam aqidah Islam yang wajib membaca basmalah sebelum melakukan penyembelihan, misalnya. Tanpa membaca basmalah, ayam potong itu sama halnya bangkai.

Hal serupa terjadi pada produk layanan haji dan umrah. Masih banyak masyarakat yang umrah diperlakukan biro-travel nakal dengan tidak baik. Para jamaah keleleran tak terurus selama perjalanan umrah, masih sering terjadi. Baik di tanah air maupun di tanah suci.

Dalam kaitan inilah kemajuan teknologi harus diadopsi untuk memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah umrah maupun haji. Jamaah bisa mendaftar dengan mudah, memangkas birokrasi, memendekkan jarak yang jauh untuk mengurus keperluan haji dan umrah, hingga biayanya pun bisa lebih murah. Lebih dari itu juga bisa memantau perkembangan prosesnya sehingga memberi kepastian dan kenyamanan serta keamanan.

Salah satunya dengan startup tadi. Saat ini Kementerian Agama sudah merintisnya. Aplikasi Haji Pintar bisa diunduh di playstore.

Startup berupa aplikasi umrah juga sedang disiapkan agar memudahkan calon jamaah. Begitu pula organisasi penyelenggara haji dan umrah sedang mematangkan aplikasi untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan haji atau umrah. (Gatot Susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Muslim Milenial Perlu Terjuni Bisnis Startup Haji-Umrah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel