Pengajian Isra' Mi'raj di Masjid Al-Ikhlas Bluper Sidoarjo, Kiai Khusen Ajak Ambil Ibrah Kisah Siti Masyitoh




HAJIMAKBUL.COM - Pengajian Isra' Mi'raj di Masjid Al-Ikhlas, Perumahan Bluru Permai, Sidoarjo, dipadati masyarakat di sekitar wilayah Bluru Kidul, Minggu 14 April 2019 malam. Jamaah pengajian di masjid ini bergeming mengikuti taushiyah KH Khusen Ilyas dari Mojokerto meski hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Para jamaah yang tidak berada di bawah tenda bergeser saat turun hujan untuk ngumpul di bawah naungan tenda yang cukup luas.

Dalam kesempatan itu, KH Khusen Ilyas, pengasuh pondok pesantren yang sederhana di Karangnongko, Mojokerto, yang setiap acara pengajiannya dibanjiri umat dari seluruh daerah di Indonesia ini, memberi taushiyah soal ibrah dari kisah Siti Masyitoh dan Firaun. Kisah ini, mungkin, sudah banyak didengar oleh para jamaah, tapi pemaparan Kiai Khusen tetap menarik perhatian masyarakat, sebab diberi sentuhan ilmu pengetahun modern, seperti kisah penemuan jasad Firaun, yang disebut pula sebagai Ramses II.

Ramses yang Agung/Ozymandias--bahasa Inggris, Ramesses II--adalah firaun Mesir ketiga yang berasal dari dinasti ke-19. Orang ini sering dianggap sebagai firaun terbesar dan terkuat dalam sejarah Mesir Kuno, hingga menyebut dirinya sebagai tuhan.





Firaun sendiri bukan nama melainkan gelar bagi raja-raja di Mesir kuno. Soal firuan di zaman Nabi Musa masih terjadi perdebatan. Sebagian orang menyebut bukan Ramses II, melainkan Merneptah (1232-1224 SM), putra dari Ramses II. Tapi itu tidak masalah sebab ilmu pengetahuan tidak mutlak sebab yang mutlak hanya satu: Allah SWT.


Kiai Khuses menjelaskan, ketika Rasulullah SAW berisra mi’raj, Beliau mencium aroma sangat harum. Nabi SAW pun penasaran. Lalu beliau menanyakan kepada Malaikat Jibril apakah gerangan aroma harum itu?

Malaikat Jibril pun menjawab, itu adalah wangi dari makam seorang perempuan salihah bernama Siti Masyitoh dan anak-anaknya. Perempuan ini memegang teguh kebenaran dan keimanannya kepada Allah SWT.

Kiai Khusen selanjutnya menceritakan sejarah singkat Nabi Musa AS, firaun, hingga Nabi Musa yang di-"kintir"-kan ke laut akhirnya bertemu lagi dengan ibundanya dan Siti Masyitoh. Kisah yang mengharukan. Penuh hikmah. Kisah perempuan yang tidak takut mati demi imannya kepada Allah SWT, Nabi Musa, dan Kitab Taurat.

Bukan hanya siti Masyitoh, ada perempuan shalihah lain, yakni Siti Aisyiah, istri dari Firaun. Saat itu Siti Masyitoh bertugas mengurus anak Firaun. Dan ketika Nabi Musa kecil diambil anak oleh istri Firaun, bertemulah dia dengan Siti Masyitoh. Selain itu, ada Hazaqil, pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh untuk kemudian dihanyutkan di sungai menuju laut.

Hazaqil juga menjadi orang kepercayaan Firaun. Ia menikah dengan Siti Masyitoh. Suatu hari terjadi perdebatan sengit antara Firaun dengan Hazaqil. Firaun kala itu menjatuhkan hukuman mati kepada ahli sihir yang menyatakan beriman kepada Nabi Musa. Keputusan tersebut ditentang keras oleh Hazaqil.

Sikap tersebut membuat Firaun curiga. Jangan-jangan Hazaqil selama ini beriman pula kepada Nabi Musa. Atas sikap Hazaqil itu, Firaun juga mengganjarnya dengan hukuman mati. Hal itu tak membuat Hazaqil takut. Ia tetap yakin Tuhan yang diimani-Nya tidak ada yang lain, kecuali Allah. Bukan bosnya, si firaun sombong bin congkak itu.

Suami Siti Masyitoh ini ditemukan meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tangannya terikat di pohon kurma, tubuhnya penuh dengan tusukan anak panah. Masyitoh sangat sedih melihat kondisi suaminya. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah. Ia pun berkeluh kesah ke istri Firaun, Siti Aisyiah.

Aisyah pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya sabar. Namun, dia bisa membaca isyarat dari Siti Masyitoh yang beriman kepada Allah. Di akhir nasihatnya, Aisyiah mengatakan bahwa selama ini dia juga beriman kepada Allah, tapi menyembunyikan di hadapan suaminya.

Sepeninggal suaminya, seperti biasa, Masyitoh menjalankan tugasnya sebagai perias putri Firaun. Ada kisah sepele, tapi berdampak besar. Gara-gara sisir yang terjatuh, akhirnya terungkap jati diri Masyitoh. Saat itu Masyitoh sedang menyisir rambut anak Firaun. Tiba-tiba sisir dalam genggamannya terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya refleks mengucap, ‘’Bismillah.’’

Ucapan itu membuat anak Firaun terkejut. “Apakah ucapan yang kamu maksud adalah bapakku,” tanya anak Firaun. Siti Masyitoh dengan jujur mengatakan bahwa maksud kata itu ialah Tuhan sesungguhnya, bukan ditujukan untuk Firaun. “Yaitu Rabbku, juga Rabb ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah,” katanya.

Jawaban itu membuat anak Firaun tersinggung, berarti ada Tuhan lain kecuali bapaknya. Anak Firaun itu mengancam melaporkan keyakinan Masyitoh tersebut kepada bapaknya. Masyitoh tidak gentar, karena ia yakin Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Firaun.

Laporan anaknya membuat Firaun murka. Ia tidak menyangka, pengasuh anaknya adalah pengikut Nabi Musa. Masyitoh dipanggil lalu ditanya oleh Firuan, “Apakah benar apa yang disampaikan anakku? Siapakah Tuhan yang engkau sembah selama ini?’

Masyitoh tidak mengelak tuduhan itu. Dengan tegas dia mengatakan, ‘’Betul, Raja yang lalim. Bahwa tiada tuhan selain Allah yang sesungguhnya menguasai alam dan isinya.’’





Jawaban itu membuat Firaun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan minyak mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya. Pemandangan itu disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke minyak panas, Masyitoh diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih; dia dan dua anaknya selamat jika mengakui Firaun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Firaun.

Namun Siti Masyitoh tidak gentar terhadap ancaman Firaun. Ia tetap yakin Tuhan yang sesungguhnya hanyalah Allah, bukan Firaun, raja yang zalim itu. Pendirian Masyitoh semakin mempermalukan Firaun. Raja kejam itu memerintahkan pengawal segera melemparkan Masyitoh bersama anak-anaknya ke dalam minyak mendidih.

Kisah ini disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa, “Firaun memerintahkan melemparkan anak Masyitoh satu per satu di hadapan ibunya hingga yang terakhir bayi yang sedang menyusu dalam pelukan Masyitoh.’’

Ibu mana yang tega menyaksikan satu per satu anaknya tergerus minyak panas. Ketika giliran bayi terakhir akan dimasukkan tembaga panas, Masyitoh sempat ragu. Kekuasaan Allah menciptakan bayi itu tiba-tiba bisa bicara, “Jangan takut dan sangsi, wahai ibuku. Karena kematian kita akan mendapat ganjaran dari Allah SWT, dan pintu surga akan terbuka menanti kedatangan kita.”

Riwayat lain, bayi Masyitoh meyakinkan ibunya, “Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya kita dalam pihak yang benar. Wahai ibu masukanlah, karena sesungguhnya siksa dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.’’ (HR Ahmad).

Kekuatan anaknya membuat keraguan Masyitoh hilang. Dengan yakin dan ikhlas kepada Allah, Ma syitoh membaca, “Bismillahi tawakkal tu ‘alallah wallahu akbar.’’

Siti Masyitoh dan bayinya terjun ke minyak mendidih. Ajaib, begitu minyak panas menggerus raga orang-orang istiqamah itu, tercium wangi yang sangat harum dari dalam kuali.

Allah telah membuktikan kepada hamba-hamba-Nya yang istiqamah. Ketika Masyitoh dan anak-anaknya dilemparkan satu per satu ke periuk, Allah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka sehingga mereka tidak merasakan panasnya minyak mendidih.

Tulang belulang Masyitoh bersama anak-anaknya dikubur di suatu tempat hingga mengeluarkan wangi yang sangat harum. Aroma itu tercium oleh Rasulullah SAW ketika perjalanan Isra' Mi’raj. “Itulah kuburan Masyitoh bersama anak-anaknya,’’ kata Malaikat Jibril.


Kisah Jasad Firaun


Dalam kesempatan itu, Kiai Khusen juga menjelaskan soal penemuan jasad Firuan oleh mahasiswa Inggris yang melakukan studi di Mesir. Para mahasiswa ini berada di Laut Merah yang airnya surut justru ketika musim hujan dan melimpah ketika musim kemarau. Para mahasiswa sempat ragu melihat dan mengambil jasad itu atau meneruskan perjalanan keilmuannya.





Mereka lalu memutuskan, bila jasad itu biasa-biasa saja, tentu saja tidak perlu untuk diketahui, apalagi diambil. Namun, bila jasad itu luar biasa, maka wajib bagi mereka untuk mengambilnya sebagai bagian dari penemuan ilmiah yang juga sangat luar biasa.

Mereka lalu memutuskan melanjutkan perjalanan dan akan kembali ke lokasi penemuan jasad Firaun tersebut. Dan benar, saat kembali dari perjalanannya, mereka masih menemukan jasad itu. Jasad yang menghitam dan jelek. Namun, tidak hancur sebagaimana hukum alam, setiap jasad makhluk hidup lama kelamaan akan hancur dilibas alam. Penemuan itu pun membuat gempar dunia ilmu pengetahun. Ahli sejarah, antropologi, dan ahli-ahli lain yang terkait, berkumpul membahas penemuan itu. Mereka bingung. Ragu. Apa benar jasad itu raja diraja yang paling kesohor di dunia itu. Sampai ada Ulama memberitahukan kebenarannya melalui Al Quran, pada Surat Yunus ayat 92 yang artinya:

"Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."

Ayat Al Quran ini membuat Prof. Dr. Maurice Bucaille yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian mumi firaun tersebut--terperangah. Kaget. Ternyata, Al Quran sudah tahu lebih dulu ketimbang mereka. Ya, Nabi Muhammad SAW, yang tentu saja karena diberi tahu langsung oleh Allah SWT, lebih tahu dari para ilmuwan mana pun di dunia ini. Wallahu 'alam.


(Gatot Susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengajian Isra' Mi'raj di Masjid Al-Ikhlas Bluper Sidoarjo, Kiai Khusen Ajak Ambil Ibrah Kisah Siti Masyitoh "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel