Doa Perang Badar, Qunut Nazila, dan Pilpres 2019





HAJIMAKBUL.COM - Sejarah Islam berkaitan tanggal 13 Maret kemarin tercatat adanya Perang Badar. Pertempuran besar antara umat Islam menggempur kaum kafir yang terjadi di Lembah Badar.

Dan inilah perang pertama yang dilakukan umat muslim setelah hijrah ke Madinah. Peristiwa yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriyah ini dipimpin langsung oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Perang Badar kembali mengemuka pada ingatan publik ketika mantan artis Neno Warisman memakai nama peperangan paling fenomenal ini pada 2 Februari 2019 lalu. Saat itu dia membaca doa puitif mengambil inspirasi dari doa Nabi Muhammad  SAW kala menghadapi Perang Badar. Neno pun mendapat kritikan lantaran menyamakan Pemilu 2019 dengan Perang Badar.

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) misalnya. Gus Mus menilai  puisi mengutip doa Perang Badar yang dibacakan oleh Neno Warisman itu akibat sikap politik berlebihan hingga membuatnya lupa akan sejarah perang Badar.

Doa Perang Badar, kata ulama yang juga sastrawan dan seniman lukis ini, dibaca Nabi Muhammad dalam keadaan kepepet.  Saat Nabi terdesak. Nabi Muhammad yang memimpin sekitar 300-an pasukan harus berhadapan dengan musuh yang berkekuatan seribu lebih pasukan tempur.  

Nah,  situasinya mungkin hampir sama dengan Perang 10 November 1945 di Surabaya. Arek-Arek Suroboyo menghadapi pasukan kafir Sekutu yang bersenjata tempur canggih. Jumlahnya juga besar. Terlatih di medan peperangan. Sementara arek-arek Suroboyo tidak. Mereka dari kalangan apa saja yang begitu mendengar seruan jihad langsung mau bertempur di Surabaya. Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari seakan doa bagi mereka menggempur Sekutu.

Kembali ke pendapat Gus Mus soal Perang Badar, saat seribu pasukan itu bisa mengalahkan 300-an pasukan Nabi Muhammad, maka tak akan ada lagi yang menyembah Allah. Hal itu berbeda dengan Pemilu di Indonesia. Mengapa?

Sebab, Pemilu itu lima tahunan saja. Lebih dari itu  hanya ada di Indonesia. Padahal kita tahu manusia yang menyembah Allah tidak hanya di Indonesia. Mereka ada di Pakistan, India, Malaysia, Arab Saudi, Mesir. Banyak yang menyembah Tuhan.

Namun Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah  itu menolak  memberikan penilaian atas puisi doa Perang Badar yang dibacakan Neno.  Gus Mus mempersilakan jika ada yang menilai itu merupakan karya sastra. 

Setali tiga uang, Mantan Ketum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) sebelumnya juga mengkritik puisi Neno. Menurut Beliau, doa dalam bentuk puisi yang dipanjatkan Neno dengan membawa nama Tuhan ke ranah pemilu tak tepat. Apa yang dilakukan Neno, bagi Buya Syafii, adalah perbuatan biadab.

Namun Neno yang juga Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mengaku tak mau mendengar anggapan bahwa puisinya biadab. Neno hanya mendengar hal-hal yang baik.

 "Nggak, aku nggak mau dengar. Aku hanya mendengar hal-hal yang baik, yang positif gitu," kata Neno.

Polemik membahas sebuah isu wajar saja. Asal tidak menghujat. Neno mungkin menganggap situasi menjelang Pilpres April 2019 sekarang ini sangat genting dalam kaitan masa depan umat Islam. Dan itu juga wajar.

Beda Pandangan

Masing-masing individu tingkat sensitivitasnya terhadap suatu keadaan berbeda. Apalagi beda dalam pandangan politik. Bagi Neno, situasi sekarang gawat sebab musuh politiknya sudah sangat tidak seimbang. Rival politiknya, versi Neno, sudah menggurita kekuasaannya sehingga sulit dikalahkan bila tanpa pertolongan Allah SWT. Misalnya tuduhan soal pengusaan atau monopoli media massa, pengerahan aparatur negara, dan BUMN.  Sebaliknya kubu Neno malah dijegal.

Sikap ini, seperti kata Gus Mus, sah saja disebut berlebihan. Lebay. Namun Gus Mus dinilai terlalu arif melihat politik rivalitas yang kadang memang berlebihan. Yang dramatis. Hampir tidak ada peristiwa politik yang tidak berlebihan. Tidak dramatis. Bahkan di tingkat RT sekalipun.

Apalagi bila peristiwa politik itu diangkat  untuk ditampilkan dalam acara pembacaan puisi di atas panggung, di mana tentu ada dramatisasinya, ada sastranya, dan lain-lain. Panggung politik  harus ada kemasan agar menarik perhatian masyarakat mengingat politisi butuh menarik simpati masyarakat. 

Yang mungkin perlu diluruskan apakah sikap Neno dilarang agama atau tidak? Dalan kaitan peran ulama, apakah mengamini doa Neno dilarang atau tidak? Dan apakah sikap berlebihan Neno juga menunjukkan penilaian Gus Mus bahwa agama melarang doa semacam itu? 

Saya sendiri melihat tidak ada yang salah dalam doa Neno sebab masyarakat---meski tidak semua---merasa cemas dengan kondisi menjelang Pemilu. Bahkan sebagian takmir masjid sudah meminta agar jamaahnya membaca qunut nazila.

Seperti kita tahu Qunut nazilah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW selama sebulan ketika kehilangan para sahabatnya di Bi’r Mu‘anah. Qunut nazilah ini dibaca sebelum sujud pada rakaat terakhir di setiap shalat wajib lima waktu guna menghadapi situasi yang sulit. Musibah politik tengah terjadi di negara ini. Karena itu sebagian jamaah masjid, musala,  sudah mengamalkannya. 

Doa yang juga dipanjatkan kepada Allah agar bangsa Indonesia diberi kemenangan dalam menghadapi situasi ruwet, perang politik, meski dalam skala kecil tapi tetap saja menguras energi dan sumber daya lain,  yang diciptakan oleh warga Indonesia sendiri.

Saya kira bangsa Indonesia harus berdoa setiap saat menjelang Pemilu ini. Lebih-lebih yang sekarang sedang umrah di tanah suci. Doa mereka yang tengah berada di tanah suci Makkah dan Madinah seharusnya lebih ditingkatkan. Lebih khusyuk. Supaya Allah menolong bangsa ini melewati masa krusial Pemilu 2019.

Hari-hari ini calon jamaah haji juga sedang melakukan aktivitas manasik. Sempatkan pula untuk berdoa di sela-sela aktivitas manasik haji sebab momen itu juga penting. Saatnya jamaah haji dan umrah berbuat untuk bangsa dan negara. Bila tidak bisa terlibat langsung dalam proses politik, tentu bisa dengan doa. Sejata umat Islam yang ampuh itu doa.

Boleh saja berdoa agar capresnya menang. Agar calegnya terpilih. Namun jamaah haji dan umrah harus pula berdoa agar proses politik pemilu berjalan aman. Lancar. Damai. Kita bisa selalu hidup rukun. Meski beda tapi tetap bersama.

Dan semoga doa kita dikabulkan oleh Allah SWT hingga bangsa Indonesia aman tenteram dan damai rakyatnya semakin sejahtera siapa pun yang nanti terpilih sebagai pemimpin negara ini. Amiin! 

(gatot susanto)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Doa Perang Badar, Qunut Nazila, dan Pilpres 2019"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel